periskop.id - Kantor berita Iran, Mehr, melaporkan bahwa pemerintah Iran tidak akan memulai negosiasi penyelesaian masalah nuklir sebelum Amerika Serikat (AS) memenuhi sejumlah persyaratan.

 

Advertisement

Ketegasan ini muncul setelah beredarnya kabar mengenai penerbitan draf memorandum untuk mengakhiri konflik antara Teheran dan Washington.

 

Menurut laporan tersebut, proses negosiasi akhir baru bisa berjalan jika setengah dari dana Iran yang diblokir oleh pihak AS dilepaskan. Nominal dana yang harus dicairkan tersebut mencapai US$24 miliar atau berkisar Rp427 triliun.

 

Selain pencairan dana, Mehr memberitakan bahwa Teheran juga menuntut penangguhan sanksi minyak dan pencabutan blokade maritim oleh Washington.

 

"Kesepakatan akhir itu akan secara khusus membahas nasib bahan-bahan yang telah diperkaya Iran, kegiatan pengayaan, dan pencabutan sanksi," tulis kantor berita tersebut dalam laporannya pada Jumat (12/6).

 

Berdasarkan laporan yang sama, perundingan mengenai program nuklir Iran dipastikan baru bergulir setelah nota kesepahaman tentang penyelesaian konflik disepakati kedua belah pihak. Langkah ini dinilai menjadi fondasi utama sebelum masuk ke pembicaraan yang lebih spesifik.

 

Setelah draf nota kesepahaman itu diselesaikan, pihak AS diberikan tenggat waktu selama 30 hari untuk bertindak.

 

Negeri Paman Sam tersebut diminta sepenuhnya mencabut blokade maritim, melepaskan dana yang dibekukan, serta menghapus sanksi atas ekspor minyak Iran.

 

Bukan hanya itu, Washington juga diwajibkan menyajikan rencana rekonstruksi untuk Iran dengan nilai yang fantastis. Nilai proyek pemulihan tersebut diminta menyentuh angka sedikitnya US$300 miliar atau setara dengan Rp5,33 kuadriliun.

 

Sebagai bagian dari kesepakatan akhir yang terpisah dari nota kesepahaman penghentian konflik, tuntutan lain juga diajukan oleh Iran. Negara Timur Tengah ini mendesak penghapusan sanksi langsung dari AS terhadap Teheran.

 

Mehr menambahkan, sanksi sekunder yang selama ini mengganggu hubungan kerja sama Iran dengan negara lain juga harus segera dihilangkan. Langkah ini dianggap krusial untuk memulihkan perekonomian dan stabilitas kawasan global.

 

Jika melihat ke belakang, ketegangan kedua negara sempat memuncak pada 28 Februari lalu saat AS dan Israel menyerang target di wilayah Iran yang menewaskan lebih dari 3.000 orang.

 

Konflik berdarah tersebut kemudian mereda setelah Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata pada 8 April, yang statusnya secara resmi masih berlaku hingga saat ini.

 

Bersamaan dengan masa gencatan senjata tersebut, proses negosiasi draf memorandum kesepahaman terus diupayakan oleh kedua negara meski serangan terisolasi sesekali masih terjadi di lapangan.