Ekonomi

BI Waspadai Dampak Timur Tengah Terhadap Ekonomi Global

Gejolak global dan konflik Timur Tengah menekan pertumbuhan ekonomi dunia 2026 ke 3,0% dan mendorong kenaikan inflasi global.

3 bulan yang lalu · 2 mnt baca
kerusakan di Iran
Jembatan B1 yang merupakan salah satu jembatan tertinggi di Timur Tengah terlihat rusak setelah serangan AS-Israel di Karaj, Iran, Jumat (3/4/2026). ANTARA/Xinhua
Ukuran teks
Sedang

periskop.id - Gejolak global akibat perang di Timur Tengah memperburuk kondisi dan prospek perekonomian dunia. Perkembangan ini mengakibatkan prospek pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026 diperkirakan akan lebih rendah menjadi sebesar 3,0% dan tekanan inflasi global meningkat menjadi sekitar 4,3%.

‎"Penutupan Selat Hormuz mengakibatkan melonjak tingginya harga minyak dunia. Terganggunya produksi, distribusi, dan rantai pasok perdagangan antarnegara juga mendorong kenaikan pada harga komoditas dunia lainnya," ujar Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam konferensi pers RDG, Rabu (20/5).

‎Perry mengatakan respons kebijakan moneter global menjadi lebih ketat, bahkan sejumlah bank sentral mulai menaikkan kebijakan suku bunganya. 

‎Suku bunga kebijakan moneter AS, Fed Funds Rate (FFR), diperkirakan tidak akan turun hingga akhir 2026 dan terdapat kemungkinan akan naik pada 2027 dengan inflasi AS yang masih tinggi.

‎Imbal hasil (yield) US Treasury yang telah naik ke 4,66% untuk tenor 10 tahun dan 4,11% untuk enor 2 tahun pada tanggal 19 Mei 2026, dan diperkirakan naik lebih tinggi didorong oleh defisit fiskal AS yang membesar.

‎Di pasar keuangan global, Perry bilang, memburuknya kondisi global tersebut mendorong berlanjutnya pelarian modal keluar dari berbagai negara, termasuk negara Emerging Markets, ke aset yang memberikan imbal hasil tinggi dan aman (safe-haven assets) khususnya obligasi AS. 

‎"Perkembangan ini juga mendorong kuatnya Indeks dolar AS dan menimbulkan tekanan pelemahan baik terhadap mata uang negara maju (DXY) maupun mata uang negara berkembang (ADXY)," terangnya. 

‎Ia menilai terus memburuknya prospek perekonomian dan pasar keuangan global mengharuskan penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter untuk memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik. 

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Bank Indonesia (BI), konflik timur tengah, dan Ekonomi global dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.