periskop.id - Setiap Idulfitri, momen saling berkunjung dan bermaaf-maafan rasanya sudah jadi tradisi yang wajib dilakukan. Silaturahmi pun nggak bisa dipisahkan dari suasana Lebaran. Namun, di balik tradisi ini, masih banyak yang belum benar-benar paham soal hukum silaturahmi dalam Islam, termasuk perbedaan antara silaturahmi dan silaturahim yang sering dianggap sama. Padahal, memahami hal ini penting supaya kita nggak cuma ikut tradisi, tapi juga tahu makna dan nilai di baliknya.
Apa Itu Silaturahmi dan Silaturahim?
Dilansir dari muslim.or.id, silaturahmi sebenarnya berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu as-shilah yang berarti ‘menyambung’ dan ar-rahim yang merujuk pada hubungan kekerabatan atau keluarga. Jadi, secara sederhana, silaturahmi bisa dipahami sebagai upaya menyambung dan menjaga hubungan, terutama dengan orang-orang terdekat.
Makna menyambung di sini bukan cuma soal bertemu atau berkunjung, tapi juga mencakup sikap baik seperti perhatian, kasih sayang, hingga membantu tanpa mengharapkan balasan. Sementara itu, rahim mengarah pada hubungan darah atau keluarga, baik yang dekat maupun yang lebih jauh.
Dalam ajaran Islam, silaturahmi berarti berbuat baik kepada kerabat sesuai kemampuan. Bentuknya pun beragam, bisa dengan memberi bantuan, meluangkan waktu untuk berkunjung, sekadar menyapa, atau menjaga komunikasi.
Perbedaan Silaturahmi dan Silaturahim
Bagaimana dengan perbedaan silaturahmi dan silaturahim? Secara makna, keduanya sebenarnya sama karena berasal dari bahasa yang sama, yaitu bahasa Arab.
Dilansir dari muhammadiyah.or.id, istilah silaturahim memang lebih sering digunakan oleh Nabi Muhammad Saw. dan banyak ditemukan dalam berbagai hadis. Meski begitu, tidak ada kewajiban khusus untuk harus memakai istilah tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Seiring waktu, muncul istilah silaturahmi yang merupakan bentuk serapan ke dalam bahasa Indonesia. Istilah ini bahkan sudah diakui sebagai bentuk baku dan digunakan secara resmi, termasuk oleh Majelis Tarjih. Karena itu, penggunaan kata silaturahmi menjadi lebih umum di Indonesia.
Hal ini sebenarnya wajar karena banyak kata dari bahasa Arab yang mengalami penyesuaian makna ketika masuk ke bahasa Indonesia. Contohnya, seperti kata kitab. Dalam bahasa Arab, kitab berarti ‘buku’ secara umum, sedangkan dalam bahasa Indonesia, kitab lebih sering dimaknai sebagai buku suci atau bacaan keagamaan tertentu.
Hukum Silaturahmi dalam Islam, Wajib atau Tidak?
Hukum silaturahmi ternyata tidak selalu sama, tetapi bisa berbeda tergantung pada jenis hubungan kekerabatan. Para ulama pun memiliki perbedaan pendapat tentang siapa saja yang wajib dijaga hubungan silaturahminya hingga jika diputus bisa berdosa dan siapa yang hukumnya hanya sunah untuk disambung.
Namun, pendapat yang dianggap paling kuat menyebutkan bahwa silaturahmi yang hukumnya wajib adalah kepada kerabat mahram, yaitu keluarga dekat yang memiliki hubungan darah dan tidak boleh dinikahi. Pendapat ini banyak dipegang dalam mazhab Hanafi, serta didukung oleh sebagian ulama Maliki dan Hanbali.
Alasan lain yang digunakan para ulama adalah bahwa hubungan dengan kerabat nonmahram memiliki batasan dalam Islam, seperti larangan berkhalwat (berduaan) dan bercampur secara bebas. Hal ini tentu berbeda dengan bentuk silaturahmi yang biasanya dilakukan dengan lebih leluasa, seperti berkunjung atau berkumpul bersama.
Karena adanya batasan tersebut, kewajiban silaturahmi lebih ditekankan kepada kerabat mahram. Dari penjelasan ini, bisa disimpulkan bahwa hukum silaturahmi terbagi menjadi dua.
Pertama, wajib. Berlaku untuk kerabat dekat yang termasuk mahram, seperti paman, bibi, serta keluarga dekat dari garis ayah maupun ibu
Kedua, sunah. Berlaku untuk kerabat nonmahram, seperti sepupu. Meski tidak wajib, tetap dianjurkan untuk menjaga hubungan baik dan tidak dianjurkan memutus tali silaturahmi dengan mereka.
Manfaat Silaturahmi
1. Melapangkan Rezeki
Silaturahmi dipercaya dapat membuka pintu rezeki, bahkan dari arah yang tak terduga.
2. Memperpanjang Umur
Bukan hanya soal usia, tapi juga hidup yang lebih berkah dan bermakna.
3. Menghibur Kerabat
Kehadiran kita bisa jadi penguat dan penyemangat bagi keluarga yang sedang kesulitan.
4. Bentuk Ketaatan
Menjaga silaturahmi adalah bagian dari ibadah dan tanda keimanan.
5. Mengurangi Konflik
Silaturahmi membantu memperbaiki hubungan dan meredakan perselisihan.
6. Mendapat Rahmat
Menjaga hubungan baik membuka jalan untuk mendapatkan rahmat Allah.
7. Jalan Menuju Surga
Silaturahmi termasuk amalan yang dianjurkan dan bisa jadi jalan menuju surga.
Tinggalkan Komentar
Komentar