Periskop.id - Upaya untuk memperkecil kesenjangan gender di kawasan Asia Tenggara nampaknya masih menghadapi tantangan besar pada level akar rumput.
Sebuah studi global mengungkapkan bahwa mayoritas responden di Indonesia dan Malaysia masih memegang teguh pandangan tradisional mengenai peran perempuan dalam rumah tangga, meskipun partisipasi perempuan dalam dunia kerja terus didorong.
Melansir laporan South China Morning Post pada Senin, 23 Maret 2026, studi yang dilakukan oleh Ipsos bersama Global Institute for Women’s Leadership di King’s College London ini menempatkan Indonesia dan Malaysia di posisi teratas dalam hal kepatuhan istri terhadap suami.
Dominasi Nilai Tradisional di Indonesia dan Malaysia
Hasil survei menunjukkan bahwa 66% responden di Indonesia dan 60% di Malaysia setuju dengan pernyataan bahwa “istri harus selalu menaati suami”. Angka ini merupakan yang tertinggi di antara 29 negara yang menjadi objek penelitian.
Tidak hanya soal ketaatan, dominasi laki-laki dalam pengambilan keputusan juga masih sangat kuat. Sebanyak 67% responden di Indonesia dan 58% di Malaysia sepakat bahwa suami seharusnya memiliki keputusan akhir dalam hal-hal penting di rumah tangga. Studi ini melibatkan lebih dari 23.000 orang di berbagai negara, termasuk Singapura, India, Amerika Serikat, Inggris, hingga Brasil.
Mohd Faizal Musa, peneliti dari Institute of the Malay World and Civilisation, Universitas Kebangsaan Malaysia, menilai temuan ini tidak mengejutkan mengingat kuatnya norma budaya Timur dan ajaran Islam di kedua negara. Namun, ia memperingatkan agar tidak melihat fenomena ini hanya dari kacamata Barat.
“Masyarakat Asia Tenggara, khususnya di dunia Melayu, pada dasarnya kompleks dan tidak dapat dipahami sepenuhnya hanya melalui satu narasi atau asumsi,” ujarnya.
Faizal mencontohkan sistem adat perpatih di Malaysia yang justru menekankan garis keturunan ibu, menunjukkan bahwa dinamika gender di kawasan ini bersifat berlapis dan sangat kontekstual.
Menariknya, meskipun pandangan domestik masih tradisional, kedua negara menunjukkan keterbukaan terhadap kemajuan karier perempuan. Melissa Yoong, profesor asosiasi sosiolinguistik di University of Nottingham Malaysia, mengamati adanya fokus yang timpang dalam kebijakan kesetaraan gender.
“Kebijakan kesetaraan gender sebagian besar berfokus pada pemberdayaan ekonomi perempuan, dengan perhatian yang lebih sedikit pada perubahan pandangan tentang peran laki-laki dan relasi gender melalui reformasi sosial dan hukum,” ujarnya.
Saat ini, Indonesia menargetkan partisipasi angkatan kerja perempuan mencapai 70% pada tahun 2045. Sementara itu, Malaysia telah meluncurkan inisiatif nasional untuk membekali 100.000 perempuan dengan berbagai keterampilan hingga tahun 2030.
Hal ini menciptakan situasi di mana masyarakat mungkin mendukung perempuan menjadi pemimpin di kantor, namun tetap mengharapkan mereka menjadi sosok yang penurut di rumah.
Anomali di Jepang dan Korea Selatan
Hasil yang kontras justru datang dari Jepang dan Korea Selatan, dua negara yang selama ini sering dikritik karena sistem patriarki yang kaku. Di Jepang, hanya 7% responden yang setuju istri harus menaati suami, sementara di Korea Selatan angkanya hanya 9%.
Kyung Hee Ha, profesor asisten di North Carolina State University, menjelaskan bahwa pandangan pribadi individu di negara tersebut mulai menjauh dari sistem institusional yang ada.
Meskipun Jepang dan Korea Selatan masih memiliki skor rendah dalam Indeks Kesenjangan Gender Forum Ekonomi Dunia (masing-masing peringkat 118 dan 101), individu di sana tampaknya sudah tidak lagi menginternalisasi norma ketaatan istri secara pribadi.
Reaksi Balik (Backlash) Terhadap Feminisme
Studi ini juga menangkap adanya fenomena global di mana laki-laki, terutama dari generasi muda, mulai merasa terancam oleh gerakan kesetaraan gender. Sebanyak 57% laki-laki Gen Z setuju bahwa laki-laki kini mengalami diskriminasi.
Melissa Yoong menjelaskan bahwa sebagian laki-laki muda merasa tertinggal oleh perubahan ekonomi dan sosial.
“Akibatnya, sebagian laki-laki muda yang merasa tertinggal oleh perubahan sosial dan ekonomi mungkin menyalahkan feminisme atas kesulitan mereka dan tertarik pada gagasan untuk kembali ke norma gender tradisional dan nilai keluarga,” tambahnya.
Di Singapura, 64% responden merasa upaya hak setara bagi perempuan sudah cukup. Tim peneliti Campus Sexual Misconduct in a Digital Age mencatat bahwa maskulinitas yang dilembagakan melalui wajib militer seringkali membuat kesetaraan gender dipandang sebagai permainan "zero-sum" atau ancaman bagi laki-laki.
Daftar 10 Besar Negara Teratas: "Istri Harus Taat Suami"
Secara rinci, berikut Adalah 10 negara teratas yang masyarakatnya menilai istri harus taat terhadap suami:
| Peringkat | Negara | Persentase Setuju |
|---|---|---|
| 1 | Indonesia | 66% |
| 2 | Malaysia | 60% |
| 3 | India | 52% |
| 4 | Afrika Selatan | 46% |
| 5 | Turki | 29% |
| 6 | Thailand | 28% |
| 7 | Singapura | 25% |
| 8 | Amerika Serikat | 23% |
| 9 | Brasil | 21% |
| 10 | Kolombia | 20% |
Tinggalkan Komentar
Komentar