Periskop.id – Penjualan produk fashion melalui kanal digital terus menunjukkan pertumbuhan seiring perubahan cara konsumen memilih pakaian. Data internal SIRCLO mencatat jumlah pesanan kategori fashion sepanjang semester I 2026 meningkat 44% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan lebih tinggi terlihat pada kanal live streaming. Pesanan dari sejumlah merek fashion yang menggunakan format tersebut disebut melonjak hampir lima kali lipat secara tahunan. Tren ini menunjukkan, konsumen membutuhkan pengalaman belanja yang tidak hanya praktis, tetapi juga mampu memberikan gambaran produk secara lebih nyata sebelum transaksi dilakukan.
Di tengah banyaknya pilihan merek, platform, promosi, dan konten, keputusan membeli pakaian secara daring menjadi semakin kompleks. Konsumen mempertimbangkan kesesuaian ukuran, potongan, bahan, warna, kualitas, serta kemungkinan sebuah produk dipadukan dengan koleksi yang telah dimiliki.
Kondisi tersebut mendorong fashion tidak lagi dipandang sebatas tren musiman. Produk pakaian mulai diperlakukan sebagai style investment, yakni pembelian yang dinilai berdasarkan kemampuan produk mencerminkan identitas pribadi sekaligus tetap relevan digunakan dalam berbagai kesempatan.
Visual Produk Jadi Penentu Kepercayaan
Vice President of Account Management SIRCLO Arnold Oscar Suandrea Chandra mengatakan, tantangan utama merek fashion di kanal digital adalah mengurangi keraguan konsumen sebelum mereka menyelesaikan transaksi.
“Konsumen produk fashion saat ini tidak hanya memikirkan tampilan, tetapi juga ingin memahami bagaimana sebuah produk terlihat saat dikenakan, apakah fit dan cutting-nya sesuai, serta apakah kualitas material dan detailnya sepadan dengan ekspektasi. Karena itu, brand perlu menyeimbangkan pengalaman digital yang mampu memberikan keyakinan sebelum checkout, sekaligus memastikan kesiapan operasional agar berlanjut menjadi transaksi.”
Berbeda dengan pembelian di toko fisik, konsumen yang berbelanja daring tidak dapat langsung menyentuh bahan, mencoba ukuran, atau melihat warna produk dalam pencahayaan berbeda. Foto katalog saja tidak selalu cukup, terutama untuk produk yang memiliki karakter potongan kuat atau harga relatif tinggi.
Format live streaming kemudian dimanfaatkan untuk memberikan bukti visual secara langsung. Pembawa acara dapat memperlihatkan detail bahan, mencoba produk, menjelaskan ukuran dan potongan, memberi rekomendasi gaya, serta menjawab pertanyaan calon pembeli secara waktu nyata.
Namun, pengalaman visual yang menarik tetap harus diimbangi kesiapan operasional. Informasi stok, harga, promosi, layanan pelanggan, pembayaran, hingga pengiriman harus berjalan konsisten agar minat yang muncul selama siaran dapat berlanjut menjadi transaksi.
Pakaian Jadi Produk Terlaris di E-Commerce
Tingginya minat terhadap fashion daring juga terlihat dalam Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Penggunaan Internet APJII 2025. Pakaian dan aksesori menjadi kelompok produk yang paling banyak dibeli secara daring dengan proporsi 43,74%.
Posisinya berada jauh di atas produk kecantikan dan perawatan diri sebesar 14,57%, perlengkapan rumah tangga 11,50%, serta makanan dan minuman 10,64%. Survei tersebut melibatkan 8.700 responden berusia minimal 13 tahun yang tersebar di 38 provinsi.
ECDB memperkirakan pendapatan e-commerce kategori fashion di Indonesia mencapai 15,885 miliar dolar AS pada 2025. Industri tersebut diproyeksikan tumbuh sekitar 10–15% sepanjang 2026.
Sebagai konteks, keseluruhan pasar e-commerce Indonesia menghasilkan pendapatan sekitar US$68,236 miliar pada 2025. ECDB juga memperkirakan pasar secara keseluruhan tumbuh 10–15% pada 2026.
Data internal SIRCLO tidak otomatis mewakili seluruh industri fashion nasional. Namun, pertumbuhan pesanan yang tercatat perusahaan sejalan dengan besarnya minat masyarakat membeli pakaian secara daring dan proyeksi penguatan pasar e-commerce.
Gen Z Lebih Mengutamakan Relevansi daripada Nama Besar
Perubahan perilaku semakin terlihat pada kelompok konsumen muda. Riset Boston Consulting Group bersama Women’s Wear Daily memperkirakan Gen Z dan Gen Alpha akan menyumbang sekitar 40% pasar fashion Amerika Serikat dalam satu dekade mendatang.
Riset yang mengolah lebih dari 9.000 respons konsumen dan 50.000 percakapan media sosial itu menemukan perjalanan belanja generasi muda semakin terfragmentasi dan dipengaruhi media sosial, kreator, kecerdasan buatan, serta relevansi budaya.
Generasi berusia 28 tahun ke bawah juga dinilai lebih berorientasi pada produk daripada loyalitas terhadap nama merek. Warisan dan usia sebuah merek tidak lagi otomatis menentukan nilainya. Keaslian, energi kreator, kesesuaian dengan budaya, dan kemampuan produk mewakili ekspresi personal justru semakin menentukan keputusan pembelian.
Bagi perusahaan fashion, perubahan tersebut membuat pemasaran tidak cukup berhenti pada iklan untuk menarik perhatian. Merek perlu mempertahankan keyakinan konsumen dalam seluruh perjalanan belanja, mulai dari menemukan produk, mencari informasi, mempertimbangkan ukuran, melakukan pembayaran, hingga menerima pesanan.
Kolaborasi SIRCLO dan Levi’s
Salah satu penerapan strategi tersebut terlihat dalam kolaborasi SIRCLO dengan Levi’s melalui layanan StreamLab. Dalam periode Januari–Juni 2026, jumlah pesanan dari sesi live streaming Levi’s meningkat lebih dari dua kali lipat, sedangkan jumlah tayangannya bertambah lebih dari enam kali lipat dibandingkan periode yang sama pada 2024.
Pertumbuhan didorong oleh penambahan durasi siaran saat kampanye, kerja sama dengan kreator, peningkatan jumlah konten, harga khusus, flash sale, dan pemberian kupon.
Selain produksi siaran langsung, pengelolaan e-commerce mencakup pencantuman produk, pelaksanaan kampanye, layanan pelanggan, pemenuhan pesanan, hingga pemantauan performa. Dalam kolaborasi yang berjalan lebih dari tujuh tahun, jumlah pesanan bulanan Levi’s disebut tumbuh lebih dari 11 kali lipat antara April 2019 dan Juni 2026.
Pencapaian tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan fashion daring tidak hanya bergantung pada konten visual. Tayangan langsung perlu terhubung dengan pengelolaan stok, layanan pelanggan, pemrosesan pesanan, dan distribusi yang mampu memenuhi ekspektasi pembeli.
Bagi merek fashion, tantangan berikutnya adalah menjadikan kanal digital sedekat mungkin dengan pengalaman mencoba produk di toko. Visual yang informatif dapat menarik dan meyakinkan konsumen, tetapi kesiapan operasional tetap menentukan apakah keyakinan itu berakhir pada transaksi dan pembelian ulang.
Tinggalkan Komentar
Komentar