Periskop.id - Dunia saat ini sedang berada dalam tensi tinggi menyusul konflik yang terjadi di Timur Tengah. Namun, sebuah jajak pendapat terbaru dari Ipsos Global Advisor mengungkapkan bahwa masyarakat dunia secara tegas menolak adanya keterlibatan militer dalam perang di Iran. 

Hasil survei yang mencakup 31 negara menunjukkan tren kuat di mana warga sipil menginginkan pemerintah mereka tetap berada di luar zona konflik.

Secara rata-rata global, sebanyak 81% responden menilai negara mereka harus menghindari segala bentuk keterlibatan dalam perang tersebut. 

Dari angka tersebut, 48% responden menyatakan sangat setuju untuk tetap berada di luar konflik, sementara hanya 19% yang menyatakan ketidaksetujuan terhadap sikap netral ini.

Posisi Tegas Indonesia: Mayoritas Mutlak Suarakan Perdamaian

Indonesia menunjukkan sikap yang sangat solid dalam menentang keterlibatan militer. Sebagai negara dengan peringkat tinggi dalam daftar aspirasi perdamaian, sebanyak 90% masyarakat Indonesia sepakat bahwa negara tidak boleh terlibat dalam konflik Timur Tengah tersebut.

Secara rinci, 53% warga Indonesia menyatakan "sangat setuju" dan 37% menyatakan "cukup setuju" untuk menghindari campur tangan militer. Hanya sebagian kecil yang menyatakan sebaliknya, yakni 9% menyatakan cukup tidak setuju dan hanya 1% yang sangat tidak setuju. 

Angka ini mencerminkan posisi Indonesia sebagai negara yang tetap memegang teguh prinsip perdamaian dan konsisten untuk tidak terlibat dalam aksi militer di luar negeri.

Perbandingan Sikap Antarnegara: Israel Menjadi Pengecualian

Tren penolakan ini terlihat di 30 dari 31 negara yang disurvei, termasuk di Amerika Serikat. Di AS, sebanyak 71% warga merasa negara mereka harus menghindari keterlibatan militer, dengan 44% di antaranya menyatakan sangat setuju terhadap penghindaran tersebut.

Menariknya, Israel menjadi satu-satunya negara dalam survei ini di mana mayoritas masyarakatnya justru mendukung keterlibatan dalam konflik. Tercatat 58% warga Israel tidak setuju untuk menghindari keterlibatan militer, sementara hanya 43% yang setuju untuk menghindarinya.

Berikut adalah tabel 15 negara dengan tingkat persetujuan tertinggi untuk menghindari keterlibatan militer:

NegaraSangat SetujuCukup SetujuTotal Setuju
Hungaria71%22%93%
Indonesia53%37%90%
Italia64%20%84%
Afrika Selatan58%30%88%
Selandia Baru58%29%87%
Jerman54%34%88%
Polandia57%31%88%
Irlandia54%29%83%
Australia52%33%85%
Swedia50%36%86%
Belanda50%33%83%
India46%41%87%
Singapura42%45%87%
Thailand39%51%90%
Malaysia34%50%84%

Prediksi Durasi Perang: Tidak Akan Berakhir Cepat

Optimisme terhadap perdamaian jangka pendek tampaknya cukup rendah. Rata-rata 33% responden di 31 negara memprediksi perang akan berlangsung hingga tahun depan atau bahkan lebih lama. 

Warga Kanada menjadi yang paling pesimistis, di mana 76% berpendapat perang tidak akan berakhir hingga akhir tahun atau lebih lama lagi.

Sebaliknya, masyarakat di Israel mengharapkan konflik berlangsung singkat. Sebanyak 40% warga Israel berpikir perang akan selesai dalam satu bulan ke depan, dan 40% lainnya memprediksi berakhir dalam tiga bulan.

Reputasi Amerika Serikat yang Terjun Bebas

Konflik di Timur Tengah ini berdampak signifikan terhadap citra Amerika Serikat di panggung dunia. Pada April 2026, semakin sedikit orang yang percaya bahwa AS akan memberikan dampak positif terhadap urusan dunia dalam dekade mendatang.

Di Kanada dan negara-negara sekutu G7 lainnya, kepercayaan terhadap peran positif AS mencapai angka terendah dalam sejarah survei sejak 2015. Di Jerman, hanya 19% masyarakat yang memandang dampak AS secara positif. 

Penurunan ini juga terjadi secara internal, di mana hanya 59% warga Amerika yang percaya negaranya berdampak positif, angka yang merosot tajam dibandingkan masa sebelum periode kedua kepemimpinan Presiden Donald Trump yang stabil di atas 76%.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan persepsi terhadap China. Sebanyak 50% responden global kini memandang dampak China secara positif, meningkat dari 42% pada tahun 2020. 

Saat ini, rata-rata masyarakat di Eropa, Asia Pasifik, hingga Amerika Latin lebih cenderung menilai bahwa China akan memberikan manfaat lebih besar bagi dunia dibandingkan Amerika Serikat dalam sepuluh tahun ke depan.