periksop.id - Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengungkapkan ruang penurunan suku bunga acuan ke depan semakin terbatas seiring meningkatnya tekanan global dan kebutuhan menjaga stabilitas ekonomi.

Perry mengatakan, meskipun saat ini BI Rate masih dipertahankan di level 4,75%, kebijakan ke depan akan lebih difokuskan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan arus modal. 

‎"Mengenai suku bunga, meskipun BI rate kami pertahankan 4,75%, nampaknya ke depan untuk ruang penurunannya kemungkinan semakin lama semakin tertutup dan kami juga harus kemudian menyikapinya untuk menggunakan untuk stabilitas," kata Perry dalam Raker dengan Komisi XI DPR, Rabu (8/4). 

‎Perry menyoroti kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury), baik tenor 2 tahun maupun 10 tahun, yang dipicu oleh meningkatnya defisit fiskal serta eskalasi konflik geopolitik, termasuk di kawasan Timur Tengah.

‎"Perang di timur tengah ini kemudian dua-duanya meningkat pesat. Karena apa? Karena kenaikan divisi fiscal Amerika Serikat termasuk untuk anggaran perang. ‎Kelihatan di sana yang menyebabkan ini akan berdampak kepada Indonesia," jelasnya. 

‎Pada kondisi tersebut berdampak langsung pada pasar keuangan global, termasuk Indonesia, melalui tekanan terhadap arus modal dan nilai tukar. Kenaikan yield obligasi AS membuat investasi di negara maju menjadi lebih menarik, sehingga memicu aliran modal keluar dari negara berkembang.

‎"Itu portfolio inflownya itu yang tahun lalu itu volatilis tapi ada trend naik, tapi sejak tahun ini ada terjadi outflow yang besar dari emerging market ke pasar keuangan dunia baik dalam bentuk obligasi saham maupun yang lain," lanjut dia. 

‎Sebagai bagian dari strategi tersebut, pihaknya mulai melakukan penyesuaian instrumen moneter, termasuk menaikkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menarik aliran modal asing (inflow) sekaligus menahan potensi arus keluar (outflow).

‎"Ini agar memang kami harus juga membalas antara keperluan menstabilkan nilai tukar intervensi dan juga bagaimana supaya outflow itu tidak terlalu buruk sehingga kemudian masih terjadi outflow," tuturnya. 

‎Selain itu, BI juga melakukan rekalibrasi kebijakan likuiditas untuk memastikan kondisi perbankan tetap terjaga. Perry menegaskan, pertumbuhan likuiditas (M0) akan dipertahankan pada level tinggi, bahkan mencapai sekitar 13,3%, guna mendukung aktivitas ekonomi.

‎"Ini memang harus kita lakukan rekalibrasi supaya memang menarik inflow tapi tetap kecukupan likiditas perbankan kita jaga, M0 nya tetap nanti kami sampaikan sebagaimana grafik kanan bawah tetap double digit bahkan 13,3% kami jaga supaya kecukupan likiditas itu tersampai," tutup Perry.