Periskop.id - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut ada sejumlah pihak yang berupaya menggagalkan kesepakatan antara Teheran dan Washington. Pernyataan itu muncul ketika Iran dan Amerika Serikat disebut tengah bergerak menuju rancangan memorandum kesepahaman atau MoU untuk membuka jalan penyelesaian konflik.
Araghchi menilai penentangan terhadap proses diplomasi tersebut terutama datang dari Israel. Menurut dia, pihak-pihak yang tidak menginginkan kesepakatan akan terus mencari alasan untuk menggagalkan proses yang sedang berjalan.
"Tentu saja, ada penentang kesepakatan tersebut, yang dipimpin oleh rezim Zionis, yang mencari dalih untuk menggagalkannya," kata sang menlu di televisi Iran dikutip Sabtu (13/6).
Pernyataan Araghchi memperlihatkan, proses diplomasi Iran-AS belum sepenuhnya aman dari tekanan politik dan keamanan. Meski kedua pihak disebut sedang membahas kerangka kesepakatan, dinamika regional masih dapat memengaruhi arah perundingan.
Sebelumnya, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata pada 7 April. Gencatan senjata itu hingga kini masih berlaku secara resmi, meski kedua pihak disebut masih beberapa kali saling melancarkan serangan terbatas melalui operasi militer.
Proses negosiasi Iran dan AS kini diarahkan pada penyusunan kerangka memorandum kesepahaman. Kerangka itu diharapkan dapat menjadi pintu masuk untuk menuntaskan konflik yang meningkat sejak serangan AS dan Israel terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari, yang dilaporkan menewaskan lebih dari 3.000 orang.
Namun, perundingan tersebut tidak berjalan di ruang kosong. Israel menjadi salah satu aktor yang paling berkepentingan terhadap isi kesepakatan, terutama karena isu program nuklir Iran, rudal, dan dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan tetap menjadi perhatian utama Tel Aviv.
Kepala otoritas Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan telah membahas rancangan MoU antara Washington dan Teheran dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Kantor Netanyahu menyampaikan, pembicaraan itu dilakukan di tengah klaim Trump bahwa poin-poin akhir dari perjanjian damai telah disepakati semua pihak yang terlibat dan dapat dirampungkan dalam beberapa hari ke depan.
"Presiden Trump berbicara malam ini dengan Perdana Menteri Netanyahu mengenai memorandum kesepahaman (MoU) yang sedang disusun dengan Iran untuk memulai negosiasi," tulis kantor otoritas Israel melalui akun X mereka pada Kamis (11/6).
Israel Bukan Bagian Langsung dari Perjanjian
Pernyataan kantor Netanyahu sekaligus menegaskan, Israel bukan bagian langsung dari perjanjian tersebut. Namun, posisi Israel tetap penting karena negara itu memiliki kepentingan keamanan besar terhadap arah akhir kesepakatan AS-Iran.
Netanyahu disebut mengapresiasi komitmen Trump yang memastikan kesepakatan akhir setelah pembicaraan tersebut akan mencakup sejumlah tuntutan keamanan Israel. Tuntutan itu meliputi pembatasan program nuklir, rudal, dan dukungan Iran terhadap kelompok proksinya di kawasan.
Netanyahu menyampaikan apresiasi atas komitmen Trump yang memastikan bahwa perjanjian akhir setelah pembicaraan tersebut akan mencakup "penghapusan material yang diperkaya, pembongkaran infrastruktur pengayaan nuklir, pembatasan produksi rudal, dan penghentian dukungan Iran terhadap proksi terorisnya di kawasan," sebut pernyataan itu.
Meski demikian, posisi Israel terhadap rancangan kesepakatan tidak sepenuhnya sederhana. Di satu sisi, Netanyahu berusaha memastikan kepentingan keamanan Israel masuk dalam perjanjian akhir. Di sisi lain, Israel disebut bukan pihak yang menandatangani MoU tersebut.
Kondisi ini membuka ruang ketegangan baru. Jika Israel merasa kepentingannya tidak cukup diakomodasi, tekanan terhadap proses diplomasi bisa meningkat. Sebaliknya, jika Washington terlalu banyak memasukkan tuntutan Israel, Teheran dapat menilai kesepakatan tersebut tidak lagi seimbang.
Media Axios melaporkan, pengumuman Trump mengenai kemajuan negosiasi dengan Iran sempat membuat Netanyahu terkejut karena ia tidak mendapatkan pemberitahuan sebelumnya. Laporan itu memperkuat kesan bahwa komunikasi antara Washington dan Tel Aviv mengenai proses kesepakatan belum sepenuhnya mulus.
Di tengah situasi tersebut, Iran mencoba membingkai penolakan terhadap kesepakatan sebagai upaya sabotase diplomasi. Pernyataan Araghchi bahwa ada pihak yang mencari dalih untuk menggagalkan perjanjian menunjukkan Teheran ingin menekan narasi bahwa jalan diplomasi sedang diganggu oleh aktor eksternal.
Bagi Iran, keberhasilan MoU dengan AS dapat membuka peluang deeskalasi konflik dan kemungkinan pembahasan lebih lanjut mengenai isu nuklir, sanksi, serta stabilitas kawasan. Namun, Iran juga harus memastikan bahwa kesepakatan tidak dianggap sebagai bentuk penyerahan terhadap tekanan militer dan politik Washington.
Sementara bagi Amerika Serikat, MoU dengan Iran dapat menjadi langkah penting untuk menurunkan eskalasi konflik di Timur Tengah. Kesepakatan itu juga dapat membantu Washington mengendalikan risiko gangguan di jalur energi global, termasuk kawasan strategis seperti Selat Hormuz.
Hanya Tahap Awal
Namun, kesepakatan semacam itu tetap mengandung risiko politik. Di dalam negeri AS, setiap pelonggaran terhadap Iran dapat memicu kritik dari kelompok yang menilai Teheran tidak dapat dipercaya. Di kawasan, Israel dan sejumlah pihak lain juga dapat mempertanyakan apakah kesepakatan cukup kuat untuk membatasi kemampuan nuklir dan rudal Iran.
Karena itu, MoU Teheran-Washington kemungkinan hanya menjadi tahap awal, bukan penyelesaian final. Negosiasi lanjutan tetap diperlukan untuk membahas detail teknis yang lebih rumit, termasuk nasib material nuklir yang telah diperkaya, pembatasan pengayaan, pencabutan sanksi, serta jaminan keamanan regional.
Dalam situasi seperti ini, pernyataan Araghchi menjadi sinyal bahwa Iran mengantisipasi hambatan dari pihak-pihak yang tidak ingin kesepakatan tercapai. Teheran tampaknya ingin menempatkan kegagalan perundingan, jika terjadi, sebagai akibat dari tekanan pihak luar, bukan semata karena perbedaan posisi antara Iran dan AS.
Pada akhirnya, masa depan kesepakatan Teheran-Washington masih bergantung pada tiga hal utama. Pertama, apakah Iran dan AS benar-benar menyepakati isi MoU. Kedua, apakah Israel dan aktor regional lain dapat menerima kerangka tersebut. Ketiga, apakah serangan-serangan terbatas yang masih terjadi dapat dihentikan agar proses diplomasi tidak kembali runtuh.
Selama faktor-faktor itu belum terjawab, peluang damai tetap terbuka, tetapi rapuh. Pernyataan Iran soal adanya pihak yang ingin menggagalkan kesepakatan menunjukkan bahwa jalan menuju normalisasi dengan Washington masih jauh dari aman.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar