Periskop.id — Ketimpangan gender di Jakarta menunjukkan tren perbaikan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat Indeks Ketimpangan Gender (IKG) ibu kota pada 2025 berada di angka 0,144, menjadikannya yang terendah di Indonesia.

"Ketimpangan terendah atau kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan paling baik di DKI Jakarta dibandingkan provinsi lain. Dan secara perbandingan, IKG nasional adalah 0,402, jauh di atas dari IKG DKI," kata Kepala BPS DKI Jakarta Kadarmanto di Jakarta, Selasa (5/5). 

IKG sendiri merupakan indikator yang mengukur kesenjangan antara laki-laki dan perempuan dalam tiga aspek utama, yakni kesehatan reproduksi, pemberdayaan, serta partisipasi di pasar tenaga kerja. Skala indeks berada di rentang 0 hingga 1, di mana semakin kecil angkanya menunjukkan semakin rendah ketimpangan.

Data BPS menunjukkan, penurunan konsisten IKG Jakarta dalam empat tahun terakhir. Pada 2022, angka IKG masih berada di level 0,320, kemudian turun menjadi 0,256 pada 2023, dan kembali menurun ke 0,147 pada 2024.

"IKG DKI turun menjadi 0,144 atau turun sebesar 0,003 poin dibandingkan IKG tahun 2024, yang mencerminkan penurunan ketimpangan gender di DKI Jakarta," tutur Kadarmanto.

Penurunan ini didorong oleh peningkatan kualitas di seluruh dimensi, terutama pada aspek kesehatan reproduksi dan capaian pendidikan perempuan yang semakin tinggi. "Perbaikan terjadi pada seluruh dimensi penyusun IKG, terutama pada dimensi kesehatan reproduksi yang semakin baik serta peningkatan capaian pendidikan perempuan," ujarnya. 

Ketimpangan Antarwilayah
Hanya saja, Meski mencatat capaian terbaik secara nasional, BPS mengingatkan bahwa kesetaraan gender di Jakarta belum merata di seluruh wilayah. Kabupaten Kepulauan Seribu mencatat tingkat ketimpangan tertinggi dengan IKG 0,199, sementara Jakarta Selatan menjadi wilayah dengan kesetaraan terbaik dengan angka 0,124.

"Ketimpangan terendah ada di Jakarta Selatan, diikuti Jakarta Timur (0,130), kemudian Jakarta Pusat (0,142), Jakarta Barat (0,147), Jakarta Utara (0,175), dan Kepulauan Seribu," ungkap Kadarmanto.

Capaian Jakarta ini, sejatinya sejalan dengan laporan United Nations Development Programme (UNDP) dalam Human Development Report 2025, yang menunjukkan bahwa negara atau wilayah dengan investasi tinggi di pendidikan perempuan dan akses kesehatan reproduksi cenderung memiliki tingkat ketimpangan gender lebih rendah.

Di Indonesia sendiri, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) sebelumnya menargetkan penurunan IKG nasional sebagai bagian dari agenda pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya tujuan kesetaraan gender.

Dengan capaian ini, Jakarta dinilai semakin mendekati standar kota global dalam hal inklusivitas dan kesetaraan, meski pekerjaan rumah untuk mengurangi kesenjangan antarwilayah masih perlu dikejar.