periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis anggapan bahwa pelemahan nilai tukar Rupiah yang sempat menyentuh Rp17.300 per dolar Amerika Serikat (AS) merupakan indikasi memburuknya kondisi ekonomi domestik.

Menurutnya, pergerakan nilai tukar saat ini lebih dipengaruhi oleh dinamika global, bukan karena fundamental ekonomi Indonesia yang melemah. Ia memastikan kondisi ekonomi nasional masih berada dalam posisi relatif kuat.

"Tapi untuk saya, ini bukan tanda pemburukan yang dipicu oleh melemahnya ekonomi domestik," kata Purbaya dalam media briefing di Jakarta, Jumat (24/4).

Purbaya menilai secara fundamental, ekonomi Indonesia masih lebih solid dibandingkan sejumlah negara lain di kawasan, seperti Malaysia dan Thailand. Meski demikian, ia mengakui bahwa pergerakan nilai tukar antarnegara memang bisa berbeda-beda.

"Dibanding negara lain kita masih kuat. Bahkan dibanding Malaysia, Thailand, dan lain-lain masih kuat. Cuma gerakan nilai tukarnya beda. Anda lihat Malaysia menguat, Thailand menguat terhadap dolar," terangnya.

Bendahara negara itu menjelaskan tekanan terhadap Rupiah lebih dipengaruhi faktor global dan sentimen negatif terhadap ekonomi akibat konflik geopolitik yang belum selesai.

"Terus ini kan juga terjadi noise yang seolah menggambarkan ekonomi kita sedang menuju keterburukan dalam beberapa bulan ke depan. Mereka bilang tiga bulan, berarti dua bulan lagi, Juni–Juli. Tapi keadaannya tidak seperti itu. Noise dari pemerintah sudah kita rapikan," jelasnya.

Purbaya menambahkan, pemerintah tetap optimistis terhadap prospek ekonomi ke depan. Hal ini didukung komitmen pemerintah memperbaiki berbagai kendala struktural dalam perekonomian.

"Mungkin saya bukan ahlinya di sini. Tapi yang jelas, fondasi ekonomi kita tidak berubah. Bahkan akan semakin cepat, karena kita semakin serius memperbaiki kendala-kendala di perekonomian," tutup Purbaya.