Periskop.id - Peringatan hari perawat sedunia kembali menjadi momentum penting untuk menyoroti peran besar tenaga perawat dalam menjaga sistem kesehatan global. Di berbagai negara, perawat selama ini menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan, mulai dari rumah sakit besar hingga wilayah terpencil yang sulit dijangkau fasilitas medis.
Namun di balik peran vital tersebut, dunia justru sedang menghadapi ancaman serius berupa kekurangan tenaga perawat dalam jumlah besar. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO memperkirakan dunia akan mengalami kekurangan hampir 10 juta perawat pada 2030.
Kondisi tersebut bukan sekadar persoalan ketenagakerjaan biasa. Krisis perawat dinilai dapat memengaruhi ketahanan nasional, kesiapsiagaan kesehatan publik, hingga perlindungan masyarakat sipil ketika menghadapi situasi darurat kesehatan maupun konflik kemanusiaan.
Mengutip Royal College of Nursing, profesi perawat saat ini menjadi kelompok terbesar dalam tenaga kerja kesehatan global dengan jumlah mencapai sekitar 30 juta orang di seluruh dunia.
Meski demikian, jumlah tersebut dinilai masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan layanan kesehatan dunia yang terus meningkat.
Hari Perawat Sedunia dan Peran Perawat di Tengah Krisis Global
Makna hari perawat sedunia semakin relevan setelah dunia mengalami pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu. Pandemi menjadi bukti nyata betapa pentingnya keberadaan tenaga perawat dalam menjaga sistem kesehatan tetap berjalan.
Di berbagai negara, para perawat tetap bekerja di tengah tekanan luar biasa. Mereka menghadapi kelelahan fisik, tekanan psikologis, risiko tertular penyakit, hingga keterbatasan fasilitas kesehatan.
Banyak rumah sakit tetap bertahan beroperasi karena pengabdian tenaga perawat yang terus melayani pasien meski berada dalam kondisi darurat.
Mengutip Countercurrents, situasi tersebut juga terjadi di wilayah konflik seperti Gaza. Para perawat tetap merawat korban massal di tengah pemboman, keterbatasan listrik, kekurangan obat-obatan, dan minimnya perlindungan keselamatan pribadi.
Peran perawat juga tidak hanya terlihat dalam situasi darurat. Dalam kehidupan sehari-hari, tenaga perawat menjadi fondasi utama pelayanan kesehatan masyarakat.
Di berbagai wilayah pedesaan dan daerah tertinggal di Irak, Yaman, dan banyak negara lain, perawat komunitas bertugas memberikan vaksin kepada anak-anak, mendukung kesehatan ibu dan bayi, memantau penyakit kronis, merawat lansia, hingga membantu pengungsi yang sulit mengakses layanan kesehatan formal.
Karena itulah, banyak pihak menilai sebuah negara tidak dapat mempertahankan keamanan kesehatan tanpa keberadaan tenaga perawat yang stabil dan memadai.
ICN Sebut Perawat Bisa Selamatkan Jutaan Jiwa
Bertepatan dengan hari perawat sedunia, International Council of Nurses (ICN) juga merilis laporan terbaru mengenai kontribusi besar profesi keperawatan terhadap sistem kesehatan global.
Dalam laporan tersebut, ICN menegaskan bahwa tenaga perawat mampu menyelamatkan lebih banyak nyawa apabila diberikan kesempatan bekerja secara maksimal sesuai kompetensi dan potensinya.
Laporan tersebut menyebut perawat tidak hanya meningkatkan kualitas layanan kesehatan, tetapi juga memperluas akses pelayanan medis, memperkuat sistem kesehatan nasional, hingga memberikan dampak ekonomi yang besar.
ICN menyoroti tujuh kekuatan utama profesi keperawatan, mulai dari kekuatan kepercayaan, profesionalisme, hingga kepedulian terhadap pasien.
Model layanan kesehatan yang dipimpin tenaga perawat juga disebut mampu meningkatkan kepuasan pasien sekaligus memperkuat pemerataan layanan kesehatan.
Dalam situasi konflik dan ketidakstabilan politik, profesi keperawatan bahkan menjadi salah satu faktor utama yang menjaga stabilitas sistem kesehatan masyarakat.
Menurut laporan ICN, dunia saat ini masih mengalami kekurangan lebih dari 5 juta tenaga perawat. Jika kesenjangan tersebut berhasil ditutup, dunia diperkirakan dapat menyelamatkan 189 juta tahun kehidupan dan menambah sekitar US$1,1 triliun bagi ekonomi global.
Selain itu, penguatan layanan kesehatan primer diperkirakan mampu menyelamatkan hingga 60 juta jiwa pada 2030.
Paradoks Indonesia: Kekurangan Perawat tapi Banyak Pengangguran
Di tengah krisis global tersebut, Indonesia justru menghadapi kondisi yang cukup unik dan paradoksal.
Di satu sisi, Indonesia masih mengalami kekurangan tenaga perawat aktif. Namun di sisi lain, jumlah lulusan keperawatan yang menganggur juga sangat besar.
Mengutip laporan Kementerian Ketenagakerjaan tahun 2018 yang dihimpun Stratsea, Indonesia memiliki sekitar 695.248 perawat berkualifikasi.
Namun dari jumlah tersebut, hanya sekitar 446.428 orang yang benar-benar bekerja. Sisanya, sekitar 248.820 orang, tercatat menganggur atau masih mencari pekerjaan.
Bahkan ketika kebutuhan tenaga perawat domestik terpenuhi sesuai rasio pemerintah, Indonesia tetap diperkirakan memiliki surplus sekitar 219.257 lulusan perawat pada tahun tersebut.
Situasi ini membuat banyak lulusan keperawatan menghadapi persaingan kerja yang ketat. Akibatnya, daya tawar tenaga perawat menjadi rendah dan rata-rata gaji perawat hanya sedikit di atas upah minimum.
Kondisi tersebut menjadi salah satu isu penting yang ikut disorot dalam momentum hari perawat sedunia tahun ini.
Indonesia Masih Kekurangan Perawat Aktif
Meski jumlah lulusan keperawatan melimpah, Indonesia ternyata tetap kekurangan tenaga perawat aktif jika dibandingkan dengan jumlah populasi nasional.
WHO menetapkan rasio ideal sebesar 1,58 perawat aktif per 1.000 penduduk. Sementara pemerintah Indonesia menetapkan target lebih tinggi, yakni 1,80 perawat per 1.000 penduduk.
Namun hingga kini, kedua target tersebut masih belum tercapai.
Data Sistem Informasi SDM Kesehatan Kementerian Kesehatan menunjukkan Indonesia saat ini hanya memiliki sekitar 356.960 perawat aktif atau setara 1,30 per 1.000 penduduk.
Artinya, Indonesia masih membutuhkan tambahan sekitar 75.000 hingga 135.000 tenaga perawat untuk mencapai standar ideal tersebut.
Perbedaan data antara Kementerian Kesehatan dan Kementerian Ketenagakerjaan terutama disebabkan perbedaan definisi tenaga kerja.
Kementerian Ketenagakerjaan memasukkan perawat independen seperti tenaga home care mandiri, sedangkan data Kementerian Kesehatan hanya mencatat perawat yang terdaftar dalam sistem resmi fasilitas kesehatan.
Kenapa Indonesia Bisa Mengalami Kondisi Ini?
Setidaknya terdapat dua penyebab utama di balik fenomena surplus lulusan tetapi kekurangan tenaga perawat aktif di Indonesia.
Pertama, masih kuatnya persepsi bahwa Indonesia mengalami krisis tenaga kesehatan. Persepsi tersebut membuat kapasitas pendidikan keperawatan terus diperbesar selama bertahun-tahun.
Pada 2006, WHO memang pernah memasukkan Indonesia ke dalam daftar 57 negara yang mengalami krisis sumber daya manusia kesehatan atau human resources for health.
Kedua, pertumbuhan institusi pendidikan keperawatan berlangsung sangat cepat.
Pada 2008, Indonesia hanya menghasilkan sekitar 34.000 lulusan perawat per tahun. Namun satu dekade kemudian, kapasitas produksi melonjak menjadi sekitar 138.206 lulusan per tahun atau meningkat hampir empat kali lipat.
Sayangnya, pertumbuhan tersebut tidak diimbangi kemampuan pasar kerja menyerap tenaga keperawatan dalam jumlah besar. Akibatnya, banyak lulusan kesulitan mendapatkan pekerjaan tetap.
Kurangnya Rumah Sakit Jadi Hambatan
Masalah utama Indonesia sebenarnya bukan hanya jumlah tenaga perawat, tetapi kapasitas sistem kesehatan dalam menyerap tenaga kerja yang tersedia.
Menurut Kementerian Ketenagakerjaan, Indonesia membutuhkan tambahan sekitar 584 rumah sakit untuk mencapai target perekrutan tenaga perawat pemerintah pada 2024.
Jumlah tersebut bahkan harus meningkat menjadi sekitar 1.958 rumah sakit baru jika ingin menyerap seluruh tenaga perawat yang tersedia.
Namun realisasi target tersebut terkendala keterbatasan anggaran pemerintah dan investasi sektor swasta.
Pandemi COVID-19 memang sempat meningkatkan perekrutan tenaga kesehatan secara besar-besaran. Namun jumlah tersebut tetap belum cukup untuk menyerap surplus lulusan keperawatan maupun memenuhi rasio ideal perawat nasional.
Hari Perawat Sedunia Jadi Momentum Evaluasi
Momentum hari perawat sedunia tahun ini menjadi pengingat bahwa persoalan keperawatan tidak hanya menyangkut jumlah tenaga kerja, tetapi juga kualitas sistem kesehatan secara keseluruhan.
Indonesia membutuhkan kebijakan yang lebih terintegrasi antara sektor pendidikan, ketenagakerjaan, dan layanan kesehatan agar tidak terus menghasilkan surplus lulusan tanpa penyerapan kerja yang memadai.
Distribusi tenaga perawat juga menjadi tantangan besar. Banyak daerah terpencil masih kekurangan tenaga kesehatan, sementara kota-kota besar justru mengalami penumpukan pencari kerja di sektor keperawatan.
Di tingkat global, profesi perawat kini semakin dipandang sebagai salah satu fondasi utama keamanan kesehatan dunia.
Tanpa jumlah tenaga perawat yang cukup dan distribusi yang merata, kemampuan negara menghadapi pandemi, konflik, hingga krisis kemanusiaan akan semakin rentan.
Karena itu, hari perawat sedunia bukan hanya menjadi momen apresiasi terhadap pengabdian tenaga perawat, tetapi juga refleksi besar mengenai masa depan sistem kesehatan dunia dan Indonesia.
Tinggalkan Komentar
Komentar