Periskop.id - Industri teh Indonesia terus menunjukkan eksistensinya sebagai salah satu komoditas perkebunan yang krusial bagi perekonomian negara. 

Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), total luas perkebunan teh di seluruh penjuru Indonesia pada tahun 2024 tercatat mencapai 97,5 ribu hektare. Menariknya, sebaran lahan hijau ini masih terkonsentrasi di wilayah barat Indonesia, terutama di Pulau Jawa dan Sumatera.

Data BPS tersebut secara jelas memetakan lima provinsi dengan luas areal perkebunan teh terbesar di Indonesia untuk tahun 2024. Jawa Barat menempati posisi puncak yang tak tergoyahkan dengan kontribusi mencapai 79,21% dari total nasional, atau setara dengan 77,2 ribu hektare.

Provinsi dengan luas perkebunan teh terluas di Indonesia. Sumber: Badan Pusat Statistik
Provinsi dengan luas perkebunan teh terluas di Indonesia. Sumber: Badan Pusat Statistik

Posisi kedua ditempati oleh Jawa Tengah dengan luas lahan 7,9 ribu hektare atau 8,17%.

Sementara itu, wilayah Sumatera juga menunjukkan perannya dengan tiga provinsi utama. Sumatera Utara berada di urutan ketiga dengan luas 3,5 ribu hektare atau 3,61%, disusul oleh Sumatera Barat dengan 2,9 ribu hektare atau 2,95%. 

Posisi kelima ditempati oleh Provinsi Jambi yang mengelola lahan seluas 1,9 ribu hektare atau sekitar 2% dari total lahan nasional.

Luas perkebunan teh di lima provinsi pada 2024. Foto/ilustrasi dihasilkan oleh AI.

Mengapa Jawa Barat Begitu Penting Bagi Industri Teh?

Dominasi Jawa Barat yang hampir menyentuh angka 80% membuktikan bahwa provinsi ini merupakan jantung utama bagi budidaya teh di Indonesia. 

Hal ini bukan tanpa alasan, sebab tanaman teh membutuhkan kondisi alam yang sangat spesifik untuk dapat tumbuh secara optimal. Suhu udara yang konstan serta tingkat kelembaban yang stabil merupakan keadaan sempurna bagi pertumbuhan tanaman ini.

Secara geografis, kondisi tersebut dapat ditemukan di wilayah beriklim tropis dan subtropis di benua Asia, tempat di mana mayoritas produksi teh dunia dihasilkan. Dataran tinggi yang sejuk merupakan tempat yang paling kondusif untuk memproduksi daun teh dengan kualitas tinggi. 

Kondisi tanah dan cuaca di dataran tinggi memungkinkan proses fotosintesis berjalan lebih lambat namun menghasilkan konsentrasi aroma serta rasa yang lebih kuat pada pucuk daunnya.

Tidak hanya itu, luasnya lahan perkebunan teh di Jawa Barat juga didorong oleh perjalanan panjang industri ini sejak era kolonial Belanda. Melansir dari laman resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat, wilayah dii sekitar pegunungan Bandung dan banyak daerah lainnya di Jawa Barat telah ditanami tanaman teh sejak 1830-an.

Kemudian pada periode 1928–1938, terdapat 324 perusahaan perkebunan di Hindia Belanda dan 259 atau 78% diantaranya berada di Jawa Barat.

Fakta ini sekaligus menjelaskan alasan di balik kemasyhuran daerah Puncak di Bogor atau wilayah dataran tinggi lainnya di Jawa Barat sebagai destinasi perkebunan teh legendaris.