Periskop.id - Pengrajin keripik tempe di Jakarta Selatan berharap agar pemerintah memperkuat produksi kedelai lokal, guna mengurangi ketergantungan pada kedelai impor.
"Bukan kita jelekkan di sini. Memang, sekarang kedelai lokal sudah bagus-bagus, tapi kualitas ukurannya masih kecil, masih besar kedelai impor," kata Ketua kelompok pengrajin tempe Kramat Pela Joko Asori (57) saat ditemui di rumah produksi di Jalan H Aom, Kramat Pela, Jakarta Selatan, Kamis (9/4) seperti dilansir Antara.
Dia mengatakan dari segi harga, kedelai lokal terbilang lebih tinggi dari kedelai asal Amerika Serikat. Apabila hanya mengandalkan kedelai lokal, kata dia, maka dikhawatirkan juga kebutuhan produksi tidak akan tercukupi.
"Kalau kita mengandalkan kedelai lokal, kita nggak cukup dalam waktu panen sekali untuk kebutuhan enam bulan ke depan," ucap Joko.
Meski demikian, berdasarkan hasil studi bandingnya ke Yogyakarta, dia menilai kualitas kedelai lokal kini semakin membaik. Oleh karena itu, dia berharap pemerintah agar memperkuat dukungan terhadap petani dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tempe sehingga lebih berdaya.
"Yang kita harapkan, mudah-mudahan, petani kita, pemerintah kita, menteri kita mengutamakan pengrajin tempe, karena tempe itu bergelut dengan kedelai dari petani Indonesia," ujar Joko.
Sebelumnya, pengrajin keripik tempe di Jakarta Selatan menaikkan harga produknya seiring lonjakan harga kedelai impor yang dipicu dinamika global, termasuk ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Harga keripik tempe sebelumnya Rp65.000 per kilogram (kg), kemudian naik menjadi Rp70.000 per kg. Tak hanya kedelai, kenaikan juga dialami pada harga plastik yang semula Rp32.000-Rp33.000 per kg, menjadi Rp50.000 bahkan lebih per kg.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan memastikan ketahanan pangan nasional tetap aman meski terjadi perang di Timur Tengah, karena Indonesia tidak bergantung pada impor dari kawasan tersebut.
Masyarakat diimbau agar tidak khawatir mengenai dampak perang di Timur Tengah terhadap ketersediaan pangan. Stok dan pengadaan pangan dalam negeri dipastikan aman dan terkendali, sehingga masyarakat diminta untuk tidak melakukan pembelian secara berlebihan.
Sesuaikan Kebutuhan
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Hasudungan Sidabalok, mengimbau agar masyarakat menyesuaikan kebutuhan konsumsi pangan menyusul naiknya harga kedelai di pasaran.
“Untuk meminimalisir dampak kenaikan harga kedelai, dengan menghimbau masyarakat agar menyesuaikan kebutuhan konsumsi pangannya dengan komoditas pangan lainnya yang memiliki nilai gizi yang seimbang, namun dengan harga yang lebih terjangkau (diversifikasi pangan),” kata Hasudungan di Jakarta, Kamis.
Tak hanya itu, dia mengatakan masyarakat juga dapat melakukan urban farming(pertanian perkotaan) guna menghadapi kenaikan harga tersebut. Langkah tersebut dinilai sebagai salah satu upaya meningkatkan ketahanan pangan keluarga secara mandiri di rumah masing-masing.
Lebih lanjut, Hasudungan menjelaskan saat ini, harga kedelai mengalami kenaikan yang bervariasi. Mulai dari Rp10.500 hingga Rp11.000 per kilogram (kg) pada tingkat pengrajin tahu dan tempe, dari sebelumnya Rp8.000 hingga Rp8.600 per kg.
Sementara kenaikan harga pada tingkat pedagang pasar tradisional, yakni Rp15.000 hingga Rp20.000 per kg, dari harga sebelumnya yang berkisar Rp13.000 hingga Rp18.000 per kg.
Asori melanjutkan, kenaikan harga kedelai itu berdampak terhadap penjualan satu bungkus keripik tempe dengan berat 250 gram (gr) menjadi Rp19 ribu. Menurutnya, lonjakan harga kedelai itu mulai dirasakan pada Februari 2026, yaitu Rp930.000 per kuintal.
Kemudian pada April 2026, harga kedelai melonjak hingga mencapai Rp1.100.000, bahkan lebih. Hal ini pun sangat dirasakan bagi pengrajin tempe murni maupun pengrajin tahu.
"Apa ada dampaknya dengan antara Iran dengan Amerika, saya sendiri nggak tahu. Yang jelas, saat ini pengrajin tempe dan tahu itu sangat-sangat memerlukan modal banyak karena dari per kuintal itu, naiknya kurang lebih hampir Rp200.000 atau Rp170.000 per kuintal. Itu baru bahan bakunya, ya," tuturnya.
Akibat kenaikan harga tersebut, dia pun menyiasati dengan mengurangi berat pada produknya. "Kalau masalah pengrajin tempe, harga naik, nggak mungkin dinaikin harganya, contoh yang semula sekilonya itu misalkan Rp12.500, paling dikurangi dari sekilo menjadi misalkan 970 gram, dikurangi 30 gram," ucap Joko.
Dengan demikian, dia berharap para pelanggan masih loyal dan memahami kenaikan harga tersebut. Dia juga meminta pemerintah agar dapat lebih membantu usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) lokal.
Tinggalkan Komentar
Komentar