periskop.id - Deputi Bidang Perencanaan Makro Pembangunan Kementerian PPN/Bappenas Eka Candra Buana menegaskan Indonesia tengah berada pada fase krusial pembangunan nasional.  

Saat ini arah kebijakan fiskal dan pembiayaan pembangunan harus mampu menjawab tantangan global sekaligus memastikan keberlanjutan lintas generasi.

"Pertumbuhan ekonomi ke depan tidak cukup hanya tinggi, tetapi harus berkualitas, inklusif, dan bertumpu pada pembangunan sumber daya manusia," ujarnya dalam agenda diskusi publik secara daring, Kamis (8/1).

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, pihaknya menempatkan trisula pembangunan sebagai fondasi transformasi, yakni pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, pemerataan dan pengentasan kemiskinan, serta pembangunan SDM yang berkualitas.

Dalam kerangka tersebut, Eka menjelaskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Danantara menjadi dua instrumen unggulan yang dirancang saling melengkapi.

MBG diposisikan sebagai investasi hulu pada siklus hidup manusia, yang bertujuan memperkuat kualitas generasi masa depan melalui perbaikan gizi dan kesehatan anak sejak dini.

“MBG bukan sekadar program sosial. Ini adalah investasi sumber daya manusia lintas generasi. Dampak ekonominya memang tidak langsung, tetapi akan terwujud melalui peningkatan kemampuan belajar, produktivitas tenaga kerja, dan pendapatan sepanjang siklus hidup,” tegas Eka.

Sementara itu, Danantara dikatakan Eka berperan sebagai instrumen pembiayaan strategis yang mendorong investasi produktif pada sektor-sektor bernilai tambah tinggi.

Menurut Eka, Danantara dirancang untuk memperkuat efektivitas kebijakan fiskal melalui pendekatan investasi yang memiliki multiplier dan spillover effect besar terhadap perekonomian.

Eka menekankan, keterkaitan MBG dan Danantara menjadi kunci agar pembangunan berjalan seimbang. MBG menyiapkan pasokan sumber daya manusia yang sehat dan produktif, sementara Danantara menciptakan permintaan melalui investasi yang menyerap tenaga kerja berkualitas.

"Tanpa SDM unggul, investasi tidak akan optimal. Sebaliknya, tanpa investasi yang produktif, peningkatan kualitas SDM tidak akan terserap secara maksimal,” pungkas Eka.