periskop.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I tahun 2026 akan menyentuh di level 5,5%.
"Angkanya kalau tidak ada protes ya lebih besar sama dengan 5,5 persen," kata Airlangga dalam konferensi pers, Jakarta, Kamis (23/4).
Airlangga menyampaikan bahwa optimistis terhadap capaian tersebut, seiring berjalannya berbagai faktor penopang ekonomi yang akan semakin terlihat pada kuartal II. Beberapa di antaranya adalah pencairan gaji ke-13 pada Juni serta keberlanjutan program perlindungan sosial (social safety net) yang menjaga daya beli masyarakat.
"Dan kita juga melihat salah satu yang utama yang bisa mendongkrak adalah sektornya Menteri Investasi dan BKPM atau investasi," jelasnya.
Dari sisi indikator makroekonomi, Airlangga menilai kondisi Indonesia tetap solid. Bank Indonesia masih mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 4,75%, yang menjadi sinyal positif bagi stabilitas ekonomi.
Sektor manufaktur juga tetap berada di zona ekspansi meskipun mengalami sedikit penurunan, dengan indeks di atas level 50 dan masih kompetitif di kawasan ASEAN.
Selain itu, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus selama 70 bulan berturut-turut, mencerminkan kinerja eksternal yang kuat. Ketahanan ekonomi juga didukung oleh cadangan devisa yang memadai serta defisit APBN yang tetap terjaga di level 0,93% terhadap PDB, menunjukkan disiplin fiskal tetap dijalankan di tengah kebijakan ekspansi yang terukur.
"Jadi ini menunjukkan juga resiliensi Indonesia dengan cadangan devisa memadai di Rp148,2 miliar. Defisit APBN terjaga di 0,93% dari PDB, jadi disiplin fiskal dijaga di tengah ekspansi yang terukur," tutup Airlangga.
Tinggalkan Komentar
Komentar