Periskop.id – PT Danantara Asset Management resmi mengambil alih pengendalian empat perusahaan manajer investasi BUMN yang secara kolektif mengelola dana lebih dari Rp170 triliun. Keempat perusahaan tersebut ditargetkan melebur dalam satu entitas baru dalam waktu satu bulan.

Pengambilalihan dilakukan melalui penandatanganan Share Purchase Agreement atau Perjanjian Pembelian Saham atas PT Mandiri Manajemen Investasi, PT BRI Manajemen Investasi, PT BNI Asset Management, dan PT PNM Investment Management pada Rabu (22/7).

Transaksi tersebut menandai beralihnya pengendalian keempat manajer investasi kepada Danantara Asset Management. Merger menjadi tahap berikutnya dalam agenda perampingan dan konsolidasi perusahaan BUMN yang memiliki kegiatan usaha serupa.

Chief Operating Officer Danantara Indonesia Dony Oskaria mengatakan konsolidasi dirancang untuk membentuk kekuatan baru dalam industri pengelolaan investasi nasional.

"Ini merupakan langkah besar untuk memperkuat industri manajemen investasi nasional. Keempat perusahaan ini memiliki pengalaman, jaringan, dan kapabilitas yang kuat, serta secara kolektif mengelola dana lebih dari Rp170 triliun," ujar Dony.

"Dalam satu bulan ke depan, keempat asset management ini akan melakukan merger menjadi satu perusahaan manajemen aset terbesar di Indonesia. Proses ini merupakan bagian dari streamlining yang sedang dilakukan oleh Danantara Indonesia,” ujar Dony.

Dana Kelolaan Setara Sekitar 16 Persen Industri

Dana kelolaan atau asset under management merupakan total nilai pasar aset milik nasabah yang dikelola perusahaan investasi. Dengan AUM lebih dari Rp170 triliun, entitas hasil merger akan langsung memiliki skala besar di pasar nasional.

Sebagai perbandingan, Otoritas Jasa Keuangan mencatat total AUM industri pengelolaan investasi mencapai Rp1.049,84 triliun per 29 Mei 2026. Jika dibandingkan secara sederhana, dana kelolaan gabungan empat perusahaan BUMN itu setara sekitar 16% dari keseluruhan AUM industri.

BRI Manajemen Investasi membukukan AUM Rp52,61 triliun per Juni 2026. Pada periode yang sama, BNI Asset Management mengelola Rp29,59 triliun, sedangkan PNM Investment Management memiliki dana kelolaan Rp10,31 triliun. Mandiri Manajemen Investasi melengkapi total kolektif keempat perusahaan hingga melampaui Rp170 triliun.

Direktur Utama Mandiri Manajemen Investasi Hardiyanto Pilia menilai penggabungan dibutuhkan untuk memperkuat skala usaha, tata kelola, serta kepercayaan investor.

"Konsolidasi ini merupakan langkah strategis untuk membangun institusi manajemen investasi nasional yang memiliki skala, kapabilitas, dan tata kelola yang semakin kuat. Berbekal pondasi tersebut, kami optimistis industri manajemen investasi Indonesia akan semakin kompetitif dan mampu memperkuat kepercayaan investor, baik di tingkat domestik maupun global," ujar Hardiyanto.

Pengalihan kepemilikan juga mencakup 65% saham BRI Manajemen Investasi kepada DAM. Sementara itu, sebanyak 99,999 persen saham PNM Investment Management dialihkan dengan nilai transaksi Rp345 miliar. Pengalihan saham Mandiri Manajemen Investasi dan BNI Asset Management turut dilakukan melalui penandatanganan akta jual beli saham.

Incar Pasar Ritel dan Institusi

Perusahaan hasil merger akan menyasar investor ritel melalui pengembangan produk investasi tematik dan pemanfaatan jaringan distribusi bank-bank Himpunan Bank Milik Negara. Di segmen institusi, entitas baru akan memperluas basis nasabah dan menawarkan solusi pengelolaan investasi kepada perusahaan, dana pensiun, asuransi, serta lembaga domestik lainnya.

Direktur Utama BRI Manajemen Investasi Arief Budiman mengatakan jaringan bank dan basis nasabah ritel menjadi modal untuk memperluas distribusi produk.

“Dengan kekuatan jaringan distribusi dan basis investor ritel yang terus berkembang, penggabungan ini akan memperluas akses masyarakat terhadap produk investasi yang terpercaya sekaligus mempercepat pendalaman pasar keuangan modal," ujar Arief.

Peluang tersebut ditopang pertumbuhan jumlah investor. Data OJK menunjukkan investor pasar modal Indonesia telah mencapai 24,74 juta hingga Maret 2026, bertambah 1,78 juta hanya dalam satu bulan dan tumbuh 21,51% sejak awal tahun.

BNI Asset Management akan menyumbangkan komposisi bisnis yang relatif berimbang antara investor ritel dan institusi. Sementara pengalaman PNM Investment Management dalam investasi inklusif diproyeksikan memperluas akses produk ke kelompok masyarakat yang selama ini belum banyak terjangkau layanan investasi.

Direktur Utama PNM Investment Management Ade Santoso Djajanegara menilai konsolidasi tidak hanya ditujukan untuk memperbesar bisnis.

“Kolaborasi ini menjadi langkah penting untuk membangun institusi manajer investasi yang tidak hanya semakin kuat secara bisnis, tetapi juga mampu memperluas manfaat ekonomi dan mendorong pertumbuhan yang lebih berkelanjutan," ujar Ade.

Proses integrasi akan dilakukan bertahap dengan memperhatikan prinsip kehati-hatian, kepatuhan terhadap regulasi, dan kesinambungan layanan bagi nasabah. Identitas resmi entitas baru, susunan manajemen, serta struktur produk setelah merger belum diumumkan.

Danantara menargetkan konsolidasi tersebut menghasilkan perusahaan dengan kemampuan investasi, inovasi produk, jaringan pemasaran, dan tata kelola yang lebih kuat. Tantangannya adalah memastikan skala usaha yang membesar tetap diikuti pengelolaan risiko, transparansi, dan perlindungan kepentingan investor.