periskop.id – Di tengah duka tragedi tabrakan kereta di Bekasi, terselip kisah dramatis tentang Sausan, seorang pekerja kawasan Mega Kuningan yang berhasil selamat dari maut. Sausan ditemukan dalam kondisi terjepit di rak bagasi penumpang setelah benturan keras melontarkan tubuhnya dari tempat duduk.

 

Yuli, kerabat korban, menceritakan detik-detik mengerikan yang dialami Sausan. Saat kejadian, Sausan yang sedang menempuh perjalanan pulang ke Tambun sedang fokus pada ponselnya sebelum akhirnya dentuman keras terjadi.

 

"Dia lagi main HP, langsung bunyi 'brak'. Dia ingat-ingat sudah di atas yang biasa kita naruh barang (rak bagasi). Di bawah dia ada (korban), di atas dia juga ada. Jadi sudah ketumpuk-tumpuk," kata Yuli, di RSUD Kota Bekasi, Selasa (28/4).

 

Kabar kecelakaan Sausan sempat diwarnai drama ketidakyakinan pihak keluarga. Sang ibu awalnya mengabaikan pesan WhatsApp dan telepon yang menginformasikan kecelakaan tersebut lantaran menduga itu adalah modus penipuan atau hoaks yang meminta uang.

 

Keluarga baru bergegas menuju rumah sakit setelah pihak penolong mengirimkan foto Sausan yang tergeletak lemas di peron stasiun.

 

"Ibunya merasa nomor asing jadi takut. Pas dikirimin fotonya, 'Ya Allah', dikira sudah meninggal karena posisinya sudah digeletak di peron bawah. Akhirnya anaknya yang bungsu cek ke lokasi," ucap Yuli.

 

Sausan menderita luka cukup parah, yakni patah tulang tangan kiri dan luka robek di bagian paha. Ia menjalani tindakan operasi intensif selama kurang lebih empat jam, mulai pukul 14.00 WIB hingga waktu Maghrib tadi (18.00 WIB).

 

Meski masih lemas dan menderita mual pasca-operasi, Sausan menunjukkan semangat untuk pulih. Yuli menyebut Sausan tetap sadar dan sempat melontarkan candaan saat diajak berkomunikasi oleh keluarga.
 

"Kata dokter jangan disuruh tidur habis operasi, jadi kita ajak ngobrol dan ketawa-ketawa. Dia sempat bilang, 'Tante, ntar fotonya difilter ya muka saya'. Dia masih ingat itu," tuturnya.

 

Sausan diketahui merupakan sosok yang religius. Pada hari kejadian, ia sedang menjalankan ibadah puasa dan baru sempat membatalkannya dengan roti serta teh manis sebelum naik kereta.

 

“Anaknya baik, solehah, religius. Kebenaran dia lagi puasa ya hari itu, puasa baru minum teh manis sama roti. Jadi pikiran dia hanya mau sampai rumah mau langsung makan,” ucap dia.
 

Menurut Yuli, ada hal yang tidak biasa pada hari itu. Biasanya Sausan tidak menggunakan rute kereta tersebut, tetapi karena diantar rekan kerjanya hingga ke Stasiun Jatinegara, ia akhirnya memilih rute yang berujung pada kecelakaan maut ini.
 

"Sehari-hari naik kereta, cuma kebenaran tadinya biasanya dia nggak naik kereta yang dari sini. Qodarullah lah ya, dia naik yang jurusan sana," pungkas Yuli.