periskop.id - Presiden Prabowo Subianto menyoroti tingkat efisiensi ekonomi Indonesia yang dinilai masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara lain. Hal ini tercermin dari tingginya angka Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia yang berada di kisaran 6,5.
"Kalau kita bicara ekonomi Indonesia Selalu keluar angka ICOR ya, Incremental capital Output ratio ICOR kita 6,5," ujar Prabowo dalam Acara diskusi 'Presiden Prabowo Menjawab', Jumat (20/3).
Kepala Negara itu, membandingkan, ICOR sejumlah negara lain berada di level yang lebih rendah. Korea Selatan dan Singapura, misalnya, berada di kisaran 4, sementara Vietnam bahkan lebih rendah, yakni sekitar 3,6. Thailand dan India juga disebut memiliki tingkat efisiensi yang lebih baik dibanding Indonesia.
Berdasarkan perbandingan tersebut, Prabowo menilai efisiensi ekonomi Indonesia tertinggal hingga sekitar 30 persen dibandingkan negara-negara lain di kawasan. Menurutnya, kondisi ini berdampak pada belum optimalnya pemanfaatan anggaran dan investasi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
"Dibandingkan dengan Korea mereka itu 4, Singapura 4 kalau tidak salah Thailand 4 India 5 Artinya apa? Jadi kita ini Kalau angka itu artinya kita 30% lebih tidak efisien," terang Prabowo.
Prabowo menjelaskan, jika mengacu pada nilai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang mencapai sekitar Rp3.700 triliun atau setara US$230 miliar, maka potensi inefisiensi bisa mencapai puluhan miliar dolar.
Ia memperkirakan, sekitar 30% dari total anggaran tersebut atau setara US$75 miliar merupakan ruang yang masih bisa dioptimalkan melalui peningkatan efisiensi.
Menurut Prabowo, langkah efisiensi yang telah dilakukan pemerintah sejauh ini mampu menghemat anggaran hingga Rp308 triliun atau sekitar US$18 miliar. Namun demikian, ia meyakini masih terdapat ruang penghematan yang cukup besar ke depan.
"Artinya saya datang mendekati APBN kita yang Rp3.700 triliun which is US$230 miliar. Pertama saya udah lihat Ini 30% dari US$230 Itu US$75 miliar, tidak efisien ini. Dan saya sudah buktikan dengan efisiensi. Saya bisa menghemat di awal Rp308 triliun Itu sama dengan US$18 miliar, masih banyak yang masih kita hemat," pungkas Prabowo.
Tinggalkan Komentar
Komentar