periskop.id - Bank Indonesia (BI) melaporkan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada April 2026 tercatat sebesar 2,42% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan realisasi pada bulan sebelumnya sebesar 3,48% (yoy).

‎"IHK terjaga rendah dan ke depan perlu terus dikendalikan dari dampak memburuknya gejolak global agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% pada 2026 dan 2027," ujar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers RDG, Rabu (20/5). 

‎Perry merincikan untuk inflasi inti turun menjadi 2,44% secara tahunan (yoy) didukung konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga ekspektasi inflasi. 

‎Inflasi kelompok administered prices (AP) menurun menjadi 1,53% (yoy) seiring berakhirnya base effect dari kebijakan diskon tarif listrik pada 2025 serta minimnya perubahan harga yang diatur Pemerintah. 

‎Sedangkan inflasi kelompok volatile food (VF) juga turun menjadi 3,37% (yoy) dipengaruhi oleh berlangsungnya panen raya di daerah sentra produksi dan terjaganya pasokan pangan di berbagai daerah. 

‎"Ke depan, melonjak tingginya harga minyak dan kenaikan harga komoditas lainnya akibat gejolak global dapat berdampak pada kenaikan harga-harga dan tekanan inflasi di dalam negeri," tuturnya. 

‎Di samping kenaikan harga-harga impor (imported inflation), tekanan inflasi dapat berasal dari kenaikan harga-harga yang diatur Pemerintah (adminstered prices), termasuk kenaikan harga energi non-subsidi.  

‎Karenanya, di samping stabilisasi nilai tukar Rupiah, Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter guna menjaga inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1% pada 2026 dan 2027. 

‎"Bank Indonesia juga terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat/Daerah (TPIP/TPID) melalui penguatan implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS)," tutup Perry.