periskop.id - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 menunjukkan peran signifikan sektor berbasis konsumsi gaya hidup, terutama penyediaan akomodasi dan makan minum yang mencatatkan pertumbuhan tertinggi dibanding sektor lainnya. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor ini tumbuh sebesar 13,14% secara tahunan (year-on-year).
Lapangan usaha yang tumbuh signifikan adalah Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 13,14%. Diikuti oleh Jasa Lainnya sebesar 9,91%, dan Transportasi dan Pergudangan sebesar 8,04%.
“Lapangan usaha yang tumbuh tinggi, antara lain penyediaan, akomodasi dan makanan minuman yang tumbuh sebesar 13,14% di mana hal ini didorong oleh peningkatan kinerja penyediaan makan minuman seiring dengan momen libur nasional dan juga perluasan cakupan program makan bergizi gratis,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik RI Amalia Adininggar Widyasanti dalam Rilis BPS, Selasa (5/5).
Kinerja sektor tersebut melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,61% (y-on-y) pada triwulan I-2026. Secara umum, pertumbuhan terjadi pada hampir seluruh lapangan usaha, kecuali pertambangan dan penggalian serta pengadaan listrik dan gas yang mengalami kontraksi.
Selain itu, sektor transportasi dan pergudangan yang tumbuh 8,04% turut mencerminkan peningkatan mobilitas masyarakat. Aktivitas ini berjalan seiring dengan pertumbuhan sektor jasa lainnya yang mencapai 9,91% pada periode yang sama.
Pada triwulan I 2026, dari sisi pengeluaran, seluruh komponen tercatat mengalami pertumbuhan positif secara tahunan (year-on-year). Konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dengan porsi 54,36% dan tumbuh 5,52%.
Selanjutnya, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menyumbang 28,29% terhadap PDB dengan pertumbuhan sebesar 5,96%. Secara gabungan, konsumsi rumah tangga dan PMTB memberikan kontribusi dominan, yakni mencapai 82,65% terhadap total PDB.
Sementara itu, komponen pengeluaran yang mencatatkan pertumbuhan tinggi adalah konsumsi pemerintah, yang meningkat lebih dari 21%. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan realisasi belanja pegawai, termasuk pembayaran gaji ke-14, serta belanja barang dan jasa, khususnya belanja barang yang disalurkan kepada masyarakat.
Secara nominal, PDB Indonesia pada triwulan I-2026 mencapai Rp6.187,2 triliun atas dasar harga berlaku, dan Rp3.447,7 triliun atas dasar harga konstan 2010. Angka ini menunjukkan peningkatan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar