periskop.id - Setiap tanggal 12 Mei, dunia memperingati Hari Perawat Sedunia atau International Nurses Day. Peringatan ini menjadi momen penting untuk menghargai dedikasi jutaan perawat yang bekerja di garis depan pelayanan kesehatan. 

Di balik profesi tersebut, ada sejarah panjang yang membentuk dunia keperawatan modern hingga menjadi bagian vital dalam sistem kesehatan global seperti sekarang.

Hari Perawat Sedunia bukan sekadar seremoni tahunan. Perayaan ini lahir dari penghormatan terhadap perjuangan para tenaga kesehatan, terutama perawat yang selama berabad-abad menjadi ujung tombak dalam merawat pasien, korban perang, hingga masyarakat di daerah terpencil. Tidak sedikit pula perawat yang harus bekerja dalam tekanan tinggi, risiko penularan penyakit, hingga situasi darurat bencana.

Sejarah Hari Perawat Sedunia

Secara internasional, Hari Perawat Sedunia diperingati setiap 12 Mei karena tanggal tersebut merupakan hari kelahiran Florence Nightingale, sosok yang dikenal sebagai pelopor keperawatan modern. 

Ia lahir pada 12 Mei 1820 di Florence, Italia. Namanya kemudian menjadi simbol perubahan besar dalam dunia medis dan keperawatan.

Florence Nightingale mulai dikenal dunia saat Perang Krimea pada tahun 1850-an. Saat itu, ia memimpin tim perawat Inggris yang merawat tentara korban perang di rumah sakit militer Scutari, wilayah yang kini menjadi bagian dari Istanbul, Turki. Kondisi rumah sakit kala itu sangat buruk: sanitasi minim, kebersihan tidak terjaga, dan angka kematian pasien sangat tinggi.

Nightingale kemudian melakukan berbagai perubahan besar. Ia menerapkan standar kebersihan, memperbaiki ventilasi rumah sakit, memastikan pasokan makanan tersedia, dan memperhatikan perawatan pasien secara lebih manusiawi. 

Langkah-langkah sederhana tersebut ternyata mampu menurunkan angka kematian secara signifikan. Karena kebiasaannya berkeliling rumah sakit sambil membawa lampu di malam hari untuk memeriksa pasien, ia dijuluki “The Lady with the Lamp” atau “Wanita Pembawa Lampu”.

Kontribusi Florence Nightingale tidak berhenti di medan perang. Pada tahun 1860, ia mendirikan sekolah keperawatan profesional pertama di St Thomas’ Hospital, London. 

Sekolah tersebut menjadi fondasi lahirnya pendidikan keperawatan modern di berbagai negara. Metode pelatihan yang ia kembangkan kemudian diadopsi oleh rumah sakit dan institusi pendidikan kesehatan di Eropa, Amerika Serikat, hingga Asia.

Mengapa Dirayakan?

Peringatan Hari Perawat Sedunia sendiri mulai dirayakan sejak tahun 1965 oleh International Council of Nurses atau ICN. Organisasi tersebut merupakan federasi internasional yang menaungi asosiasi perawat dari berbagai negara di dunia. Namun, penetapan resmi tanggal 12 Mei sebagai Hari Perawat Sedunia baru dilakukan pada tahun 1974.

Alasan utama diperingatinya Hari Perawat Sedunia adalah untuk menghormati kontribusi perawat terhadap masyarakat. 

Perawat memiliki peran yang sangat penting dalam pelayanan kesehatan, mulai dari mendampingi pasien, membantu dokter, memberikan edukasi kesehatan, hingga menjadi penolong pertama dalam situasi darurat. Dalam banyak kasus, perawat justru menjadi tenaga medis yang paling sering berinteraksi langsung dengan pasien.

Peringatan ini juga bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya profesi keperawatan. Di banyak negara, profesi perawat masih menghadapi tantangan besar seperti beban kerja tinggi, kekurangan tenaga, jam kerja panjang, hingga risiko kesehatan mental akibat tekanan pekerjaan. 

Karena itu, Hari Perawat Sedunia menjadi momentum untuk mendorong perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap kesejahteraan tenaga perawat.

Peran perawat semakin mendapat sorotan global saat pandemi COVID-19 melanda dunia. Ketika rumah sakit penuh dan sistem kesehatan berada di bawah tekanan berat, para perawat menjadi salah satu garda terdepan yang bekerja tanpa henti merawat pasien. 

Banyak dari mereka harus terpisah dari keluarga, bekerja dengan alat pelindung diri berjam-jam, bahkan ada yang gugur saat menjalankan tugas.

Data dari berbagai organisasi kesehatan dunia menunjukkan bahwa jumlah tenaga perawat secara global masih belum mencukupi kebutuhan pelayanan kesehatan. Organisasi internasional juga berulang kali menekankan pentingnya investasi terhadap pendidikan dan perlindungan profesi perawat demi menjaga kualitas layanan kesehatan masyarakat. 

Karena itulah, tema Hari Perawat Sedunia setiap tahun biasanya menyoroti isu-isu strategis seperti kesejahteraan perawat, penguatan sistem kesehatan, hingga masa depan dunia keperawatan.

Transformasi Pekerjaan Perawat

Menariknya, Hari Perawat Sedunia juga menjadi simbol perubahan citra profesi perawat. Pada masa lalu, pekerjaan perawat sering dianggap hanya sebagai pekerjaan pendamping dokter. Namun kini, perawat memiliki kompetensi profesional yang luas, mulai dari tindakan medis tertentu, edukasi pasien, manajemen rumah sakit, hingga penelitian kesehatan.

Di Indonesia sendiri, profesi perawat memiliki peran besar dalam pelayanan kesehatan nasional. Tidak hanya di rumah sakit besar, perawat juga menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan di puskesmas, klinik desa, daerah terpencil, hingga wilayah bencana. 

Banyak daerah di Indonesia yang akses dokternya terbatas justru sangat bergantung pada keberadaan tenaga perawat.

Hari Perawat Sedunia akhirnya bukan hanya tentang mengenang sejarah Florence Nightingale, tetapi juga tentang penghormatan terhadap jutaan tenaga perawat yang setiap hari bekerja menjaga keselamatan dan kesehatan manusia. 

Di balik seragam dan tugas berat mereka, ada dedikasi panjang yang sering kali tidak terlihat oleh publik.