periskop.id - Sebanyak 30.000 calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan (KopDes/Kel) Merah Putih diwajibkan menjalani Pelatihan Dasar Kemiliteran Komponen Cadangan (Komcad) pada 17 Juni hingga 16 Juli 2026 sebelum ditugaskan ke desa masing-masing. Peserta yang lolos seleksi tidak langsung bertugas mengelola koperasi, melainkan harus menuntaskan pendidikan di 67 titik fasilitas milik Kementerian Pertahanan selama sekitar 1,5 bulan.
Kebijakan itu menuai kritik dari Anggota Komisi VI DPR Fraksi PDI Perjuangan Darmadi Durianto, yang meragukan kualitas rekrutmen puluhan ribu manajer koperasi dalam waktu sesingkat itu.
"Proses rekrutmen mendadak 30.000 itu nonsens, berkualitas itu nonsens. 30.000 berkualitas manajer dalam sekejap, itu tidak masuk akal. Proses waktu yang mepet-mepet seperti ini akan melahirkan banyak masalah biasanya," kata Darmadi dalam rapat kerja Komisi VI DPR bersama Kementerian Koperasi.
Menteri Koperasi Ferry Juliantono membenarkan skema pelatihan Komcad tersebut dan menilainya penting untuk membentuk karakter para calon manajer. Menurutnya, program itu dirancang untuk menanamkan kedisiplinan, kepemimpinan, dan semangat bela negara.
"Latihan fisik, kepemimpinan, bela negara itu kan wajib juga. Tidak apa-apa, kok, baik-baik saja," ujar Ferry saat ditemui usai rapat.
Ketika ditanya soal korelasi pelatihan militer dengan tugas mengelola koperasi, Ferry menegaskan kemampuan kepemimpinan dan pembentukan karakter tetap relevan. "Oh iya, ada dong. Pengetahuan tentang kepemimpinan, fisik, itu kan perlu. Di mana-mana juga harusnya begitu," tambahnya.
Ferry juga menyebut program rekrutmen ini merupakan amanat langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Ia optimistis para peserta, termasuk yang berlatar belakang fresh graduate, mampu menjalankan tugas pengelolaan koperasi.
Wakil Menteri Koperasi Farida Farichah memaparkan, proses seleksi dijalankan secara terbuka melalui Panitia Seleksi Nasional yang melibatkan sejumlah kementerian dan lembaga. Tercatat lebih dari 600.000 orang mendaftar, sekitar 400.000 di antaranya mengikuti tes tahap pertama, dan 101.000 dinyatakan lolos. Setelah tes kesehatan dan mental ideologi, peserta yang tersisa mencapai sekitar 62.000 orang.
"Dari 62.000 itu, tahap pertama kita akan melakukan rekrutmen 35.000 — 30.000 adalah koperasi desa Merah Putih, 5.000 manajer dan pegawai di Kampung Nelayan Merah Putih," kata Farida.
Para ekonom menilai pelatihan militer bukan kompetensi yang paling mendesak untuk manajer koperasi. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal menyebut pelatihan Komcad boleh saja diberikan sebagai tambahan, tetapi tidak boleh menggeser prioritas pelatihan bisnis dan manajemen.
"Kalau ingin membuat pelatihan dasar kemiliteran untuk manajer ini, ya itu sebagai tambahan bisa. Tetapi jangan lupa bahwa pelatihan yang lebih penting adalah yang terkait langsung dengan manajemen dan pengelolaan koperasi," kata Faisal.
Pandangan senada disampaikan Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M. Rizal Taufikurahman. Ia menilai keberhasilan koperasi jauh lebih ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia, tata kelola, dan kemampuan menjalankan bisnis secara berkelanjutan.
Di sisi lain, program KopDes Merah Putih masih menghadapi tantangan di lapangan. Dari sekitar 83.000 koperasi yang sudah rampung proses pembentukan badan hukumnya, baru 12.533 unit yang menyelesaikan pembangunan fisik secara penuh, sementara 22.737 unit masih dalam pengerjaan. Pemerintah juga menghadapi kendala ketersediaan lahan, terutama di wilayah perkotaan, sehingga target operasional tahun ini dipangkas dari 80.000 menjadi 40.000 unit.
"Karakter tersebut penting sebagai pondasi etos kerja, namun sifatnya lebih sebagai pendukung (soft skills) dibandingkan kompetensi utama yang dibutuhkan untuk mengelola sebuah lembaga ekonomi," pungkas Rizal.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar