Periskop.id - Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Jaya terus mendorong digitalisasi pasar tradisional di Jakarta. Ditargetkan, sebanyak 110 pasar sudah bisa menerapkan sistem digital pada tahun ini.
"Kita sudah selesaikan, sudah 60 pasar digitalisasi pasar, kita tambah lagi insya Allah sampai dengan 50 pasar tahun ini. Berarti 110-an selesai tahun ini," kata Direktur Utama Perumda Pasar Jaya Agus Himawan di Pasar Palmeriam, Matraman, Jakarta Timur, Rabu (8/4).
Agus menyebut, hingga tahap ketiga pelaksanaan, sebanyak 60 pasar telah berhasil terdigitalisasi dari total sekitar 153 pasar yang berada di bawah pengelolaan Perumda Pasar Jaya.
Program digitalisasi ini merupakan bagian dari transformasi besar yang didorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, untuk meningkatkan daya saing pasar tradisional di tengah perkembangan ekonomi digital.
"Ini adalah digitalisasi pasar tahap ketiga. Kita mulai dari Juli 2025, kemudian Desember 2025, dan sekarang tahap ketiga. Sampai saat ini sudah 60 pasar dari total 153 pasar yang kami kelola," jelas Agus.
Agus menyebut, pada tahun 2026 ini pihaknya menargetkan tambahan sekitar 50 pasar untuk masuk dalam program digitalisasi. Dengan demikian, total pasar yang terdigitalisasi ditargetkan mencapai sekitar 110 pasar atau mayoritas dari keseluruhan pasar yang dikelola Pasar Jaya.
Menurut Agus, program digitalisasi pasar ini tidak hanya berfokus pada penerapan sistem pembayaran non-tunai, tetapi juga mencakup penguatan ekosistem keuangan digital secara menyeluruh.
Mulai dari penggunaan QRIS, integrasi layanan perbankan, hingga peningkatan literasi keuangan bagi para pedagang. Dalam implementasinya, Pasar Jaya menggandeng sejumlah mitra strategis, seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jabodebek, Bank Indonesia Perwakilan Jakarta.
Lalu, perbankan yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan Bank DKI. Selain itu, dukungan juga datang dari platform pembayaran digital swasta. Kolaborasi lintas lembaga ini dinilai menjadi faktor kunci dalam mempercepat proses digitalisasi di lapangan.
Agus pun menekankan pentingnya sinergi antara regulator, perbankan, dan pengelola pasar untuk memastikan program berjalan efektif dan tepat sasaran.
"Langkah percepatan yang kita lakukan adalah koordinasi intensif dengan OJK Jabodebek, Bank Indonesia, dan rekan-rekan perbankan, serta mitra lainnya. Selain itu, kita juga terus melakukan literasi dan edukasi kepada para pedagang," ucap Agus.
Edukasi Pedagang
Lebih lanjut, Agus menyebut, edukasi menjadi aspek penting dalam program ini, mengingat masih adanya kekhawatiran sebagian pedagang terhadap penggunaan sistem digital, khususnya terkait keamanan transaksi.
Namun, Agus memastikan, sejauh ini respons pedagang cukup positif. Menurutnya, kepercayaan pedagang meningkat karena program ini didukung langsung oleh lembaga resmi pemerintah, seperti Bank Indonesia dan OJK, yang menjamin keamanan sistem serta pengawasan yang ketat.
"Tidak ada kesulitan yang berarti. Ini dikelola oleh lembaga resmi seperti Bank Indonesia dan OJK. Alhamdulillah sampai sekarang berjalan lancar tanpa hambatan," ucap Agus.
Selain itu, kehadiran sistem digital juga dinilai memberikan sejumlah manfaat bagi pedagang. Mulai dari kemudahan transaksi, pencatatan keuangan yang lebih rapi, hingga potensi peningkatan omzet melalui akses pembayaran yang lebih luas.
Ke depan, Pasar Jaya berencana melanjutkan program ini ke tahap keempat dengan menjangkau lebih banyak pasar. Usulan untuk pelaksanaan tahap lanjutan tersebut akan kembali diajukan kepada OJK Jabodebek agar dapat segera direalisasikan.
Dengan percepatan yang terus dilakukan, kata Agus, Pasar Jaya optimistis seluruh pasar yang dikelola dapat terdigitalisasi secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan.
Transformasi ini diharapkan mampu memperkuat peran pasar tradisional sebagai tulang punggung perekonomian rakyat sekaligus mendorong inklusi keuangan di ibu kota.
Tinggalkan Komentar
Komentar