periskop.id - Seniman asal Inggris, Banksy, yang selama ini dikenal anonim, sekarang muncul dugaan bahwa identitas aslinya telah terungkap. Nama pria asal Inggris disebut-sebut sebagai kandidat kuat.
Investigasi yang dirilis pada pertengahan Maret 2026 mengungkapkan bahwa Banksy pernah ditangkap polisi di Manhattan pada tahun 2000 saat tengah menggambar di papan iklan.
Temuan lain dari Reuters juga menunjukkan keterkaitan nama David Jones dengan aktivitas Banksy, termasuk perjalanannya ke Ukraina untuk membuat mural di tengah reruntuhan akibat perang pada akhir 2022.
Seniman jalanan yang selama ini dikenal penuh misteri ini kerap menjadi sorotan lewat karya-karyanya, terutama mural yang menyuarakan isu sosial.
Karyanya nggak hanya ramai diperbincangkan, tapi juga diburu kolektor dan berkembang menjadi bagian dari budaya pop yang digemari anak muda.
Sejak mulai dikenal sebagai seniman grafiti di Bristol, Inggris, sejak 1990, identitas asli Banksy nggak pernah diketahui publik.
Siapa di Balik Nama Banksy?
Banksy merupakan seniman jalanan, aktivis politik, dan juga sutradara film asal Inggris yang dikenal luas berkat identitasnya yang tetap anonim. Sejak muncul pada awal 1990, sosoknya masih menjadi misteri dan terus memicu berbagai spekulasi.
Karya-karya Banksy telah dikenal luas di seluruh dunia, menghiasi dinding, jalan, sampai jembatan di beberapa titik negara.
Beberapa karya terkenal Banksy antara lain Girl with Balloon, The Flower Thrower, dan Love Is in the Bin yang sempat menarik perhatian dunia karena terpotong sendiri saat dilelang.
Karier Banksy berawal di Bristol pada periode 1990 sampai 1994 sebagai seniman grafiti independen saat ia tergabung dalam DryBreadZ Crew (DBZ) bersama Kato dan Tes.
Di lingkungan seni bawah tanah Bristol, Banksy banyak dipengaruhi oleh kolaborasi erat antara seniman dan musisi, termasuk 3D dari Massive Attack, Nick Walker, dan Inkie.
Pada periode yang sama, ia juga bertemu dengan fotografer Steve Lazarides yang kemudian berperan sebagai agen sekaligus membantu memasarkan karya-karyanya.
Dari periode tersebut, lahir salah satu karya terkenalnya, mural The Mild Mild West (1997) yang menggambarkan boneka teddy melempar molotov ke arah polisi antihuru-hara di Stokes Croft, Bristol.
Karyanya menggabungkan humor dengan kritik sosial-politik, jadi pesannya gampang dipahami dan terasa luas dampaknya.
Gaya Banksy ditandai oleh gambar sederhana yang ikonik dan dipadukan dengan frasa singkat, menampilkan subjek seperti tikus, kera, polisi, tentara, serta anak-anak, sering kali dengan tema perang, kapitalisme, otoritas, dan ketidakadilan sosial.
Banksy juga melebarkan kiprahnya ke dunia film dengan menyutradarai dokumenter Exit Through the Gift Shop yang pertama kali tayang di Sundance Film Festival 2010 dan kemudian masuk nominasi Academy Award 2011 untuk kategori Best Documentary Feature.
Kenapa Identitas Banksy Dirahasiakan?
Banksy bukan sekadar nama, melainkan simbol perlawanan yang memilih tetap anonim. Justru di balik rahasiaannya, suaranya terdengar semakin kuat.
Ia bukan hanya seniman jalanan, tetapi juga sosok yang menyuarakan ketimpangan sosial dan berpihak pada mereka yang telah terpinggirkan.
Mark Stephens, salah satu pengacara lama Banksy, melalui surat kepada Reuters menyampaikan keberatannya atas laporan investigasi tersebut.
Ia memang tidak secara tegas membantah nama-nama yang diungkapkan, tapi meminta agar temuan itu tidak dipublikasikan secara lebih rinci.
Mengingatkan bahwa pengungkapan identitas justru berpotensi membahayakan keselamatan sang seniman sekaligus mengurangi nilai dari karya-karyanya.
Menurut Stephens, selama bertahun-tahun Banksy telah menjadi target perilaku obsesif, ancaman, sampai tindakan ekstrem. Meski nggak merinci bentuk ancaman tersebut, ia menegaskan bahwa upaya membuka identitas Banksy justru dapat merugikan publik.
“Bekerja secara anonim atau menggunakan nama samaran memiliki peran penting bagi kepentingan masyarakat,” tulisnya.
“Hal ini menjaga kebebasan berekspresi karena memungkinkan para kreator menyampaikan kebenaran kepada penguasa tanpa rasa takut akan pembalasan, sensor, atau persekusi terutama saat membahas isu sensitif seperti politik, agama, maupun keadilan sosial,” ujar Stephens, dikutip dari Reuters.
Tinggalkan Komentar
Komentar