periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Kamis, 9 April 2026, ke level Rp17.092 per dolar AS. Pelemahan 80 poin ini terjadi dari penutupan sebelumnya di Rp17.012, seiring menguatnya indeks dolar AS dan meningkatnya kembali ketegangan geopolitik di Timur Tengah
“Rupiah sore ini ditutup melemah 80 poin di level Rp17.092 dari penutupan sebelumnya Rp17.012, sebelumnya sempat melemah 90 poin,” ujar Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi, Kamis (9/4).
Dari eksternal, tekanan terhadap rupiah dipicu oleh gangguan yang masih berlanjut di Selat Hormuz. Jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak global tersebut masih mengalami hambatan meski terdapat gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Pergerakan kapal yang terbatas dan pengawasan ketat oleh Iran membuat distribusi energi global tetap terganggu.
Sentimen pasar juga dibayangi meningkatnya serangan Israel di Lebanon yang berisiko merusak gencatan senjata. Laporan menyebut jalur kapal tanker sempat dihentikan akibat serangan tersebut, meskipun pejabat AS mulai memberi sinyal pembukaan kembali secara bertahap. Di sisi lain, Iran menyatakan pembicaraan damai dengan AS menjadi “tidak masuk akal” setelah serangan terbaru yang dianggap melanggar kesepakatan.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump sempat mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran, yang sempat memicu optimisme pasar. Namun, analis menilai gangguan struktural pada rantai pasokan energi di kawasan berpotensi berlangsung lebih lama dan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih.
Selain itu, risalah FOMC bulan Maret menunjukkan bahwa pejabat Federal Reserve masih membuka peluang penurunan suku bunga tahun ini, meski ketidakpastian tinggi akibat konflik geopolitik dan kebijakan tarif. The Fed menegaskan perlunya tetap “gesit” dalam merespons dampak perang terhadap inflasi yang masih di atas target serta kondisi pasar tenaga kerja yang cenderung stagnan.
Dari dalam negeri, sentimen turut dipengaruhi oleh proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Bank Dunia memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 4,7% pada 2026, turun dari sebelumnya 4,8%, meski masih lebih tinggi dibandingkan kawasan Asia Timur dan Pasifik sebesar 4,2%. OECD juga memangkas proyeksi menjadi 4,8% dari sebelumnya 5%, seiring tekanan global seperti kenaikan harga energi dan ketegangan geopolitik.
Meski demikian, pemerintah tetap optimistis pertumbuhan ekonomi 2026 berada di kisaran 5,4%–5,7%, didorong konsumsi domestik, investasi, serta program strategis seperti biodiesel B50. Pemerintah juga menargetkan pertumbuhan dapat mencapai 6% melalui transformasi struktural dan penguatan kedaulatan pangan serta energi.
“Untuk perdagangan Jumat, mata uang rupiah diperkirakan akan fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.090–Rp17.140,” tutup Ibrahim.
Tinggalkan Komentar
Komentar