Periskop.id - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah mencapai titik kritis saat konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memasuki hari ketujuh.
Perang ini tidak lagi hanya menjadi urusan negara yang bertikai, melainkan telah memicu guncangan ekonomi hebat bagi negara-negara di seluruh dunia, khususnya di kawasan Asia.
Kondisi semakin memburuk setelah Iran secara resmi melakukan blokade terhadap Selat Hormuz pada pekan ini.
Langkah ini menjadi pukulan telak bagi stabilitas energi global mengingat Selat Hormuz merupakan jalur urat nadi pengiriman energi dunia. Tercatat, sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia melintasi jalur ini.
Bagi pasar Asia, ketergantungan terhadap jalur ini jauh lebih besar, karena 80% minyak yang dikirim ke benua kuning tersebut harus melewati selat tersebut.
Blokade ini membuat ekonomi terbesar di Asia kini kesulitan mengamankan pasokan energi mereka.
Perhatian masyarakat internasional kini tertuju pada ketahanan energi nasional masing-masing negara, terutama mengenai seberapa lama cadangan minyak strategis mereka mampu bertahan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri jika pasokan bahan bakar minyak (BBM) tersendat total selama masa perang.
Cadangan minyak strategis atau Strategic Petroleum Reserve (SPR) menjadi indikator krusial dalam menentukan berapa hari sebuah negara dapat menjalankan ekonominya tanpa adanya impor minyak mentah.
Perbandingan Ketahanan Energi
Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber, terdapat perbedaan signifikan mengenai ketahanan cadangan minyak di antara negara-negara Asia dan Australia. Jepang berada di posisi paling aman dengan cadangan yang mampu mencukupi kebutuhan hingga lebih dari delapan bulan.
Sebaliknya, negara-negara berkembang seperti Indonesia dan Vietnam berada dalam posisi yang lebih rentan dengan jumlah cadangan yang hanya cukup untuk kebutuhan kurang dari satu bulan.
Berikut adalah rincian perkiraan ketahanan cadangan minyak strategis per negara:
| Negara | Cadangan Minyak Strategis (Perkiraan Hari) |
|---|---|
| Jepang | 254 hari |
| Korea Selatan | 208 hari |
| China | 200 hari |
| India | 74 hari |
| Thailand | 61 hari |
| Filipina | 60 hari |
| Australia | 34 hingga 36 hari |
| Indonesia | 20 hingga 23 hari |
| Vietnam | 15 hari |
Tinggalkan Komentar
Komentar