periskop.id - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tumbuh sebesar 5,61% secara tahunan (year-on-year/yoy).

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 secara year-on-year sebesar 5,61%,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik RI Amalia Adininggar Widyasanti dalam Rilis BPS, Selasa (5/5).

Capaian ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 4,87%. Namun secara kuartalan (q-to-q), ekonomi Indonesia tercatat mengalami kontraksi sebesar 0,77%.

“Secara triwulanan, ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 mengalami kontraksi sebesar 0,77%,” jelas Amalia.

Ekonomi RI Tetap Tumbuh di Tengah Tekanan Global

Di tengah dinamika geopolitik global, BPS menilai perekonomian Indonesia tetap resilien. Sejumlah negara mitra dagang utama juga mencatat pertumbuhan positif, seperti Vietnam 7,8%, Malaysia 5,3%, Tiongkok 5,0%, Singapura 4,6%, Korea Selatan 3,6%, dan Amerika Serikat 2,7%.

BPS mencatat Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp6.187,2 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan (ADHK) sebesar Rp3.447,7 triliun.

Sektor Pariwisata dan Transportasi Tumbuh Tinggi

Dari sisi lapangan usaha, seluruh sektor ekonomi tumbuh positif kecuali pertambangan serta pengadaan listrik dan gas. Lima sektor utama yakni industri pengolahan (19,07%), perdagangan (13,28%), pertanian (12,67%), konstruksi (9,81%), dan pertambangan (8,69%) secara total berkontribusi besar terhadap PDB nasional.

Beberapa sektor mencatat pertumbuhan tinggi, antara lain penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 13,14%, jasa lainnya 9,91%, serta transportasi dan pergudangan sebesar 8,04%, seiring meningkatnya mobilitas masyarakat dan aktivitas pariwisata.

“Pertumbuhan tinggi pada sektor akomodasi dan makan minum didorong oleh meningkatnya aktivitas selama libur nasional serta Ramadan dan Idul Fitri,” tambah Amalia.

Selain itu, BPS mencatat jumlah perjalanan wisatawan nusantara tumbuh 13,14% secara tahunan, dengan peningkatan signifikan jumlah penumpang angkutan darat hingga 20,20%, serta kenaikan pada moda transportasi udara dan laut.

Secara rinci, sektor industri pengolahan tumbuh 5,04% didorong oleh industri makanan dan minuman serta barang logam dan elektronik. Sementara perdagangan tumbuh 6,26%, konstruksi 5,49%, dan pertanian 4,97%.

Secara kontribusi, industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan andil 1,03%, diikuti perdagangan sebesar 0,82%, pertanian 0,55%, serta konstruksi sebesar 0,53%.

Konsumsi Rumah Tangga Jadi Penopang Utama

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama dengan kontribusi 54,36% dan tumbuh 5,52%.

“Konsumsi rumah tangga menjadi sumber pertumbuhan tertinggi yaitu 2,94%,” ujar Amalia.

Kinerja konsumsi rumah tangga didorong oleh meningkatnya mobilitas masyarakat pada momen libur nasional dan hari besar keagamaan seperti Nyepi dan Idul Fitri, serta berbagai stimulus pemerintah seperti diskon tiket transportasi dan pemberian THR atau gaji ke-14.

Sementara itu, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) berkontribusi 28,29% dengan pertumbuhan 5,96%, yang didorong oleh investasi pemerintah pada proyek prioritas nasional serta investasi swasta.

Belanja Pemerintah Melonjak, Dorong Pertumbuhan

Komponen dengan pertumbuhan tertinggi adalah konsumsi pemerintah yang melonjak 21,81%, didorong oleh peningkatan realisasi belanja, termasuk pembayaran gaji ke-14 serta belanja barang dan jasa, antara lain melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Konsumsi pemerintah tumbuh tinggi seiring meningkatnya realisasi belanja, terutama belanja pegawai dan barang,” ujar Amalia.

Konsumsi rumah tangga menjadi sumber pertumbuhan terbesar dari sisi pengeluaran dengan kontribusi 2,94%, diikuti PMTB sebesar 1,79% dan konsumsi pemerintah sebesar 1,26%.

Bali-Nusa Tenggara dan Sulawesi Tumbuh Tertinggi

Secara regional, wilayah Bali dan Nusa Tenggara mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 7,93%, diikuti Sulawesi 6,95% serta Jawa 5,79%, yang seluruhnya berada di atas rata-rata nasional.