periskop.id- Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede memproyeksikan kelompok masyarakat pemilik Kredit Pemilikan Rumah (KPR) berstatus bunga mengambang menjadi pihak yang paling rentan terdampak kenaikan suku bunga acuan.
Selain pemilik KPR, ia juga mengidentifikasi para debitur kredit kendaraan, pinjaman multiguna, serta kredit tanpa agunan (KTA) akan merasakan tekanan serupa.
"KPR yang masih dalam masa bunga tetap belum langsung terdampak, tetapi akan terdampak saat masuk periode bunga mengambang," kata Josua kepada Periskop, Senin (15/6).
Menurut dia, pemilik KPR yang masih menikmati masa bunga tetap (fixed rate) belum akan merasakan dampak langsung.
Namun, ketika periode bunga tetap berakhir dan kredit masuk ke fase floating rate, cicilan bulanan berpotensi meningkat mengikuti penyesuaian suku bunga perbankan.
Selain KPR, kredit kendaraan juga diperkirakan menghadapi tekanan serupa. Perusahaan pembiayaan kemungkinan akan menyesuaikan biaya dana mereka seiring kenaikan suku bunga acuan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan biaya pinjaman bagi konsumen.
Josua mengingatkan masyarakat yang memiliki kredit berbunga mengambang untuk mulai mengantisipasi kemungkinan kenaikan cicilan. Caranya, dengan menyiapkan ruang lebih besar dalam anggaran rumah tangga.
Langkah lain yang dapat dilakukan antara lain mengurangi pengeluaran yang tidak mendesak, melakukan pembayaran pokok lebih awal bila memungkinkan, atau berkonsultasi dengan bank terkait opsi restrukturisasi ringan.
"Langkah paling aman adalah menyiapkan ruang tambahan dalam anggaran bulanan, mengurangi belanja tidak mendesak, mempercepat pelunasan sebagian pokok bila memungkinkan, atau meminta restrukturisasi ringan sebelum cicilan benar-benar memberat," terang dia
Bagi masyarakat yang berencana mengajukan pinjaman baru, baik KPR maupun kredit kendaraan, perhitungan kemampuan membayar sebaiknya dilakukan dengan asumsi suku bunga yang lebih tinggi dari saat ini.
"Untuk calon debitur, keputusan mengambil KPR, kredit kendaraan, atau pinjaman multiguna sebaiknya dihitung ulang dengan skenario bunga lebih tinggi, bukan hanya berdasarkan cicilan awal yang terlihat rendah," tambah dia.
Lebih lanjut, kenaikan suku bunga juga berpotensi menekan daya beli masyarakat. Saat cicilan meningkat, sebagian pendapatan rumah tangga akan dialihkan untuk memenuhi kewajiban kredit sehingga ruang konsumsi menjadi lebih terbatas.
Di sisi lain, dunia usaha yang menghadapi kenaikan biaya pinjaman berpotensi menyesuaikan harga produk atau menahan ekspansi bisnis.
Kondisi tersebut dapat memperkuat tekanan terhadap konsumsi masyarakat, terutama jika terjadi bersamaan dengan kenaikan harga pangan, tingginya harga energi, dan pelemahan nilai tukar rupiah.
"Jika kondisi ini terjadi bersamaan dengan inflasi pangan, harga energi tinggi, dan pelemahan rupiah, maka rumah tangga akan semakin selektif dalam berbelanja. Belanja kebutuhan pokok tetap bertahan, tetapi belanja barang tahan lama, rekreasi, kendaraan, perabot, dan properti bisa tertunda," imbuhnya.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar