periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bercerita dirinya sempat menjadi sasaran kritik masyarakat di media sosial lantaran melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya dinamika global dan tensi geopolitik. 

‎"Walaupun di TikTok saya dimaki-maki orang katanya, 'hey Pak Purbaya, menteri keuangan, kerjanya apa aja lu, tuh rupiah lihatin,' tapi kita menilai harus dengan fair," ucap Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa, Jakarta, Rabu (11/3). 

‎Meski demikian, Purbaya menilai tekanan tersebut masih moderat jika dibandingkan dengan negara lain. Indonesia tercatat mengalami depresiasi sekitar 0,3% terhadap dolar AS sejak meningkatnya konflik Iran. 

‎Angka ini menunjukkan pelemahan rupiah yang relatif lebih moderat dibandingkan beberapa negara lain, seperti Malaysia -0,5%, Thailand -1,6%, Korea Selatan yang melemah sekitar 3,3%, Meksiko 2,8%, dan Afrika Selatan 2,8%.

‎Menurut, Bendahara Negara itu, hal ini mencerminkan ketahanan eksternal Indonesia serta koordinasi fiskal-moneter yang kuat.

‎"Kita masih oke, artinya kita masih dianggap menjaga kebijakan fiskal dan moneter yang baik dan fondasi ekonomi kita yang baik," jelasnya. 

‎Artinya, jika dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia, kondisi Indonesia masih relatif baik. Hal tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih dinilai mampu menjaga kebijakan fiskal dan moneter dengan baik serta memiliki fondasi ekonomi yang kuat.

‎"Apa yang terjadi dibandingkan juga dengan seluruh negara di dunia seperti apa. Kita masih oke, artinya kita masih dianggap menjaga kebijakan fiskal dan moneter yang baik dan fondasi ekonomi kita yang baik," tutupnya.