periskop.id - Lembaga kajian Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) menegaskan pemanfaatan teknologi digital oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terbukti mampu meningkatkan efisiensi investasi. Termasuk pemanfaatan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
Research Director Prasasti, Gundy Cahyadi, menjelaskan bahwa digitalisasi berkorelasi positif dengan efisiensi modal. Hal ini tercermin dari Incremental Capital Output Ratio (ICOR) pada sektor-sektor yang telah terdigitalisasi yang berada di angka 4,3, jauh lebih baik dibandingkan ICOR nasional sebesar 6,6.
"Digitalisasi bukan hanya peningkatan teknologi. Ini adalah fondasi penting yang dapat mendorong produktivitas, memperkuat daya saing UMKM, dan menjadi pilar utama transformasi ekonomi jangka panjang Indonesia," ujar Gundy, melansir Antara, Jumat (5/12).
ICOR sendiri merupakan indikator makroekonomi yang menunjukkan berapa besar investasi yang dibutuhkan untuk menciptakan satu unit pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto (PDB). Semakin rendah ICOR, semakin efisien modal yang dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan. Sebaliknya, angka yang lebih tinggi berarti biaya investasi makin besar untuk menghasilkan output ekonomi.
Gundy menambahkan, peningkatan efisiensi tersebut tidak terlepas dari peran QRIS yang kini menjadi instrumen pembayaran nontunai terbesar di Tanah Air. Hingga semester I 2025, QRIS mencatat nilai transaksi Rp579 triliun dengan 41 juta merchant, di mana 93,16% merupakan UMKM.
Menurutnya, digitalisasi melalui QRIS turut mendorong UMKM naik kelas dan menjadi solusi atas fenomena hollow middle. Yakni minimnya pelaku usaha menengah di antara dominasi usaha mikro dan korporasi besar.
"Adopsi QRIS melonjak pesat dalam lima tahun terakhir. Perkembangan ini membantu UMKM mengelola keuangan dengan lebih baik, mengurangi risiko keamanan, serta memberikan kenyamanan pembayaran nontunai bagi konsumen," kata dia.
Gundy menambahkan bahwa transaksi QRIS tidak hanya berguna dalam sistem pembayaran, tetapi juga menghasilkan jejak digital yang dapat dipakai untuk alternative credit scoring. Inovasi ini membuka peluang pembiayaan bagi UMKM yang sebelumnya sulit mengakses kredit formal karena tidak memiliki agunan atau riwayat kredit.
"Digitalisasi bukan hanya peningkatan teknologi. Ini adalah fondasi penting yang dapat mendorong produktivitas dan memperkuat daya saing UMKM, dan menjadi pilar utama transformasi ekonomi jangka panjang Indonesia," tutupnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar