periskop.id - Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono memastikan hantavirus tidak berpotensi menjadi pandemi seperti Covid-19. Ia menegaskan, hingga saat ini penularan hantavirus dari manusia ke manusia belum terbukti.

“Penularan dari manusia ke manusia masih belum dikonfirmasi oleh WHO,” ujarnya saat ditemui wartawan di UPTD Pelatihan Kesehatan Jawa Barat, Bandung, Selasa (12/5).

Menurut Dante, penyebaran hantavirus berbeda dengan virus corona karena memiliki reservoir atau perantara utama, yakni tikus. Penularan umumnya terjadi melalui lingkungan yang kotor dan terpapar air kencing tikus, terutama setelah banjir.

“Hantavirus itu ada reservoirnya, yaitu tikus. Jadi rumah yang kotor, banyak air kencing tikus, terutama setelah banjir, bisa menyebabkan hantavirus,” jelasnya.

Dante menjelaskan hantavirus memiliki dua jenis. Pertama, Hantavirus Fever Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dengan gejala demam tinggi hingga penyakit kuning. Kedua, Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru.

Dari kedua jenis tersebut, HPS memiliki tingkat kematian lebih tinggi, yakni mencapai 60%–80%. Sementara HFRS memiliki fatality rate sekitar 15%.

Meski demikian, Dante menegaskan kasus hantavirus yang ditemukan di Indonesia sejauh ini masih tergolong ringan. Kementerian Kesehatan mencatat sejak 2023 terdapat 23 kasus hantavirus di Indonesia dan seluruhnya merupakan jenis HFRS.

“Di Indonesia sudah ditemukan 23 kasus sejak tahun 2023, tetapi semuanya adalah Hanta Fever Renal Syndrome yang ringan,” katanya.

Dante juga menepis kekhawatiran masyarakat terkait laporan kasus hantavirus di kapal pesiar yang sempat ramai diperbincangkan. Menurutnya, jenis hantavirus yang ditemukan pada kasus tersebut belum ada di Indonesia.

Ia menambahkan, kemungkinan penularan dari manusia ke manusia memang masih diteliti, khususnya pada jenis HPS yang menyerang paru-paru dan menimbulkan batuk. Namun hingga kini, hal tersebut belum dapat dipastikan.