periskop.id - Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings merevisi prospek (outlook) peringkat utang Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil, namun tetap mempertahankan peringkat kredit negara pada level BBB.

‎Dalam laporan Fitch Ratings tersebut revisi outlook ini mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta kekhawatiran atas erosi konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan Indonesia di tengah meningkatnya sentralisasi kewenangan pengambilan kebijakan.

‎"Hal ini dapat melemahkan prospek fiskal jangka menengah, menggerus sentimen investor, serta menekan penyangga eksternal," tulis Fitch Ratings dalam keterangannya, dikutip Kamis (5/3). 

‎Menurutnya, penegasan peringkat mencerminkan rekam jejak Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi, prospek pertumbuhan jangka menengah yang baik, rasio utang pemerintah terhadap PDB yang moderat, serta penyangga eksternal yang cukup. 

‎Namun, kekuatan tersebut dibatasi oleh penerimaan negara yang lemah, biaya pembayaran bunga utang yang tinggi, serta kelemahan struktural seperti indikator tata kelola dibandingkan negara dengan peringkat ‘BBB’ lainnya.

‎Adapun faktor Utama penentu peringkat antara lain, meningkatnya ketidakpastian kebijakan. Fitch memperkirakan kebijakan yang prudent akan tetap dipertahankan, termasuk kepatuhan terhadap batas defisit fiskal 3% dari PDB. 

‎Namun, fokus yang meningkat untuk mencapai target pertumbuhan ambisius 8% dan peningkatan belanja sosial dapat mendorong bauran kebijakan fiskal dan moneter yang lebih longgar secara signifikan, sehingga menciptakan risiko terhadap stabilitas makroekonomi dan keuangan.

‎"Risiko ini tercermin dari masuknya revisi Undang-Undang Keuangan Negara dalam prioritas legislasi 2026. Pelonggaran material atas kerangka fiskal yang telah lama berlaku, termasuk batas defisit 3%, kemungkinan akan melemahkan kredibilitas kebijakan dan kemampuan pembiayaan defisit tanpa dukungan bank sentral," jelas mereka.

‎Faktor selanjutnya, tekanan belanja yang berkelanjutan. Fitch memperkirakan defisit fiskal sebesar 2,9% PDB pada 2026, tidak berubah dari 2025 dan lebih tinggi dari target pemerintah 2,7%. Hal ini mencerminkan asumsi pendapatan yang lebih konservatif seiring proyeksi pertumbuhan yang lebih lambat serta dampak jangka pendek yang terbatas dari upaya peningkatan kepatuhan pajak.‎

‎"Belanja sosial yang lebih tinggi, termasuk program makan bergizi gratis (1,3% PDB), akan mendorong peningkatan belanja. Rencana percepatan belanja pada semester I-2026 juga meningkatkan risiko pelebaran defisit," tuturnya. 

‎Kemudian, penerimaan negara yang lemah. Fitch memperkirakan rasio penerimaan pemerintah umum terhadap PDB rata-rata 13,3% pada 2026–2027 (median ‘BBB’: 25,5%), di tengah ketiadaan langkah signifikan mobilisasi pendapatan.

‎"Pendapatan pemerintah melemah pada 2025 akibat rendahnya penerimaan pajak, pembatalan hampir seluruh kenaikan PPN 1 poin persentase, serta pengalihan permanen dividen BUMN (0,4% PDB) ke sovereign wealth fund (SWF) baru, Danantara," tegasnya. 

‎Lalu, investasi di luar anggaran. Fitch bilang SWF Danantara bertujuan meningkatkan efisiensi BUMN dan mendukung pertumbuhan melalui investasi komersial di luar anggaran. Dana ini berencana menginvestasikan US$26 miliar 1,7% PDB tahun ini pada proyek hilirisasi sektor mineral, energi, pangan, dan pertanian.

‎Dari sisi eksternal, Fitch memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia akan melebar menjadi sekitar 0,8% dari PDB pada 2026 akibat pelemahan ekspor neto.

‎Cadangan devisa diperkirakan tetap berada pada level yang relatif memadai, setara dengan sekitar lima bulan pembayaran transaksi berjalan.

‎Meski demikian, lembaga tersebut menilai risiko arus keluar modal tetap tinggi di tengah volatilitas pasar keuangan. Kondisi tersebut dapat menekan nilai tukar rupiah dan meningkatkan biaya pembiayaan.

‎Dalam konteks kebijakan moneter, Bank Indonesia saat ini mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% sejak September 2025 dengan fokus menjaga stabilitas nilai tukar.

‎Fitch memperkirakan suku bunga dapat dipangkas dua kali hingga mencapai 4,25% pada akhir 2026, seiring inflasi yang diperkirakan tetap berada dalam kisaran target 2,5% ±1%.

‎Di tengah berbagai risiko tersebut, Fitch menilai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia masih relatif kuat. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada di kisaran 5% pada periode 2026–2027, atau sekitar dua kali lebih tinggi dibandingkan median negara dengan peringkat ‘BBB’.

Permintaan domestik diproyeksikan tetap menjadi motor utama pertumbuhan, didukung oleh belanja pemerintah, investasi melalui Danantara, pelonggaran kebijakan moneter, serta aktivitas hilirisasi industri.

Namun, Fitch menilai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% pada 2029 akan sulit tercapai tanpa reformasi struktural yang lebih mendalam.