Periskop.id - Indonesia bersiap memperkuat peran di pasar global dengan mengekspor pupuk urea hingga 1 juta ton di tengah ketidakstabilan pasokan dunia. Sejumlah negara seperti India dan Australia bahkan sudah mengajukan permintaan besar terhadap komoditas strategis ini.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan, ekspor pupuk menjadi salah satu peluang besar bagi Indonesia di tengah lonjakan harga pupuk global akibat gangguan rantai pasok.
"Tetapi yang menarik adalah kita ekspor pupuk ke Australia, India minta juga 500 ribu ton. Dubes-nya menelepon langsung ke saya," kata Amran di Jakarta, Selasa (5/5).
Secara rinci, Indonesia telah menyepakati pengiriman pupuk urea ke Australia sebesar 250 ribu ton pada tahap awal. Sementara India mengajukan permintaan hingga 500 ribu ton. Selain itu, peluang ekspor juga datang dari Brasil dan Filipina yang masih dalam tahap pembahasan.
“Pupuk ini yang meminta langsung Dubes India menelepon, kemudian juga Australia, Filipina, dan Brazil. Empat negara ini memohon agar mendapatkan urea,” tuturnya.
Pemerintah menilai ekspor ini tetap aman dilakukan karena produksi nasional masih melampaui kebutuhan dalam negeri. Saat ini produksi pupuk Indonesia mencapai sekitar 7,8 juta ton per tahun, sementara kebutuhan domestik berada di kisaran 6 juta hingga 6,3 juta ton.
Kondisi ini menciptakan surplus yang bisa dimanfaatkan untuk ekspor tanpa mengganggu pasokan bagi petani dalam negeri.
Direktur Utama PT Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi menegaskan kesiapan industri dalam mendukung ekspor tersebut.
“Kapasitas yang kami miliki memadai untuk memenuhi kebutuhan domestik sekaligus menangkap peluang ekspor,” ujarnya.
Ia juga menyebut kapasitas produksi urea nasional sebenarnya mencapai 9,4 juta ton per tahun, didukung oleh ketersediaan gas alam domestik sebagai bahan baku utama.
Peluang di Tengah Krisis Global
Langkah ekspor ini terjadi di tengah kenaikan harga pupuk dunia yang mencapai lebih dari 40% akibat konflik geopolitik dan gangguan distribusi global. Data World Bank menunjukkan harga pupuk global mengalami volatilitas tinggi sejak krisis energi melanda Eropa dan Timur Tengah.
Di sisi lain, Indonesia justru mengambil kebijakan berbeda dengan menurunkan harga pupuk subsidi sebesar 20% untuk menjaga produksi pangan nasional.
"Presiden Prabowo sejak awal sudah membaca dunia sedang menuju periode yang tidak stabil. Beliau memerintahkan kami untuk tidak menunggu krisis datang, tapi menjemputnya dengan kebijakan," kata Mentan.
Selain memperkuat posisi Indonesia sebagai eksportir pupuk, kebijakan ini juga berdampak pada kinerja perdagangan nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekspor sektor pertanian meningkat sekitar Rp167 triliun, sementara impor turun Rp41 triliun.
“Kita ada naik ekspor kita Rp167 triliun. Dan itu data BPS, bukan data Pertanian ya. Impor kita menurun, kurang lebih nilainya Rp41 triliun. Jadi kita dapat keuntungan Rp200 triliun,” ungkap Amran.
Meski peluang ekspor terbuka lebar, pemerintah memastikan kebutuhan pupuk dalam negeri tetap menjadi prioritas utama. Hingga April 2026, stok pupuk nasional tercatat mencapai 1,19 juta ton dengan produksi harian sekitar 25 ribu ton untuk urea.
Ekspor akan dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan keseimbangan pasokan nasional dan kebutuhan petani. Dengan strategi ini, Indonesia tidak hanya menjaga ketahanan pangan domestik, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai pemain penting dalam menjaga stabilitas pasokan pupuk global.
Tinggalkan Komentar
Komentar