periskop.id - Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi, mengingatkan potensi risiko global akibat penutupan Selat Hormuz di Iran.

Perempuan yang akrab disapa Kiki itu mengatakan sebagai jalur strategis yang menjadi lintasan sekitar 30% perdagangan minyak dunia penutupan ini berpotensi menyebabkan gangguan berkepanjangan yang bisa berdampak langsung pada perekonomian global, termasuk Indonesia.

"Kalau tadi misalnya Selat Hormuz itu ditutup secara berkepanjangan maka ini akan sangat berpengaruh ke global termasuk Indonesia, karena Selat Hormuz ini dilalui oleh 30% perdagangan minyak dunia," ucapnya dalam agenda Market Outlook 2026 di Main Hall Gedung Bursa Efek Indonesia, Selasa (3/3)

Ia menambahkan, Indonesia sebagai importir dan konsumen energi perlu menyiapkan strategi mitigasi untuk menghadapi kemungkinan fluktuasi harga minyak. Selain itu, potensi kenaikan ekonomi global ini diperkirakan akan diiringi oleh lonjakan inflasi di berbagai negara.

“Antisipasi rambatannya ke dalam ekonomi Indonesia, kenaikan dan harganya tentu akan menaikkan inflasi secara global,” tambahnya

Kondisi ini kata dia pada gilirannya mendorong bank-bank sentral untuk menyesuaikan suku bunga, langkah yang secara otomatis akan mengetatkan likuiditas di pasar keuangan internasional.

"Central Bank itu juga akan melihat ini sebagai satu konsideran yang utama hubungannya dan akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi di dalam pasar keuangan global," sambungnya

Sebagaimana diketahui,konflik geopolitik antara AS-Iran ke Israel menyebabkan terganggunya rantai pasok minyak dunia. Media lokal Tasnim sebelumnya melaporkan Garda Revolusi Iran (IRGC) telah menutup jalur pengiriman minyak dan gas Selat Hormuz. Keputusan pemblokiran rute vital ini merespons eskalasi serangan brutal Amerika Serikat bersama Israel ke wilayah Iran pada Sabtu (28/2).

"IRGC sudah memperingatkan berbagai kapal karena suasana yang tak aman di sekitar selat akibat agresi militer AS dan Israel serta tanggapan Iran, saat ini tidak aman untuk melewati selat tersebut," lapor Tasnim.

Akses utama distribusi energi dunia ini secara praktis berhenti beroperasi sepenuhnya. "Dengan penghentian lalu lintas kapal dan tanker melalui Selat Hormuz, selat tersebut pada dasarnya telah ditutup," tulis Tasnim.

Adapun, Selat Hormuz memegang peran sangat krusial sebagai rute perdagangan pasokan minyak global. Perairan sibuk ini membentang dari utara Iran hingga perbatasan selatan dekat Uni Emirat Arab dan Oman.