periskop.id – Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono mengungkapkan rencana pemerintah untuk memberikan Jaminan Hidup (Jadup) bagi para petani, petambak, dan nelayan yang kehilangan mata pencaharian akibat bencana banjir bandang di wilayah Sumatera selama masa pemulihan berlangsung.
“Sebelum kemarin kami pergi ke sana, kami berkoordinasi dengan Menko Pangan, kami mengusulkan untuk ada jaminan hidup bagi yang terdampak itu, untuk kurun waktu tertentu. Menko setuju, nanti akan disampaikan kepada Pak Presiden,” ujar Trenggono dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta, Rabu (14/1).
Usulan ini muncul sebagai respons atas kekhawatiran mengenai nasib para korban bencana selama masa rehabilitasi lahan. Proses pemulihan sawah yang tertimbun lumpur maupun perbaikan tambak yang hancur diperkirakan memakan waktu cukup lama, sekitar enam hingga tujuh bulan.
Selama periode tersebut, para petani dan petambak praktis tidak memiliki penghasilan alias menganggur. Mereka tidak bisa berproduksi karena lahan usaha mereka rusak parah diterjang banjir.
“Jadi misalnya 6 bulan, barangkali 7 bulan, sesuai. Karena mereka kan tidak bisa bergerak apa-apa itu,” jelas Trenggono menambahkan durasi estimasi pemberian bantuan.
Sebelumnya, Anggota Komisi IV DPR RI mendesak pemerintah memikirkan nasib perut para korban pascabencana. Meski Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui penghapusan utang kredit (KUR), kebutuhan harian masyarakat tetap harus terpenuhi selama mereka belum bisa kembali bekerja.
Trenggono mengakui bahwa skema Jadup ini masih dalam tahap perancangan dan finalisasi di tingkat kementerian koordinator. Namun, lampu hijau dari Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menjadi sinyal positif agar program ini segera dieksekusi.
Di sisi lain, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang turut hadir dalam rapat tersebut memastikan ketersediaan pangan pokok aman. Pihaknya telah mengirimkan ribuan ton beras dan minyak goreng sebagai bantuan tanggap darurat.
Amran menjelaskan strategi jangka pendek untuk mengisi kekosongan pendapatan petani. Selain bantuan pangan, Kementan akan memberikan benih tanaman semusim yang cepat panen (palawija) sembari menunggu perbaikan sawah rampung.
“Kami beri bantuan tanaman semusim yang cepat. Langkah kedua adalah sawah yang ringan. Ini bisa langsung insya Allah, maksimal 6 bulan,” tambah Amran.
Sinergi antar-kementerian ini diharapkan mampu menjadi jaring pengaman sosial bagi masyarakat terdampak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Pemerintah berupaya agar tidak ada korban bencana yang telantar atau kelaparan selama proses bangkit dari musibah.
Komisi IV DPR RI pun menyambut baik inisiatif tersebut dan meminta pemerintah segera merealisasikannya. Bantuan tepat sasaran dinilai krusial untuk menjaga stabilitas ekonomi dan sosial di daerah terdampak bencana.
Tinggalkan Komentar
Komentar