Periskop.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya kabar positif mengenai performa perkebunan teh nasional pada 2024. Berdasarkan data terbaru, produksi teh Indonesia berhasil mencapai angka 118,9 ribu ton.
Angka ini menunjukkan adanya peningkatan sebesar 2,05% jika dibandingkan dengan capaian produksi pada 2023 yang hanya sebesar 116,5 ribu ton. Kenaikan tipis ini memberikan harapan bagi para pelaku industri di tengah berbagai tekanan ekonomi global.
Meskipun angka pertumbuhan di tahun 2024 terlihat menggembirakan, fakta sejarah menunjukkan bahwa produksi teh di Indonesia sebenarnya sedang mengalami penurunan dalam jangka panjang.
Jika menoleh ke belakang, tepatnya pada tahun 2003, produksi teh Indonesia sempat berada di level yang sangat tinggi yakni mencapai 169,8 ribu ton. Namun, selang sepuluh tahun kemudian pada 2013, angka tersebut merosot menjadi 145,5 ribu ton.
Penurunan ini terus berlanjut hingga tahun 2023 yang hanya menyentuh 116,5 ribu ton. Hal ini menggambarkan bahwa industri teh nasional sedang berjuang melawan tren penurunan yang sudah berlangsung selama dua dekade terakhir.

Salah satu penyebab utama dari penurunan produksi teh secara masif ini adalah berkurangnya luas lahan perkebunan di Indonesia secara signifikan. Maraknya alih fungsi lahan perkebunan teh ke berbagai penggunaan lain, mulai dari hortikultura intensif, agrowisata, kawasan perumahan, hingga industri, menjadi penyebab dari persoalan.
Alih fungsi lahan paling mencolok terjadi di Jawa Barat, provinsi dengan luas perkebunan teh terbesar di Indonesia yang mencakup sekitar 79,21% dari total luas perkebunan teh nasional.

Mengutip studi berjudul “Dinamika Alih Fungsi Lahan Perkebunan Teh di Jawa Barat: Perspektif Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan”, dalam periode 2021 hingga 2024, sekitar 11.000 hektare lahan teh di Jawa Barat tercatat telah beralih fungsi.
Di Pangalengan, luas lahan yang dikonversi mencapai lebih dari 90 hektare. Sementara itu, di kawasan Puncak Cianjur dan Bogor, alih fungsi lahan tanpa izin resmi tercatat melampaui 1.600 hektare.
Di luar itu, sebagian area di Kawasan Perkebunan Teh Ciater juga dilaporkan mengalami kerusakan, tidak lagi produktif, serta menghadapi masalah okupansi lahan.
Kondisi penurunan produksi ini sangat disayangkan karena terjadi justru saat minat masyarakat terhadap konsumsi teh sedang berada di tren yang positif. Data dari Kementerian Pertanian (Kementan) menunjukkan bahwa konsumsi teh per kapita masyarakat Indonesia pada tahun 2022 telah mencapai 0,38 kilogram per tahun.
Angka ini meningkat cukup signifikan jika dibandingkan dengan tingkat konsumsi pada tahun 2008 yang hanya sebesar 0,23 kilogram per tahun. Peningkatan konsumsi ini menandakan bahwa pasar domestik memiliki potensi yang sangat besar untuk terus berkembang.

Melesatnya popularitas produk teh siap minum atau ready to drink di kalangan generasi muda menjadi salah satu pendorong utama dari naiknya konsumsi tersebut. Munculnya berbagai produk minuman inovatif seperti teh hijau dengan rasa buah hingga teh herbal memberikan nuansa modern dalam tradisi minum teh yang telah lama ada di Indonesia.
Tinggalkan Komentar
Komentar