periskop.id - Kemacetan parah terjadi di jalur alternatif Cikidang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, saat momen arus balik Lebaran Selasa (24/3). Jalur yang menghubungkan kawasan wisata Palabuhanratu dengan Jalan Raya Sukabumi-Bogor ini menjadi titik krusial yang dipadati ribuan kendaraan.
Lonjakan volume lalu lintas yang biasanya mempersingkat jarak tempuh Palabuhanratu-Bogor justru membuat perjalanan berubah menjadi belasan jam.
Fenomena “macet horor” ini menjadi sorotan karena banyak pemudik mengaku terjebak hingga 14 jam di jalan. Antrean kendaraan terlihat mengular panjang dari kawasan Cibadak hingga Simpang Cikidang. Kondisi tersebut tidak hanya menyebabkan kelelahan pengendara, tetapi juga berdampak pada distribusi kendaraan di jalur arteri utama Sukabumi.
Dipicu Puncak Arus Balik dan Mobilitas Wisata
Mengutip berbagai sumber, kemacetan di Cikidang mencapai puncaknya pada periode arus balik Lebaran, khususnya H+2 hingga H+3. Pada fase ini, terjadi pergerakan besar-besaran kendaraan dari wilayah selatan menuju kota-kota besar seperti Bogor dan Jakarta. Volume kendaraan meningkat drastis sehingga kapasitas jalan tidak mampu menampung lonjakan tersebut.
Selain pemudik, tingginya mobilitas wisatawan dari kawasan Pantai Palabuhanratu turut memperparah kondisi. Libur panjang Lebaran mendorong masyarakat untuk berwisata, sehingga arus kendaraan bercampur antara wisatawan dan pemudik. Akibatnya, kepadatan terjadi secara simultan di berbagai titik jalur.
Pihak kepolisian bahkan sempat menerapkan rekayasa lalu lintas seperti sistem one way lokal untuk mengurai kemacetan. Namun, tingginya volume kendaraan membuat upaya tersebut belum mampu mengatasi kepadatan secara maksimal.
Tanjakan dan Turunan Ekstrem di Jalur Cikidang
Berdasarkan keterangan pihak kepolisian, penyebab utama kemacetan di jalur Cikidang bukan hanya volume kendaraan, tetapi juga faktor geografis jalan. Jalur ini dikenal memiliki tanjakan ekstrem yang cukup panjang dan curam.
Kondisi tersebut menyebabkan banyak kendaraan mengalami hambatan saat menanjak, bahkan ada yang berhenti di tengah jalan. Hal ini memicu efek domino berupa antrean panjang kendaraan di belakangnya. Dalam situasi arus padat, gangguan kecil seperti kendaraan mogok dapat berdampak besar terhadap kelancaran lalu lintas.
Selain itu, kapasitas jalan yang relatif sempit dibandingkan jalur alternatif lain juga menjadi faktor pendukung kemacetan. Dibandingkan jalur Simpang Ratu yang lebih lebar, jalur Cikidang dinilai kurang mampu menampung lonjakan kendaraan saat puncak arus balik.
Tinggalkan Komentar
Komentar