Periskop.id - Lanskap keuangan global tengah mengalami pergeseran tektonik yang belum pernah terjadi dalam setengah abad terakhir. 

Melansir Kitco News pada Rabu (8/4), kelompok negara BRICS kini menguasai 17,4% cadangan emas global, melonjak signifikan dari posisi 11,2% pada 2019. Sebaliknya, dominasi dolar AS dalam cadangan devisa dunia merosot ke level terendah sejak 1994.

Michael Harris, analis teknikal di EBC Financial Group, mengungkapkan fakta mengejutkan dalam analisisnya yang dirilis Selasa (7/4). 

Ia menyebut bahwa dalam tiga tahun terakhir, bank sentral dunia telah membeli emas lebih banyak dibandingkan periode mana pun dalam sejarah modern. Bahkan pada 2025, volume pembelian oleh bank sentral melampaui total produksi tahunan tambang emas di beberapa negara produsen skala menengah.

“Ini bukan permintaan spekulatif, ini adalah kebijakan. Pembelinya memang terkonsentrasi, tapi trennya luas. Rusia, China, India, Turki, dan Polandia memimpin akumulasi, namun lebih dari 40 bank sentral ikut berpartisipasi pada 2025,” ujar Harris.

Dominasi BRICS dan Strategi Tanpa Batas Harga

Kelompok BRICS yang kini mencakup Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab (UEA), dan Indonesia telah menjelma menjadi pemimpin global dalam akumulasi logam mulia. Saat ini, blok tersebut memegang lebih dari 6.000 ton emas. 

Rusia memimpin dengan 2.336 ton, disusul China dengan 2.298 ton, dan India dengan 880 ton. Secara akumulatif, Rusia dan China sendiri menguasai sekitar 74% total emas di dalam blok ini.

Satu hal yang menjadi sorotan Harris adalah perilaku pembeli negara yang tidak sensitif terhadap harga. Meskipun harga emas terus melambung tinggi, permintaan tetap solid dan bersifat satu arah.

“Pembelian ini bersifat satu arah dan tidak sensitif terhadap harga, artinya pembeli negara tetap menyerap pasokan meski harga emas berada di $4.000 atau $5.000,” jelas Harris.

Titik balik dari masifnya aksi borong emas ini terjadi pada tahun 2022. Saat itu, Amerika Serikat dan sekutunya membekukan sekitar US$300 miliar cadangan devisa Rusia menyusul invasi ke Ukraina. Langkah tersebut menjadi alarm bagi bank sentral di seluruh dunia.

“Tindakan itu mengirim pesan jelas ke semua bank sentral yang memegang aset berbasis dolar: cadangan yang disimpan dalam sistem keuangan negara lain bisa disita. Responsnya langsung terlihat. Pembelian emas melonjak dari sekitar 500 ton per tahun sebelum 2022 menjadi lebih dari 1.000 ton per tahun dalam tiga tahun terakhir. Emas yang disimpan di dalam negeri tidak bisa dibekukan atau disita melalui sistem SWIFT,” tulis Harris.

Nasib Dolar AS di Persimpangan

Data IMF COFER menunjukkan porsi dolar AS dalam cadangan global turun dari 71% pada tahun 1999 menjadi sekitar 57% pada akhir 2025. 

Harris mencatat bahwa penurunan ini bukan karena bank sentral membuang dolar secara drastis, melainkan karena pertumbuhan cadangan yang lebih cepat pada aset lain seperti euro, yen, emas, dan mata uang nontradisional.

Survei World Gold Council tahun 2025 memperkuat tren ini, di mana 73% bank sentral percaya porsi dolar akan terus menurun dalam lima tahun ke depan. Sebaliknya, 43% bank sentral berencana meningkatkan cadangan emas mereka.

Harris memberikan proyeksi menarik mengenai Arab Saudi. Sebagai ekonomi terbesar di Teluk Persia, Arab Saudi saat ini hanya mengalokasikan 2,6% cadangannya pada emas (sekitar 323 ton). Mengingat total cadangan devisa mereka yang mencapai lebih dari US$500 miliar, angka ini dinilai sangat rendah.

“Jika alokasinya naik ke 5%, maka pembelian emasnya bisa setara dengan seluruh permintaan bank sentral global pada 2026 dari satu negara saja,” kata Harris. 

Meskipun belum ada pengumuman resmi, keanggotaan Saudi di BRICS dan partisipasi dalam platform mBridge mengindikasikan adanya kemungkinan reposisi strategis ke arah emas.

Prediksi Harga Menuju US$6.000 per Ons

Pada awal April 2026, emas diperdagangkan di kisaran US$4.660 per ons setelah melonjak 60% sepanjang 2025. Permintaan bank sentral yang menyerap sekitar 20% pasokan tambang global tahunan menciptakan dasar harga yang kuat.

Beberapa lembaga keuangan dunia mulai merilis target harga yang sangat optimistis menyusul tren penguatan logam mulia ini. JPMorgan memimpin proyeksi dengan angka US$6.300 per ons, disusul oleh Deutsche Bank yang menargetkan US$6.000 per ons. 

Sementara itu, Societe Generale menyebut angka US$6.000 sebagai perkiraan yang cenderung konservatif, dan Goldman Sachs menetapkan target harga di level US$5.400 per ons.

Harris mengidentifikasi tiga faktor yang bisa mempercepat pergeseran ini, yakni transparansi cadangan emas China, peningkatan alokasi emas secara resmi oleh Arab Saudi atau UEA, serta penurunan porsi dolar dalam laporan IMF mendatang.

“Dolar masih dominan, tetapi arahnya jelas: bank sentral membangun posisi di aset yang tidak bisa dibekukan oleh pemerintah asing, dengan kecepatan yang belum pernah terjadi dalam setengah abad. Harga emas di US$4.660 mencerminkan realitas tersebut, dan proyeksi di atas US$5.000 menunjukkan arah pasar ke depan,” pungkas Harris.