Periskop.id - Tidak semua orang harus berjalan di jalur yang sama pada waktu yang sama pula. Lebaran seharusnya menjadi momentum emas untuk mempererat tali silaturahmi dan saling memaafkan, bukan justru menjadi ajang untuk saling membandingkan pencapaian hidup.

Hari Raya Idulfitri bagi sebagian besar masyarakat Indonesia identik dengan momen kebahagiaan. Lebaran adalah waktu terbaik untuk kumpul keluarga, menikmati hidangan khas yang menggugah selera, dan saling memaafkan satu sama lain. 

Namun, di balik kemeriahan tersebut, terselip sebuah fenomena yang bagi sebagian orang justru menimbulkan kecemasan mendalam.

Momen berkumpul ini sering kali berubah menjadi situasi yang tidak nyaman. Hal ini biasanya dipicu oleh keharusan bertemu dengan kerabat yang jarang ditemui, atau ketakutan menghadapi pertanyaan-pertanyaan pribadi yang bersifat menyerang privasi saat berkumpul di ruang tamu.

Mengapa Lebaran Bisa Terasa Menegangkan?

Pada dasarnya, banyak orang datang ke acara silaturahmi dengan rasa rindu dan niat tulus untuk mengetahui kabar satu sama lain. Namun dalam praktiknya, rasa ingin tahu tersebut kadang melewati batas dan berubah menjadi pertanyaan yang terlalu personal. 

Topik-topik sensitif seperti masalah pekerjaan, progres kuliah, status pernikahan, hingga rencana memiliki anak sering kali menjadi "menu wajib" yang ditanyakan oleh keluarga besar. 

Bagi mereka yang sedang berjuang di fase tersebut, pertanyaan ini bisa terasa sangat mengganggu karena menyentuh area privasi yang sangat sensitif.

Dampak Psikologis dan Ekspektasi Sosial

Guru Besar Bidang Ilmu Psikologi Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Abdul Mujib, membernarkan bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak memahami esensi mudik, sehingga yang harusnya untuk bersilaturahmi, justru jadi ajang validasi dan adu pencapaian.

’’Dengan mudik bisa silaturahim. Mudik bukan untuk pamer, tapi mudik harus share and care (berbagi). Terakhir, spiritual, spiritualnya sehat. Maka niatkan mudik untuk ibadah,” jelasnya, seperti dikutip oleh NU Online Banten, Rabu (26/3/2025).

Jika interaksi semacam ini terjadi terus-menerus, dampaknya tidak bisa disepelekan. Hal ini dapat memicu kecemasan yang berlebih, menurunkan rasa percaya diri secara drastis, bahkan membuat seseorang cenderung menarik diri dan menghindari pertemuan keluarga di momen Lebaran berikutnya.

Tips Menghadapi Situasi Sulit

Agar momen Idulfitri tetap berkesan tanpa harus merasa tertekan, ada beberapa cara sederhana yang bisa dipraktikkan untuk menjaga ketenangan diri:

Fokus pada Hal Positif: Alihkan perhatian pada aspek-aspek menyenangkan yang bisa dinikmati, seperti bertemu dengan sepupu yang dirindukan atau sekadar menikmati kelezatan opor ayam dan kue kering khas keluarga.

Siapkan Jawaban Singkat: Jika pertanyaan sensitif mulai muncul, tidak perlu merasa terintimidasi. Jawablah dengan tenang dan singkat. Anda bisa menggunakan kalimat sakti seperti, "mohon doanya saja," untuk menutup celah perdebatan lebih lanjut.

Ambil Jeda (Self-Boundary): Ketika Anda mulai merasa kewalahan atau overwhelmed dengan suasana yang ada, tidak ada salahnya mengambil waktu sejenak. Menjauh sebentar ke area yang lebih tenang dapat membantu Anda mengatur kembali napas dan emosi.

Pada akhirnya, penting bagi kita semua untuk menyadari bahwa setiap individu memiliki garis waktu atau perjalanan hidup yang berbeda. Tidak semua orang harus berjalan di jalur yang sama pada waktu yang sama pula. 

Lebaran seharusnya menjadi momentum emas untuk mempererat tali silaturahmi dan saling memaafkan, bukan justru menjadi ajang untuk saling membandingkan pencapaian hidup.