periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap dalam kondisi aman meski terjadi eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang kian memanas. 

‎Menurut Purbaya, pemerintah telah melakukan berbagai simulasi, termasuk skenario kenaikan harga minyak dalam jangka waktu satu tahun anggaran. Hasilnya, kondisi fiskal dinilai masih cukup kuat untuk menyerap tekanan tersebut.

‎"Ada bahas antara lain kalo krisis seperti ini berkepanjangan, tahan gak anggarannya, anggarannya seperti apa. Kalau analisa kita yang ada sekarang sih masih cukup baik, jadi nggak ada masalah," ucap Purbaya kepada media, di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (4/3). 

‎Menurut hal itu tercermin pada kinerja penerimaan negara menunjukkan tren positif. Penerimaan pajak pada Januari–Februari 2026 tercatat tumbuh sekitar 30% secara tahunan. Angka tersebut dinilai signifikan dan mencerminkan perbaikan aktivitas ekonomi serta kepatuhan perpajakan, termasuk di sektor Bea Cukai.

‎"Karena tax collection kita juga membaik, januari-februari kan tumbuhnya 30%. Itu angka yang signifikan sekali, artinya ada perbaikan yang signifikan di ekonomi dan perilaku orang-orang, pajak dan bea cukai," terangnya.

‎Menanggapi adanya potensi lonjakan harga minyak mentah dunia akibat konflik dan kemungkinan gangguan distribusi, termasuk risiko penutupan Selat Hormuz, Purbaya menegaskan bahwa pihaknya telah menghitung berbagai skenario ekstrem, seperti lonjakan harga minyak yang bisa menyentuh di angka US$90 per barel. 

‎"Pokoknya kita hitung simulasi harga minyak level tertentu ya setahun, untuk anggaran setahun ini. Jadi masih bisa di absorb kalo harga minyak naik, kalau terlalu tinggi, tapi kalau ekstrem sekali akan kita hitung ulang. Saya sudah hitung sampai US$92 per barel pun kita masih bisa kendalikan anggaran, jadi enggak ada masalah," jelas Purbaya. 

‎Mantan Ketua LPS itu menjelaskan, tekanan terhadap defisit anggaran masih dapat dikelola selama pemerintah menjaga penerimaan negara tetap optimal dan tidak terjadi kebocoran dalam pengumpulan pajak maupun bea cukai.

‎"Kita pastikan aja pertama tax collection kita, pengumpulan pajak kita sama Bea Cukai enggak ada yang bocor. Itu sudah mengurangi tekanan ke defisit. Nanti kalau itu sudah bagus, kita lihat dampaknya seperti apa, baru kita hitung langkah-langkah yang perlu kita lakukan," terangnya. 

‎Di sisi lali, ketahanan ekonomi nasional menghadapi krisis berkepanjangan, ia optimistis fundamental ekonomi Indonesia tetap solid. Dia menekankan bahwa struktur ekonomi Indonesia yang ditopang sekitar 90% oleh permintaan domestik menjadi bantalan utama terhadap gejolak eksternal.

‎"Ekonomi kita masih bisa maju, enggak ada masalah. Dan kalaupun di atas, asalkan kita bisa jaga domestic demand yang 90% kontribusinya ke ekonomi, kita juga masih bisa survive," Purbaya mengakhiri.