Periskop.id - Mazda resmi mengoperasikan fasilitas perakitan kendaraan pertamanya di Indonesia. Pabrik bernama Mazda Indonesia Plant ini berdiri di Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dengan nilai investasi tembus Rp400 miliar.
Presiden Direktur PT Eurokars Produksi Pratama sekaligus Chief Operating Officer PT Eurokars Motor Indonesia Ricky Thio menyebut peresmian pabrik ini sebagai tonggak penting perjalanan Mazda di Tanah Air. Menurutnya, momentum ini menegaskan komitmen jangka panjang perusahaan yang telah dipercaya menjadi agen pemegang merek Mazda sejak 2017.
"Hari ini merupakan tonggak penting dalam perjalanan Mazda di Indonesia. Peresmian Mazda Indonesia Plant bukan sekadar menghadirkan fasilitas perakitan pertama Mazda di Indonesia, tetapi juga menjadi fondasi bagi masa depan Mazda di Indonesia," kata Ricky dalam peresmian Mazda Indonesia Plant di Citeureup, Bogor, Selasa (28/7).
Pabrik yang dikelola PT Eurokars Produksi Pratama itu berdiri di lahan seluas hampir 65.000 meter persegi. Fasilitas ini dirancang mengikuti standar manufaktur global Mazda.
Pada tahap awal, Mazda CX-30 menjadi model pertama yang dirakit secara lokal di pabrik tersebut. Kapasitas produksinya disiapkan lebih dari 10.000 unit per tahun melalui operasional dua shift, seiring perkembangan bisnis ke depan.
Ricky menambahkan, fasilitas ini juga disiapkan untuk mendukung pengembangan model-model Mazda lainnya di masa mendatang. Perusahaan disebut membuka peluang memperbesar penggunaan komponen lokal lewat kerja sama dengan industri pendukung nasional.
"Ke depan, Mazda Indonesia Plant akan menjadi fondasi bagi pengembangan manufaktur Mazda di Indonesia, mulai dari pengembangan model-model baru, peningkatan kapasitas produksi secara bertahap, hingga penguatan kolaborasi dengan industri pendukung nasional," ujarnya.
Dari sisi proses produksi, seluruh tahapan perakitan di pabrik ini disebut telah mengadopsi sistem manufaktur digital yang bisa ditelusuri secara menyeluruh. Setiap kendaraan yang selesai dirakit wajib melewati serangkaian pengujian kualitas, mulai dari penyetelan bodi, wheel alignment, uji dinamis di lintasan khusus, hingga pemeriksaan akhir sebelum dikirim ke konsumen.
Senior Executive Officer ASEAN Business Office Mazda Motor Corporation Toru Nakajima menyebutkan, pihaknya turut menyiapkan program pelatihan intensif bagi tenaga kerja Indonesia dengan pendampingan langsung dari Mazda Motor Corporation. Program tersebut mencakup transfer pengetahuan manufaktur, sistem produksi, hingga budaya kerja yang berorientasi pada kualitas.
"Kami percaya bahwa kualitas dibangun oleh manusia, disempurnakan melalui proses yang disiplin, dan dipertahankan melalui perbaikan yang berkelanjutan. Karena itu, setiap kendaraan yang dirakit di fasilitas ini harus menghadirkan kualitas, craftsmanship, performa, keandalan, dan pengalaman berkendara yang diharapkan pelanggan Mazda di Indonesia," ujar Nakajima.
Pemerintah menyambut positif kehadiran pabrik ini karena dinilai memperkuat industri manufaktur otomotif nasional. Selain menambah kapasitas produksi kendaraan di dalam negeri, investasi ini diharapkan mendorong alih teknologi, pengembangan tenaga kerja, hingga perluasan penyerapan lapangan kerja.
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian Setia Diarta menyampaikan apresiasi atas komitmen investasi tersebut. "Pemerintah mengapresiasi komitmen investasi Mazda melalui pembangunan Mazda Indonesia Plant sebagai bagian dari upaya memperkuat industri manufaktur otomotif nasional," katanya.
Setia berharap kapasitas produksi 10.000 unit per tahun dari pabrik ini bisa memberi nilai tambah lebih besar bagi perekonomian nasional lewat peningkatan aktivitas manufaktur dalam negeri, penguatan alih teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta perluasan penyerapan tenaga kerja di sektor otomotif.
"Semoga investasi ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat daya saing industri otomotif nasional sekaligus mempererat kemitraan antara Pemerintah dan Mazda dalam mewujudkan industri otomotif Indonesia yang maju, berdaya saing, dan berkelanjutan," pungkas Setia.
Tinggalkan Komentar
Komentar