Periskop.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah akan memberikan penjelasan lengkap, terkait proyeksi ekonomi Indonesia Jumat (13/2). Hajatan bertajuk Indonesia Economic Outlook ini juga digelar untuk menanggapi outlook negatif yang diberikan lembaga pemeringkat Moody's.
Airlangga mengatakan, Presiden Prabowo Subianto meminta jajaran pemerintah menyiapkan penjelasan yang lebih komprehensif kepada publik dan pelaku ekonomi melalui forum Indonesia Economic Outlook.
"Bapak Presiden tadi meminta agar kita membuat penjelasan yang lebih lengkap dalam bentuk serasehan ekonomi, yaitu Indonesia Economic Outlook yang akan diselenggarakan pada hari Jumat nanti," kata Airlangga di Jakarta, Rabu (11/2).
Hal ini disampaikan Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dalam menanggapi laporan lembaga pemeringkat Moody's yang memberikan outlook negatif terhadap perekonomian Indonesia.
Dalam forum tersebut, jelas Airlangga, pemerintah akan memaparkan posisi perekonomian nasional, strategi menjaga stabilitas fiskal, serta berbagai program unggulan yang tengah dijalankan pemerintah. Airlangga menegaskan, pembahasan mengenai laporan Moody’s telah dilakukan dalam rapat internal pemerintah.
Ia memastikan forum Indonesia Economic Outlook akan menjadi sarana untuk memberikan penjelasan detail, sekaligus memperkuat kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia "Di sana akan diberikan penjelasan mengenai posisi pemerintah terkait juga dengan program-program unggulan dari pemerintah," jelasnya.
Airlangga menegaskan, secara keseluruhan peringkat kredit Indonesia masih berada pada level investment grade dari seluruh lembaga pemeringkat global. Selain Moody's, lembaga pemeringkat lain, seperti Fitch Ratings dan Standard & Poor's (S&P) masih mempertahankan penilaian Indonesia pada level layak investasi.
Meski demikian, pemerintah tetap mencermati outlook negatif yang disampaikan Moody's, sebagai bahan evaluasi dan penguatan kebijakan ekonomi.
Menurut Airlangga, pemerintah menilai terdapat sejumlah aspek yang perlu dijelaskan lebih rinci. Khususnya terkait potensi peningkatan penerimaan negara serta arah kebijakan strategis pemerintah, termasuk rencana pengelolaan investasi melalui Danantara Indonesia.
Sebelumnya, Moody's dalam laporannya mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level Baa2, satu tingkat di atas batas investment grade, dengan penyesuaian outlook dari stabil menjadi negatif.
Dalam laporannya, Moody's menyampaikan pentingnya menjaga prediktabilitas pengambilan kebijakan, komunikasi publik, dan kualitas koordinasi antarkementerian/lembaga. Khususnya di tengah perubahan kebijakan dan tata kelola pengelolaan perekonomian yang sedang berjalan.
Moody's juga menyoroti pentingnya memperkuat basis penerimaan negara, untuk mendukung belanja-belanja prioritas dan menopang pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Disiplin Fiskal
Menanggapi hal tersebut, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan, pemerintah tetap menjaga disiplin fiskal di tengah sorotan lembaga pemeringkat internasional Moody’s Investors Service terhadap pengelolaan anggaran negara.
Prasetyo, seusai menghadiri Rapat Pimpinan (Rapim) TNI-Polri di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, menyebut hingga saat ini tidak ada pelanggaran terhadap batas defisit fiskal yang telah ditetapkan.
"Selama ini juga tidak ada yang dilanggar. Batasan defisit juga masih terjaga," katanya soal lembaga rating yang menyarankan Pemerintah RI menjaga belanja, supaya tidak melanggar defisit fiskal.
Menurut Prasetyo, pemerintah berfokus memperkuat fundamental ekonomi nasional dengan mendorong sektor riil serta mengoptimalkan realisasi belanja negara sejak awal tahun. Langkah tersebut dinilai Prasetyo penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memandang, penyesuaian outlook negatif dari lembaga pemeringkat Moody’s ,tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian Indonesia. Perry memastikan, kinerja ekonomi domestik tetap solid, di tengah tingginya gejolak dan ketidakpastian global.
Terbukti, pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2025 tercatat sebesar 5,39%. Secara keseluruhan, ekonomi Indonesia tahun 2025 tumbuh 5,1%. Begitu juga dengan inflasi tetap terjaga pada 2,92%, berada dalam kisaran sasaran, dan stabilitas nilai tukar rupiah terus diperkuat melalui komitmen kuat bank sentral.
Stabilitas sistem keuangan, kata Perry, juga tetap terjaga baik, ditopang likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang terjaga pada level tinggi, serta risiko kredit yang rendah.
Tinggalkan Komentar
Komentar