Periskop.id – PT Bumi Etam Chemical (BEC) menargetkan proyek gasifikasi batu bara di Kutai Timur, Kalimantan Timur, mampu menghasilkan 2 juta ton metanol per tahun. Proyek ini disiapkan untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus memenuhi lonjakan kebutuhan metanol setelah pemerintah menerapkan mandatori biodiesel B50.
Presiden Direktur BEC Rio Supin mengatakan, substitusi impor telah menjadi tujuan utama pengembangan fasilitas coal-to-methanol tersebut. Proyek ditargetkan memasuki tahap uji coba atau commissioning pada 2029 sebelum beroperasi secara komersial pada 2030.
“Target utama kami memang dari awal adalah mensubstitusi impor metanol,” ujar Rio setelah penandatanganan kontrak Front-End Engineering Design (FEED) dan Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) Framework Agreement di Jakarta, Rabu (29/7).
Penandatanganan FEED menandai dimulainya rekayasa dasar proyek, sedangkan kerangka EPCC menjadi fondasi menuju tahap konstruksi. Proyek tersebut dikembangkan BEC bersama PT Istana Karang Laut dan China National Chemical Engineering Co., Ltd. BEC sendiri dimiliki PT Kaltim Prima Coal dan PT Arutmin Indonesia dengan porsi masing-masing 50 persen.
Impor Metanol Habiskan Devisa Rp7,1 Triliun
Berdasarkan paparan BEC, kebutuhan metanol Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 1,9 juta ton. Sebanyak 68 persen atau sekitar 1,3 juta ton masih dipenuhi melalui impor, dengan nilai mencapai US$400 juta atau setara Rp7,1 triliun dalam setahun.
Ketergantungan itu diperkirakan semakin besar setelah kebutuhan bahan baku biodiesel meningkat. Metanol digunakan dalam proses pengolahan minyak nabati menjadi fatty acid methyl ester atau FAME, komponen yang kemudian dicampurkan dengan solar.
“Di mana 68 persennya saat ini adalah impor atau sekitar 1,3 juta ton. Tahun 2025, secara devisa, Indonesia menghabiskan US$400 juta per tahun untuk impor metanol. Setara dengan Rp7,1 triliun,” ujar Rio.
Ia menjelaskan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga metanol pada 2026. Kondisi tersebut meningkatkan risiko biaya impor sekaligus memperkuat alasan perusahaan memilih metanol sebagai produk utama hilirisasi batu bara.
“Hal inilah yang mendasari pilihan kami kepada produk metanol dibandingkan dengan produk lain yang dapat dihasilkan dari gasifikasi batu bara ini,” kata Rio pula.
Investasi Proyek Capai US$2,3 Miliar
Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat nilai investasi proyek BEC mencapai US$2,3 miliar. Fasilitas tersebut diproyeksikan mengolah sekitar 7,78 juta metrik ton batu bara berkalori rendah setiap tahun untuk menghasilkan 2 juta ton metanol.
“Kami juga menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya atas investasi yang sebesar 2,3 miliar dolar AS yang nantinya akan direalisasikan dalam proyek ini,” ujar Direktur Hilirisasi Mineral dan Batu Bara BKPM Rizwan Aryadi Ramadhan.
Dalam pengembangan jangka panjang, Arutmin dan KPC berkomitmen meningkatkan kapasitas produksi secara bertahap hingga 3,6 juta ton metanol per tahun. Adapun lokasi proyek berada di kawasan industri Bengalon, Kutai Timur, dan telah masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional.
“Dengan proyek ini, tentu saja kita dapat menghemat devisa, dalam hal ini kita bisa menekan defisit bagi Indonesia,” ujar Rio.
B50 Dongkrak Kebutuhan Metanol
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia sebelumnya menyatakan kebutuhan metanol untuk mendukung program B50 diperkirakan mencapai 2,5 juta ton per tahun.
“Metanolnya kami butuh, hanya untuk B50, itu sekitar 2,5 juta ton per tahun. Maka, langkah berikutnya adalah kami mendorong untuk segera membangun industri metanol,” ujar Bahlil.
Kebutuhan biodiesel setelah penerapan B50 diproyeksikan meningkat menjadi 16,7 juta hingga 18 juta kiloliter per tahun. Kebutuhan minyak sawit mentah atau CPO juga naik dari 13,6 juta ton pada program B40 menjadi sekitar 15,2 juta hingga 16,3 juta ton.
Pupuk Indonesia memperkirakan kebutuhan metanol nasional setelah B50 dapat mencapai sekitar 2,9 juta ton. Tanpa tambahan produksi domestik, impor berpotensi naik dari 1,4 juta menjadi 2,5 juta ton. Dengan demikian, kapasitas awal pabrik BEC sebesar 2 juta ton dapat memangkas sebagian besar kebutuhan impor, tetapi belum tentu menutup seluruh permintaan nasional sendirian.
Meski menawarkan penghematan devisa dan nilai tambah batu bara, proyek gasifikasi juga menghadapi sejumlah tantangan. Kementerian ESDM mencatat hilirisasi batu bara membutuhkan investasi besar, teknologi yang memadai, dukungan regulasi, penyelesaian perizinan lintas lembaga, serta pengelolaan emisi karbon.
Karena itu, keberhasilan proyek BEC tidak hanya ditentukan oleh tercapainya target produksi, tetapi juga keekonomian, kepastian pasar, transfer teknologi, dan penerapan standar lingkungan selama pembangunan hingga pengoperasian pabrik.
Tinggalkan Komentar
Komentar