Periskop.id - Isu mengenai ketahanan energi kini tengah menjadi topik perbincangan yang sangat hangat di panggung internasional. Banyak negara di dunia yang harus memutar otak demi memenuhi kebutuhan listrik, bahan bakar, dan industri dalam negeri mereka karena tingkat konsumsi yang jauh lebih tinggi daripada kemampuan produksinya.
Namun, di sisi lain, terdapat sejumlah negara beruntung yang justru mengalami kondisi sebaliknya. Negara-negara ini mampu menghasilkan sumber energi yang sangat melimpah, bahkan jauh melampaui jumlah yang dihabiskan oleh penduduknya sendiri.
Peta kekuatan komoditas internasional ini terlihat jelas dalam laporan terbaru yang dirilis oleh U.S. Energy Information Administration (EIA), yang kemudian dihimpun oleh Visual Capitalist.
Data ini menampilkan peta sebaran negara yang memproduksi energi lebih banyak dibandingkan dengan yang mereka konsumsi pada 2024, sekaligus memberikan gambaran mengenai negara mana saja yang masih sangat bergantung pada pasokan komoditas dari luar negeri.
Di dalam metode perhitungannya, kesenjangan atau selisih kuantitas tersebut diukur menggunakan satuan baku kuadriliun British thermal units (BTU). Rumus perhitungannya diperoleh dari total produksi energi bersih yang dikurangi dengan total konsumsi energi domestik.
Hasil dengan nilai positif menunjukkan bahwa negara tersebut mengalami surplus atau kelebihan pasokan energi yang bisa diekspor, sedangkan hasil dengan nilai negatif menandakan bahwa negara tersebut mengalami defisit sehingga wajib melakukan impor.
Rusia dan Timur Tengah Rajai Jajaran Papan Atas
Berdasarkan hasil rekapitulasi data tersebut, Rusia tercatat memiliki surplus energi terbesar di dunia. Negara beruang putih ini memproduksi sebanyak 26,0 kuadriliun BTU lebih banyak energi daripada yang mereka konsumsi sendiri pada 2024.
Tingginya angka ini mengukuhkan posisi Rusia sebagai pemasok utama kebutuhan gas alam dan minyak bumi bagi pasar global, meskipun berada di tengah situasi geopolitik yang dinamis.
Tepat di bawah Rusia, negara raksasa minyak dunia yaitu Arab Saudi berada di peringkat kedua dengan mencatatkan angka surplus sebesar 15,1 kuadriliun BTU. Posisi lima besar kemudian dilengkapi oleh Australia di peringkat ketiga dengan kelebihan 11,9 kuadriliun BTU, Kanada di peringkat keempat dengan kelebihan 10,0 kuadriliun BTU, serta Amerika Serikat di peringkat kelima yang membukukan surplus energi signifikan sebesar 9,0 kuadriliun BTU.
Performa Gemilang Indonesia di Sektor Energi Global
Hal yang paling menarik dan patut menjadi kebanggaan bersama adalah performa luar biasa dari Indonesia. Di dalam daftar bergengsi tingkat dunia ini, Indonesia berhasil menempati peringkat keenam secara global dengan mencatatkan angka surplus energi sebesar 8,8 kuadriliun BTU.
Posisi Indonesia ini bahkan berhasil berada di atas negara-negara kaya energi lainnya seperti Norwegia, Qatar, Irak, dan Uni Emirat Arab.
Surplus energi yang dialami oleh Indonesia ini terjadi karena kapasitas produksi mentah di dalam negeri, khususnya dari sektor komoditas batu bara dan gas alam cair (LNG), volumenya masih jauh lebih besar daripada total konsumsi energi masyarakat domestik.
Selain ditopang oleh energi fosil konvensional, posisi Indonesia juga diperkuat oleh statusnya sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia yang menjadi bahan baku utama baterai, serta kepemilikan potensi energi terbarukan yang melimpah seperti panas bumi atau geotermal dan energi surya.
Transformasi dan kekayaan alam inilah yang membuat posisi Indonesia kian strategis sebagai pilar utama dalam rantai pasok energi internasional.
Guna melihat perbandingan secara menyeluruh mengenai negara-negara mana saja yang paling melimpah dalam hal pasokan listrik dan bahan bakar ini, berikut adalah tabel rincian data 15 besar negara dengan surplus energi tertinggi di dunia:
| Peringkat | Negara/Wilayah | Kelebihan Energi (Quadrillion BTU) |
|---|---|---|
| 1 | Rusia | 26,0 |
| 2 | Arab Saudi | 15,1 |
| 3 | Australia | 11,9 |
| 4 | Kanada | 10,0 |
| 5 | Amerika Serikat | 9,0 |
| 6 | Indonesia | 8,8 |
| 7 | Norwegia | 8,3 |
| 8 | Qatar | 7,6 |
| 9 | Irak | 7,0 |
| 10 | Uni Emirat Arab | 6,8 |
| 11 | Iran | 6,2 |
| 12 | Kuwait | 4,7 |
| 13 | Kazakhstan | 4,2 |
| 14 | Aljazair | 3,6 |
| 15 | Nigeria | 3,1 |
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar