iklan periskop
Ekonomi

Danantara hingga MBG Disorot, Moody’s Ubah Outlook Kredit Indonesia

Moody’s menurunkan outlook kredit Indonesia menjadi negatif, menyoroti risiko Danantara, kebijakan fiskal, dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi.

6 bulan yang lalu · 2 mnt baca
Moody's Rating
Logo Moody's di menara 7 World Trade Center difoto di New York, Selasa (2/8/2011). Foto oleh Antara/Reuters/Mike Segar/am.
Ukuran teks
Sedang

periskop.id - Lembaga pemeringkat internasional Moody’s Ratings menurunkan outlook peringkat kredit Pemerintah Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil. ‎Salah satu penurunan peringkat tersebut adalah pembentukan Danantara dinilai menimbulkan ketidakpastian terkait pendanaan, tata kelola, dan prioritas investasinya. 

‎Dengan kewenangan atas aset BUMN yang melebihi US$900 miliar, serta agenda ambisius untuk merasionalisasi BUMN, meningkatkan imbal hasil, dan berinvestasi di sektor prioritas, kurangnya koordinasi kebijakan meningkatkan risiko terhadap kredibilitas dan potensi kewajiban kontinjensi negara. 

‎"Kewenangan Danantara atas kebijakan dividen BUMN juga dapat menekan kesehatan keuangan BUMN, mengingat dividen merupakan sumber pendanaan utama," tulis pernyataan tersebut, dikutip Jumat (6/2).

‎Menurut mereka, meskipun pemerintah telah membentuk kerangka hukum dan kelembagaan bagi Danantara, masih terdapat pertanyaan terkait prioritas investasi, manajemen risiko, dan hubungan regulasi.

‎Tak hanya itu, Moody's juga menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hingga saat ini, program tersebut dibiayai melalui pemangkasan dan pengalihan anggaran antar kementerian, termasuk anggaran pemeliharaan infrastruktur. 

‎Mereka menilai perluasan lebih lanjut berpotensi membebani kemampuan pemerintah dalam mengalokasikan ulang anggaran yang relatif kecil dibandingkan ukuran ekonomi.

‎Selain itu, usulan perubahan kerangka fiskal, termasuk kemungkinan peningkatan batas defisit 3%, perdebatan mengenai mandat Bank Indonesia, serta perubahan kebijakan sektor sumber daya alam, menunjukkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan.

‎"Hal ini berpotensi melemahkan investasi asing langsung serta stabilitas ekonomi dan pasar keuangan," tegasnya. 

‎Di luar ketidakpastian kebijakan, meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap pertumbuhan pendapatan, lapangan kerja, dan standar hidup menjadi pendorong utama aksi protes selama setahun terakhir. 

‎"Kondisi ini menunjukkan munculnya risiko terhadap stabilitas politik domestik," tutupnya. 

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Makan Bergizi Gratis (MBG), BPI danantara, moody's, dan stabilitas ekonomi dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.