Periskop.id - Dunia transportasi Indonesia kembali berduka. Sebuah kecelakaan hebat yang melibatkan tiga moda transportasi berbeda terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026. 

Insiden yang bermula dari sebuah gangguan teknis kendaraan di perlintasan sebidang ini berkembang menjadi tragedi berdarah yang menelan banyak korban jiwa dan luka-luka.

Berdasarkan kronologi yang berhasil dihimpun, peristiwa memilukan ini bermula ketika sebuah unit mobil listrik Green SM mengalami gangguan mesin atau mogok tepat di tengah perlintasan sebidang JPL 85 Ampera, Bulak Kapal. 

Di saat yang bersamaan, rangkaian KRL Commuter Line jurusan Cikarang melintas dan tidak dapat menghindari benturan dengan mobil listrik tersebut. 

Tak berhenti di situ, petaka susulan terjadi ketika rangkaian KRL yang tertahan akibat menabrak mobil tersebut dihantam dengan sangat keras dari arah belakang oleh Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) Argo Bromo Anggrek yang tengah melaju kencang.

Hingga Selasa, 28 April 2026 pukul 08.45 WIB, data terbaru menunjukkan sedikitnya 14 orang dinyatakan tewas dan 84 orang lainnya mengalami luka-luka. 

Mayoritas korban jiwa berada di gerbong khusus wanita, yang merupakan titik penerima benturan paling keras saat dihantam dari belakang oleh lokomotif Argo Bromo Anggrek. 

Insiden ini langsung memicu sorotan nasional mengenai keamanan perlintasan sebidang dan sistem pengereman darurat di jalur padat.

Menilik Catatan Hitam Sejarah Perkeretaapian Indonesia

Tragedi Bekasi Timur menambah daftar panjang kecelakaan kereta api paling parah yang pernah terjadi di tanah air. Berikut adalah deretan kecelakaan kereta api yang paling dikenang karena jumlah korban dan besarnya sorotan publik:

1. Tragedi Bintaro I (19 Oktober 1987)

Hingga kini, Tragedi Bintaro I masih memegang catatan sebagai kecelakaan kereta api paling mematikan dalam sejarah Indonesia. Peristiwa ini melibatkan tabrakan "adu banteng" antara KA lokal jurusan Rangkasbitung menuju Jakarta dengan KA 220 jurusan Tanah Abang menuju Merak. 

Sedikitnya 153 orang tewas dan lebih dari 300 orang luka-luka. Penyebab utama tragedi ini adalah kesalahan manusia (human error) dan kegagalan komunikasi sinyal. Proses evakuasi berlangsung dramatis dan lama karena banyak korban yang terjepit di antara lempengan baja gerbong.

2. Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek vs KA Senja Utama (2 Oktober 2010)

Kecelakaan ini memiliki kemiripan pola dengan tragedi Bekasi Timur 2026. Di Petarukan, Pemalang, KA Argo Bromo Anggrek menghantam bagian belakang KA Senja Utama Semarang yang sedang berhenti menunggu sinyal masuk stasiun. 

Peristiwa terjadi saat penumpang masih tertidur lelap, mengakibatkan gerbong ekor Senja Utama hancur total. Sebanyak 34 orang tewas dalam kejadian ini. Investigasi menunjukkan masinis Argo Bromo mengabaikan sinyal merah yang menandakan posisi tidak aman.

3. Tabrakan KA Mutiara Selatan vs KA Kutojaya (28 Januari 2011)

Kesalahan koordinasi Petugas Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) memicu tabrakan di Stasiun Langen, Kota Banjar. 

KA Mutiara Selatan salah masuk ke jalur 3, di mana KA Kutojaya Selatan sedang berhenti normal. Benturan keras tersebut menewaskan 3 orang dan menyebabkan 26 orang lainnya mengalami luka-luka.

4. Tragedi Bintaro II / Kecelakaan Pondok Betung (9 Desember 2013)

Lokasi Bintaro kembali menjadi saksi bisu kecelakaan besar ketika KRL Commuter Line jurusan Serpong menuju Tanah Abang menabrak truk tangki Pertamina yang mengangkut 24 kiloliter BBM. 

Truk tersebut nekat menerobos perlintasan Pondok Betung hingga terjebak di tengah rel. Ledakan hebat sebanyak tiga kali menciptakan bola api raksasa yang menghanguskan gerbong terdepan. Insiden ini menewaskan 7 orang, termasuk masinis dan pegawai PT KAI, serta melukai puluhan penumpang lainnya.

5. Anjloknya KA Malabar di Tasikmalaya (4 April 2014)

Berbeda dengan tabrakan antar kendaraan, KA Malabar mengalami kecelakaan akibat faktor alam. Saat membawa 250 penumpang dari Bandung menuju Malang, kereta ini tergelincir akibat tanah longsor di Kadipaten, Tasikmalaya. 

Lokomotif dan kereta makan terperosok ke dalam jurang, mengakibatkan 4 orang tewas dan 7 orang lainnya luka-luka.

6. Kecelakaan KA Sancaka vs Truk di Ngawi (6 April 2018)

KA Sancaka yang membawa 11 rangkaian gerbong menabrak truk trailer pengangkut beton bantalan rel di perlintasan tanpa palang di Desa Sambirejo, Ngawi. 

Tabrakan ini menyebabkan lokomotif terguling dan empat gerbong anjlok. Kecelakaan ini menewaskan masinis yang bertugas dan melukai asisten masinis serta tiga penumpang.

7. Tabrakan KA Turangga vs Commuter Line Bandung Raya (5 Januari 2024)

Awal tahun 2024 diwarnai duka di Cicalengka, Bandung. KA Turangga bertabrakan frontal dengan KA Lokal Bandung Raya di jalur tunggal. 

Meski jumlah korban jiwa tergolong sedikit dibandingkan Tragedi Bintaro, yakni 4 orang tewas dan 37 luka-luka, kecelakaan ini menjadi viral karena rekaman tabrakan frontal yang menunjukkan gerbong hancur parah dan terangkat ke atas.