Periskop.id - Kondisi ekonomi masyarakat Indonesia sedang menghadapi tantangan yang cukup serius. Berdasarkan data terbaru dari Mandiri Institute, jumlah penduduk yang masuk dalam kategori kelas menengah di Indonesia terus melanjutkan tren penurunan pada tahun 2025. 

Fenomena ini mengindikasikan adanya tekanan ekonomi yang membuat jutaan orang harus rela turun kasta secara finansial.

Sepanjang tahun 2025, jumlah kelas menengah tercatat turun menjadi 46,7 juta orang. Penurunan sebanyak 1,1 juta orang ini jauh lebih dalam dibandingkan dengan angka penurunan pada tahun 2024 yang hanya sebesar 0,4 juta orang. 

Di sisi lain, kelompok masyarakat calon kelas menengah atau aspiring middle class justru mengalami kenaikan sebanyak 4,5 juta orang. Hal ini menunjukkan bahwa banyak masyarakat kelas menengah yang bergeser turun ke level di bawahnya.

Konsumsi Melambat di Tengah Gempuran Tren Gaya Hidup

Tekanan pada kelas menengah terlihat jelas dari angka konsumsi mereka yang hanya tumbuh sebesar 4,1%. Angka tersebut berada di bawah pertumbuhan konsumsi per kapita nasional yang mencapai 4,6%. 

Meskipun melambat, pola pengeluaran kelompok ini menunjukkan pergeseran yang menarik ke arah konsumsi non pangan yang bersifat lifestyle-driven atau didorong oleh gaya hidup.

Pengeluaran kelas menengah untuk kategori non pangan tumbuh tangguh di angka 6,4%, meningkat pesat dari hanya 3,2% pada tahun sebelumnya. 

Lonjakan tertinggi terjadi pada sektor transportasi yang tumbuh 22,5% secara tahunan. Fenomena ini sejalan dengan tingginya mobilitas masyarakat yang gemar melakukan liburan jarak pendek sepanjang tahun 2025. 

Selain itu, konsumsi barang tahan lama juga meningkat tajam, terutama pada pembelian telepon seluler yang naik hingga 31,2% secara tahunan.

Ketimpangan Ekonomi Antarwilayah

Meskipun secara nasional jumlah kelas menengah mengalami penurunan, kondisi di tingkat daerah ternyata tidak seragam. 

Dinamika ekonomi antarprovinsi menunjukkan adanya ketimpangan atau sifat asimetris dalam menghadapi tekanan ekonomi. 

Beberapa provinsi masih mampu mencatat pertumbuhan positif pada jumlah kelas menengah mereka, sementara wilayah lain justru mengalami kontraksi yang sangat dalam.

Melihat perbedaan pola ini, para ahli menekankan perlunya pendekatan kebijakan yang berbeda bagi tiap daerah. 

Wilayah yang masih mencatat pertumbuhan harus didorong untuk menjaga momentum ekonomi, sementara daerah yang mengalami penurunan jumlah kelas menengah memerlukan penguatan daya beli serta peningkatan kualitas lapangan pekerjaan.

Berikut adalah sepuluh provinsi yang berhasil mencatat peningkatan jumlah kelas menengah paling banyak dibandingkan tahun 2024 (dalam ribuan orang):

  1. Jawa Barat: 358
  2. Jawa Timur: 152
  3. DI Yogyakarta: 63
  4. Kalimantan Barat: 55
  5. Sulawesi Selatan: 45
  6. Sulawesi Tenggara: 36
  7. Kalimantan Timur: 31
  8. Nusa Tenggara Barat: 30
  9. Sumatera Utara: 21
  10. Papua Selatan: 11

Sebaliknya, berikut adalah sepuluh provinsi yang mencatat penurunan jumlah kelas menengah terdalam dibandingkan tahun sebelumnya (dalam ribuan orang):

  1. Sumatera Selatan: -693
  2. Banten: -268
  3. Jawa Tengah: -161
  4. Lampung: -134
  5. DKI Jakarta: -119
  6. Sulawesi Barat: -76
  7. Sulawesi Utara: -73
  8. Aceh: -71
  9. Sulawesi Tengah: -65
  10. Jambi: -54