periskop.id - Istilah “No Kings” belakangan ramai dibicarakan, terutama setelah jutaan orang turun ke jalan dalam aksi demonstrasi besar di Amerika Serikat. Slogan yang berarti “tidak ada raja” ini bukan sekadar kata-kata, tapi mencerminkan penolakan terhadap kekuasaan yang dianggap terlalu dominan, sekaligus menjadi simbol perlawanan dalam dinamika politik terkini di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.
Apa Itu "No Kings"?
Istilah “No Kings” yang secara sederhana berarti “tidak ada raja” sebenarnya punya makna yang cukup dalam. Ungkapan ini merujuk pada prinsip dasar berdirinya Amerika Serikat yang sejak awal memang menolak sistem kerajaan atau monarki. Negara tersebut dibangun dengan konsep pembatasan kekuasaan lewat konstitusi, serta adanya sistem checks and balances antarlembaga agar tidak ada pihak yang terlalu dominan.
Dalam konteks sekarang, slogan ini sering dipakai oleh kelompok masyarakat sipil untuk menyuarakan kritik terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai berlebihan atau berpotensi melemahkan demokrasi. Pada aksi demonstrasi yang digelar 28 Maret 2026, berbagai kalangan ikut terlibat mulai dari aktivis, mahasiswa, hingga komunitas masyarakat yang sama-sama menyuarakan aspirasi mereka.
Selain itu, slogan ini digunakan sebagai simbol penolakan terhadap kekuasaan yang dianggap terlalu dominan atau cenderung otoriter. Dalam konteks modern, “No Kings” mencerminkan semangat demokrasi bahwa tidak boleh ada satu pihak yang memiliki kekuasaan mutlak tanpa kontrol. Istilah ini menegaskan bahwa dalam sistem demokrasi, kekuasaan seharusnya berada di tangan rakyat, bukan terpusat pada satu figur saja.
Kaitannya dengan Demo Besar di AS
Slogan “No Kings” semakin dikenal luas setelah digunakan dalam aksi demonstrasi besar-besaran di Amerika Serikat yang menyoroti masa jabatan kedua Presiden Donald Trump.
Aksi protes “No Kings” menjadi salah satu dari tiga gelombang demonstrasi besar yang digelar untuk menentang masa jabatan kedua Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Gelombang pertama berlangsung pada 14 Juni 2025, bertepatan dengan ulang tahun Trump sekaligus parade militer di Washington, DC dalam rangka peringatan 250 tahun Angkatan Darat AS.
Aksi kemudian berlanjut ke putaran kedua pada 18 Oktober 2025, dengan jumlah massa yang lebih besar dibanding sebelumnya. Sementara itu, gelombang ketiga dijadwalkan berlangsung pada 28 Maret 2026.
Menariknya, dua aksi awal tersebut masuk dalam deretan demonstrasi satu hari terbesar dalam sejarah Amerika Serikat. Pada aksi Juni, lebih dari 5 juta orang ikut turun ke jalan, dan jumlahnya meningkat menjadi hampir 7 juta orang pada aksi Oktober.
Aksi protes No Kings sebagian besar digagas dan diorganisasi oleh sejumlah kelompok liberal di Amerika Serikat, seperti 50501 Movement, Indivisible, dan MoveOn. Selain itu, organisasi nonpartisan seperti American Civil Liberties Union (ACLU) juga turut berperan dalam membantu memfasilitasi jalannya aksi.
Julukan “No Kings” sendiri pertama kali diperkenalkan oleh 50501 Movement. Di situs resminya, gerakan ini menyoroti konsep aturan 3,5%, yaitu gagasan bahwa jika sekitar 3,5 persen dari total populasi terlibat aktif dalam sebuah gerakan, maka peluang untuk mendorong perubahan politik yang signifikan akan semakin besar.
Dipicu Ketidakpuasan Publik
Aksi ini terjadi di tengah menurunnya tingkat kepuasan publik terhadap Trump. Bahkan, sebagian pendukungnya sendiri mulai mengungkapkan kekecewaan. Beberapa isu yang menjadi sorotan dalam demonstrasi ini antara lain konflik dengan Iran yang menewaskan personel militer AS, kenaikan harga kebutuhan dan minyak, kebijakan tarif impor yang berdampak pada barang sehari-hari, serta antrean panjang di bandara akibat kebuntuan pembahasan anggaran.
Jutaan orang diperkirakan turun ke jalan di seluruh Amerika Serikat pada Sabtu dalam aksi nasional ketiga bertajuk No Kings (Tidak Ada Raja). Aksi ini digelar sebagai bentuk penolakan terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump.
Demonstrasi tersebut berlangsung secara serentak di seluruh 50 negara bagian AS, bahkan meluas hingga 16 negara lain. Skala dan koordinasinya yang besar membuat aksi ini disebut sebagai salah satu protes paling terorganisasi dalam sejarah Amerika Serikat.
Aksi ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari organisasi seperti Indivisible dan 50501 Movement, hingga serikat pekerja dan komunitas akar rumput. Secara keseluruhan, lebih dari 3.000 titik demonstrasi dilaporkan berlangsung di berbagai wilayah.
Sebelumnya, aksi serupa pada Oktober 2025 juga menarik perhatian besar dengan jumlah peserta mencapai sekitar 7 juta orang di seluruh AS. Hal ini menunjukkan bahwa gerakan “No Kings” terus mendapat dukungan luas dari masyarakat.
Tinggalkan Komentar
Komentar