periskop.id - OJK bersama ILO resmi merilis sistem Enterprise Resource Planning (ERP) khusus untuk sektor peternakan sapi perah. Sistem ini dirancang membuka akses pembiayaan formal yang selama ini sulit dijangkau para peternak.

Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK Adi Budiarso memaparkan, kendala terbesar yang dihadapi peternak sapi perah selama ini adalah minimnya data usaha yang valid. Profil bisnis yang tidak jelas, kapasitas produksi yang simpang siur, serta kondisi keuangan yang belum terdokumentasi membuat lembaga keuangan formal sulit menilai kelayakan kredit mereka.

Advertisement

"Melalui data yang dihasilkan oleh sistem ERP ini, pemeringkat kredit alternatif dapat membangun profil kredit peternak dengan lebih objektif, akurat, dan inklusif," ujar Adi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat.

Sistem ERP memungkinkan data produksi, keuangan, dan operasional koperasi terdokumentasi secara sistematis dan real time. Dengan rekam data yang lebih komprehensif, gambaran kapasitas produksi dan kondisi keuangan peternak jadi lebih mudah dibaca oleh calon pemberi pinjaman.

Sistem tersebut kemudian diintegrasikan dengan layanan Pemeringkat Kredit Alternatif (PKA) dan Penyelenggara Agregasi Jasa Keuangan (PAJK). Integrasi ini, menurut OJK, dirancang sebagai penghubung antara peternak dan ekosistem jasa keuangan formal.

Program digitalisasi ekosistem sapi perah ini bertumpu pada dua fondasi utama, yakni penguatan ekosistem usaha yang berkelanjutan serta pembangunan infrastruktur digital yang andal. Adi menerangkan, keduanya menjadi kerangka yang menopang seluruh program.

Pengembangan sistem ini merupakan bagian dari kolaborasi OJK melalui Pusat Inovasi OJK Infinity bersama ILO dalam program PROMISE 2 IMPACT. Implementasi perdana dilakukan di tiga koperasi sapi perah prioritas di Jawa Timur.

Ketiga koperasi tersebut adalah Koperasi Agro Niaga (KAN) Jabung, Koperasi Peternak Sapi Perah Setia Kawan (KPSP Setia Kawan), dan KPUD Tani Wilis. Total anggota dari ketiganya mencapai 10.000 orang.

OJK bersama para pemangku kepentingan kini tengah membahas perluasan program ke seluruh wilayah Jawa Timur. Keberhasilan implementasi di tiga koperasi itu, menurut OJK, diharapkan menjadi model yang dapat direplikasi di berbagai sektor dan daerah lain di Indonesia.

Langkah digitalisasi data peternak ini dinilai sebagai upaya konkret memangkas asimetri informasi yang selama ini menjadi tembok pemisah antara sektor peternakan dan layanan keuangan formal.