Periskop.id - Pada Sabtu (7/3), Ali Larijani, pejabat keamanan nasional tertinggi Iran, muncul di televisi negara untuk memberikan pernyataan yang penuh peringatan kepada Amerika Serikat (AS) dan Israel. Larijani menegaskan bahwa meskipun Amerika Serikat terjebak dalam konflik dengan Venezuela, Iran tidak akan membiarkannya begitu saja. 

Menurut Larijani, AS harus menerima kenyataan bahwa mereka tidak lagi memiliki hak untuk menyerang Iran.

“Kami tidak akan membiarkannya sendirian. Dia harus membayar atas apa yang telah dia lakukan,” katanya dan dengan nada mengancam.

Namun, yang lebih menarik bukan hanya bahasa yang agresif itu, tetapi juga strategi yang disampaikan oleh para pejabat Iran, yang memberi gambaran lebih dalam tentang tujuan Iran dalam menghadapi pertempuran ini dan dampaknya bagi seluruh kawasan. 

Iran kini berusaha memperpanjang perang ini, menutup Selat Hormuz, serta mendesentralisasi komando militernya untuk menghambat ambisi AS dan Israel yang ingin menggulingkan rezim Iran.

Dalam wawancara dengan On Point di stasiun radio WBUR, Vali Nasr, Profesor Studi Timur Tengah dan Urusan Internasional di Johns Hopkins University, memberikan wawasan mendalam tentang apa yang terjadi di dalam Iran. 

Nasr menilai bahwa pernyataan-pernyataan seperti Larijani menunjukkan bahwa Iran tidak hanya bertahan dengan kuat, tetapi juga yakin bahwa mereka mampu melanjutkan perlawanan dalam jangka panjang. 

Menurut Nasr, meskipun Iran menghadapi pembunuhan pemimpin-pemimpin utamanya, sistem pemerintahannya yang terdesentralisasi dan kuat membuat rezim ini tetap mampu bertahan dan melanjutkan perjuangan.

“Ini adalah tanda peringatan bahwa meskipun telah terjadi pemenggalan kepemimpinan negara, pembunuhan pemimpin tertinggi, dan komandan Pengawal Revolusi, rezim Iran memiliki kemauan dan kemampuan untuk terus berperang dalam jangka panjang dan bahwa tekanan justru ada pada Amerika Serikat, bukan pada mereka,” jelas Nasr.

Seperti yang telah terlihat sebelumnya, meskipun Iran kehilangan banyak pemimpin, mereka telah mengorganisir pemerintahan mereka sedemikian rupa sehingga jika satu pemimpin jatuh, ada pemimpin lain yang siap menggantikannya.

Pertahanan Mozaik (Mosaic Defense) Iran

Nasr juga menjelaskan bahwa strategi Iran kini dikenal sebagai “pertahanan mozaik” (mosaic defense) atau “pemerintahan mozaik,” yang berarti meskipun terdapat upaya penghilangan para pemimpin Iran, sistem mereka tetap berfungsi dengan baik. 

“Ada jaringan pemimpin dan pengambil keputusan di Iran, di IRGC, di pemerintah, di birokrasi, yang secara kolektif membuat keputusan untuk menjalankan pemerintahan dan melanjutkan perang. Jadi, kita melihat bahwa Iran tidak terhenti dalam membalas serangan terhadap AS dan Israel, dan juga dalam mengelola situasi domestik yang sangat sulit,” tambah Nasr.

Konsep pertahanan mosaik didasarkan pada anggapan bahwa dalam menghadapi kekuatan militer besar seperti AS atau Israel, Iran dapat kehilangan komandan senior, fasilitas militer penting, jaringan komunikasi, atau bahkan kendali pusat. Meski demikian, sistem pertahanan negara tetap harus mampu beroperasi.

Pendekatan ini menekankan bahwa tujuan utama bukan hanya melindungi Teheran atau pemimpin negara, tetapi memastikan proses pengambilan keputusan tetap berjalan, unit tempur tetap aktif, dan perang tidak berakhir hanya karena satu serangan besar.

Dengan kata lain, militer Iran dirancang untuk menghadapi perang panjang, bukan konflik yang singkat.

Melansir Al Jazeera, Selasa (10/3), strategi pertahanan mosaik merupakan konsep militer yang dipelopori oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), terutama di bawah arahan Mohammad Ali Jafari selama masa jabatannya (2007–2019).

Inti dari doktrin ini adalah desentralisasi. Alih-alih mengandalkan satu pusat komando yang berisiko lumpuh total akibat serangan musuh, Iran membagi struktur pertahanannya ke dalam lapisan-lapisan regional yang bersifat semi-otonom.

Seiring berjalannya waktu, meskipun kondisi politik di dalam negeri Iran menghadapi banyak tekanan, baik dari pemberontakan rakyat pada Januari 2023 maupun serangan-serangan militer dari Israel dan AS, Iran semakin solid dalam mempertahankan kebijakan mereka. 

Bahkan, meski dihadapkan dengan ancaman terhadap integritas nasional mereka, Nasr menjelaskan bahwa rakyat Iran, meskipun tidak sepenuhnya mendukung rezim, kini bersatu di bawah ancaman eksternal yang lebih besar, yaitu ancaman perang dengan AS dan Israel.

Perang Asimetris dan Ketahanan Nasional Iran

Nasr melanjutkan dengan menjelaskan bahwa Iran menggunakan taktik asimetris untuk bertahan melawan serangan AS. 

"Ini adalah strategi yang diterapkan Iran setelah Amerika Serikat menginvasi Irak, dan mereka menyaksikan bagaimana Tentara Irak tidak mampu bertahan melawan militer Amerika yang mencoba bertempur dalam bentuk perang klasik," jelasnya. 

Menurutnya, Iran memahami bahwa untuk bertahan dalam perang yang tidak menguntungkan, mereka harus menggunakan metode yang berbeda. Alih-alih bertempur dalam pertempuran konvensional, Iran memanfaatkan ketidakseimbangan kekuatan dengan melibatkan strategi perang asimetris, yang terbukti efektif dalam menahan serangan besar-besaran dari AS.

Sebagai informasi, melansir Britannica, perang asimetris adalah strategi dan taktik tidak konvensional yang diterapkan oleh suatu kekuatan ketika kemampuan militer pihak yang berperang tidak hanya tidak setara, tetapi begitu berbeda secara signifikan sehingga mereka tidak dapat melakukan serangan yang sama terhadap satu sama lain.

Perang gerilya, yang terjadi antara pasukan yang hanya bersenjatakan ringan dan tentara konvensional, adalah contoh dari perang asimetris. 

Taktik teroris, seperti pembajakan dan pemboman bunuh diri, juga dianggap sebagai perang asimetris, baik karena biasanya melibatkan kelompok yang lebih kecil dan lebih lemah menyerang kelompok yang lebih kuat, maupun karena serangan terhadap warga sipil pada dasarnya adalah perang satu arah. 

Perang antara negara yang mampu dan bersedia menggunakan senjata nuklir dengan negara yang tidak akan menjadi contoh lain dari perang asimetris.

Hal ini berbeda dengan perang simetris, di mana dua kekuatan memiliki kekuatan militer, sumber daya, dan mengandalkan taktik serupa.

Nasr juga mencatat bahwa meskipun banyak bagian dari kekuatan militer Iran dihancurkan, termasuk posisinya di Suriah dan kekuatan udara mereka, Iran telah mempersiapkan strategi baru. 

Dengan mengalihkan fokus mereka pada pasar energi global dan mempersiapkan penutupan Selat Hormuz, Iran berusaha memengaruhi ekonomi dunia untuk memaksa AS dan Israel menerima kenyataan mereka. 

Nasr, menambahkan bahwa Iran memiliki cadangan minyak yang besar untuk dipergunakan.

“Iran telah lama menyimpan cadangan minyak yang sangat besar, mungkin hingga 80 juta barel minyak dalam tanker tidak hanya di Teluk Persia, tetapi juga di laut lepas di Samudra Hindia, dll. Karena meskipun mereka tidak bisa mengekspor banyak minyak, untuk menjaga sumur mereka berjalan, mereka harus terus memompa minyak,” jelasnya.

Dalam konteks ini, Nasr mengungkapkan bahwa Iran memahami kekuatan ketahanan nasional mereka. Mereka siap menanggung biaya jangka panjang dari konflik ini, seperti yang mereka lakukan dalam Perang Iran-Irak. 

"Orang-orang Iran, sejak perang 1980-an ketika mereka berperang dengan Irak, tahu persis bagaimana bertahan dan melakukan perlawanan besar serta bertahan melawan kemungkinan yang lebih besar," tambah Nasr, mengingatkan bahwa meskipun dampak perang ini sangat besar, Iran percaya bahwa rakyat mereka akan mendukung pertahanan negara mereka, bukan untuk ideologi, tetapi untuk kelangsungan bangsa mereka.

Namun, Nasr juga mengingatkan bahwa ancaman terhadap ketahanan Iran juga datang dari dalam. Pemerintah harus berusaha untuk menjaga ketahanan rakyat Iran dalam menghadapi tekanan ekonomi dan militer yang semakin berat. 

Dalam hal ini, Nasr menyatakan bahwa meskipun ketegangan di dalam negeri dan perbedaan pendapat antar-rakyat Iran jelas ada, strategi untuk mempertahankan negara dari ancaman eksternal akan menguatkan rasa nasionalisme dan solidaritas di dalam negeri.